
Setelah sepakat, Samantha dan Alicia sama-sama keluar dari kamar Gerald. Mereka berusaha terlihat tenang saat berjalan menuju ruang rapat. Rencana sudah tersusun rapi di kepala mereka dan yakin akan berhasil.
“Sudah selesai?” tanya Wilson yang menyambut dua wanita itu dengan sumeringah.
“Ya,” Samantha mendekat pada pria itu lalu mengambil garpu untuk mencicipi pasta yang dibuat oleh Wilson.
“Cobalah, ini sangat enak.” Wilson mendekatkan pasta itu pada Samantha.
“Tentu,” Samantha melilit pasta itu dengan garpunya lalu merundukkan kepalanya agar mendekat pada piring yang sengaja ia biarkan berada di hadapan Wilson. Helaian rambutnya yang panjang ikut turun, menutupi wajahnya.
Samantha memasukkan pasta itu ke mulutnya dengan tatapan yang tertuju pada Wilson, setengah menggoda. Wilson menyibak rambut Samantha yang menutupi wajah cantik wanita itu seraya tersenyum kecil.
“Emmhh, ini sangat enak Wilson,” suara Samantha di buat sedikit berat. Ia bahkan mengedipkan matanya pada pria itu.
“Benarkah?” Wilson dengan antusias menimpali. Belahan dada Samantha yang terlihat di depan matanya membuat pria ini menelan salivanya kasar-kasar.
“Ya, cobalah.” Samantha sengaja menjilat sisa pasta yang ada di sudut bibirnya dan Wilson mengusapnya pelan, lalu menjilat sisa saus pasta dari sudut bibir Samantha. Samantha tersenyum kecil, ia sedikit yakin kalau laki-laki ini tidak menaruh apapun di makanannya. Padahal ia sudah berniat untuk menyuapi Wilson dengan tangannya sendiri.
“Alice, boleh tinggalkan aku berdua dengan Wilson?” pinta Samantha, tanpa menoleh gadis itu. Ia hanya fokus menatap Wilson sambil mengigiti garpunya.
“Ya, pergilah Alice,” Bingo, Wilson benar-benar teralihkan.
__ADS_1
“Tentu. Selamat nikmati pastanya.” Alicia segera pergi. Ia menutup pintu ruang rapat yang hanya ada Samantha dan Wilson. Ini kesempatan bagus untuk ia masuk ke ruang kerja Wilson dan memeriksa kedua ponsel itu.
Samantha memilih duduk di atas meja. Memainkan pasta dengan garpunya lalu ia makan. Mulutnya sampai menggembung dan lelehan pasta terlihat seksi menghiasi bibirnya yang berkilauan terkena minyak pasta. Wilson begitu menikmati melihat cara Samantha mengunyah makanannya. Ia ikut menelan salivanya kasar-kasar. Ada rasa ingin *****4* bibir s3ksi itu.
“Cobalah,” kali ini Samantha menawari Wilson. Ia mengambil pasta dengan garpunya lalu menyuapi Wilson. Dengan semangat laki-laki itu membuka mulutnya lalu mengunyah pastanya.
“Rasanya lebih enak saat kamu yang menyuapiku.” Bisa-bisanya laki-laki itu menggoda Samantha.
“Harusnya kita melakukannya sejak lama.” Suara Samantha terdengar rendah dan dalam, sangat menggoda indra pendengaran Wilson.
Tiba-tiba saja tangan Wilson mengusap satu sisi pinggang Samantha, membuat gadis itu sedikit kaget, tetapi tidak berontak. Terpaksa ia harus menarik perhatian Wilson terlebih dahulu agar perhatiannya hanya pada Samantha.
“Aku akan segera membebaskanmu dari sangkar itu. Tunggulah sebentar lagi, Sam. Tunggu sampai kamu mendapatkan serial nomor di tubuh Maximo.” Wilson menatap Samantha penuh harap. Jelas sekali hasrat yang begitu menggebu saat ia menatap sepasang mata bening itu.
“Entahlah. Cobalah untuk masuk ke kamar mandi laki-laki itu saat dia sedang mandi. Kamu berendam di dalam bath tube dan tanggalkan semua pakaianmu. Aku yakin dia akan tergoda,” ucap Wilson seraya menelusur lengan atas Samantha hingga ke bawah dengan telunjuknya. Imajinasinya benar-benar bermain, membayangkan Samantha melakukan apa yang ia arahkan. Pikirnya wanita ini pasti kesepian karena Maximo mengabaikannya.
“Sepertinya kamu sangat yakin,”
“Hem,” Wilson mengangguk pasti. “Pesonamu sangat kuat, Sam. Mungkin hanya kurang berani saja mendekat pada laki-laki itu dan membuatnya mabuk kepayang,” imbuh Wilson.
“Kamu sangat menyanjungku, membuatku cukup percaya diri. Idemu cukup bagus, aku akan mencobanya.” Samantha mengiyakannya.
__ADS_1
“Sam, kamu mau minum?” tanya seseorang yang muncul di balik pintu. Adalah Alicia yang terlihat. Sepertinya gadis itu sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Ya, aku mau minum. Aku mau buat jus, temani aku Alice,” Samantha beranjak dari tempatnya. Ia menggenggam tangan Wilson beberapa saat, lantas mengedipkan matanya dengan genit. Lihat juga senyumnya yang menawan. "Tunggu aku, Wilson," imbuhnya sebelum berlalu pergi.
Wilson mengangguk pasti, tentu ia akan menunggu Samantha. Membuat jus tidaklah lama.
Dua wanita itu segera masuk ke dapur dan menutup pintu. "Bagaimana, apa kamu menemukannya?" Samantha bertanya dengan penasaran.
Alicia tidak menjawab, ia memberikan satu ponsel pada Samantha dan menunjukkan halaman pesan yang dimaksud gadis itu. "Benar bukan, mereka berkomunikasi? Dugaanku sangat tepat, Alice." Samantha tersenyum puas.
"Ya, dugaanmu sangat tepat. Tapi sayangnya, ponsel itu milik Gerald, bukan Wilson." Alicia berujar dengan tegas.
"APA?!" Samantha terhenyak kaget sampai melotot.
"Ya, ponsel itu milik Gerald dan isi pesan Wilson kosong." Alicia memperjelas ucapannya.
"Bagaimana kamu bisa membukanya? Ponsel ini memakai kode sandi." Samantha menatap Alicia tidak mengerti.
"Iya, memang menggunakan sandi, tapi Gerald memberitahuku. Hanya aku. Kode sandinya, 3188," tegas Alicia.
"Sial!" dengus Samantha. Selama ini Samantha tidak tahu kalau kode sandi itu yang menjadi passcode ponselnya.
__ADS_1
Samantha terdiam sejenak, rasanya ia teringat pada empat kode sandi yang tampak mirip. 3242, milik Maximo. Samantha memejamkan matanya, ia mengingat persis kalau Maximo pernah mengatakan bahwa setiap anak angkat Cortez memiliki kode di pinggangnya. Tetapi Samantha tahu persis kalau Gerald tidak memiliki kode itu. Lantas kode itu milik siapa?
*****