Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Mengigau


__ADS_3

Kepulangan Crystal membuat Maximo sedikit berpikir tentang apa yang ia bicarakan dengan Crystal. Ia juga masih bertanya-tanya dari mana Crystal tahu kalau ia mengadakan pertemuan dengan para tetua. Yang saat itu hadir adalah empat orang tetua yang memiliki kedekatan yang cukup erat dengannya dan mendiang Cortez. Mereka juga paham kalau mereka melakukan hal yang tidak-tidak padanya atau mengkhianati Maximo, maka bisnis dan nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.


Maximo merasa kalau para tetua itu tidak akan seberani itu mencari masalah dengannya. Lalu siapa yang membocorkan pertemuan itu? Berbekal rasa penasaran itu, Maximo segera memanggil pengawal yang berjaga didepan kamarnya.


“Iya tuan,” pengawal itu segera masuk setelah Maximo memanggilnya.


“Suruh Paul kemari, aku ingin berbicara dengannya,” titah Maximo dengan serius.


“Baik, tuan.” Pengawal itupun patuh pada perintah. Ia segera berlalu untuk memanggilkan Paul.


Sambil menunggu kedatangan Paul, Maximo memeriksa beberapa berkas yang ada dimejanya. Peta jalur perdagangan dan beberapa kerjasama tertulis dengan kelompok mafia lain.


“Akh sial!” ia tidak bisa berkonsentrasi. Antara ingin segera menyelesaikan masalahnya dan ingin segera menemui Samantha bercampur baur didalam pikirannya. Entah mana yang harus ia dahulukan.


“Selamat malam tuan,” suara Paul terdengar dipintu.


“Astaga!” Maximo sampai terhenyak melihat mata Paul yang masih bengkak dan kebiruan. Korneanya juga merah bekas terkena hantaman stick golf Samantha. Pantas saja Samantha merasa bersalah pada orang ini.


“Jangan menakutiku seperti itu!” protes Maximo yang masih memegangi dadanya yang berdegub kencang seperti habis menonton serial zombie dan sekarang sosoknya berdiri tegak dihadapannya.


“Saya tidak bermaksud menakuti Anda tuan, wajah saya memang seperti ini.” Paul dengan mukanya yang pasrah dan lebam.


Alih-alih menatap Paul, Maximo memilih untuk berbalik. Antara kasihan dan ingin tertawa melihat wajah Paul yang hancur begitu. Air mata terus menetes disudut matanya yang bengkak.


“Kenapa kamu tidak mengobati matamu?” Maximo bertanya sambil menahan tawa.


“Saya sudah mengobatinya tuan, saya juga mengompresnya. Tapi mata saya sangat gatal dan perih sehingga saya tidak bisa tidur. Hal itu yang membuat penyembuhan luka saya melambat.” Paul memberikan penjelasan.


Maximo menarik napasnya dalam untuk menetralisir perasaannya. Meski sudah bisa menahan tawa, tetapi ia tetap menundukkan kepala saat berhadapan dengan Paul.


“Crystal mengetahui kalau kita melakukan pertemuan dengan para tetua. Menurutmu siapa yang membocorkan pertemuan kita?” Maximo membutuhkan pendapat Paul.

__ADS_1


“Bagaimana nona Crystal bisa tahu, tuan?” Paul malah balik bertanya.


“Jangan bercanda Paul, kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya.” Maximo berujar ketus pada laki-laki itu.


“Maafkan saya tuan.” Paul hanya bisa meminta maaf.


“Aku merasa kalau diantara tetua itu ada yang bekerja sama dengan William dan memberitahu William tentang pertemuan kita. Seperti yang kita tahu kalau William melarangku untuk mencari para Maximo palsu, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin rahasianya terbongkar. Atau mungkin dia sendiri memiliki beberapa orang Maximo palsu untuk membuat onar dan menyerangku diam-diam.” Maximo mulai berasumsi.


“Perlu saya selidiki tuan?” Paul kembali bertanya.


Maximo menatap Paul beberapa saat. Ia merasa kasihan juga dengan orang kepercayaannya ini.


“Atur orang untuk mencari tahu. Kamu tidak perlu turun langsung sebelum kondisimu membaik. Sekarang beristirahatlah.” Baru kali ini Maximo menepuk bahu Paul, sesuatu yang tidak pernah tuannya lakukan yaitu berempati pada orang lain.


“Baik tuan.” Paul mengangguk pelan. Rasa sakit dimatanya sedikit terobati dengan perhatian tuan besarnya.


Setelah pembicaraan itu, mereka sama-sama keluar dari ruang kerja Maximo. pPul pergi ke arah kanan sementara Maximo ke arah kiri.


“Oh ya,” Maximo pura-pura lupa dan segera mengikuti arah Paul sambil mengguyar rambutnya dengan kasar. Sebenarnya ia memang tidak berniat pergi ke kamarnya melainkan ingin pergi ke kamar Samantha, tetapi untuk sementara ia mengikuti Paul agar laki-laki ini tidak terus waspada terhadapnya.


“Pergilah!” usir Maximo saat mereka sudah ada didepan pintu kamar Maximo.


“Silakan Anda masuk lebih dulu tuan.” Paul tetap melakukan tugasnya seperti biasa, memastikan tuannya masuk lebih dulu ke kamarnya sebelum ia tinggalkan.


“Ya baiklah.” Maximo terpaksa mengalah. Ia masuk ke kamarnya dan segera menutup pintu. Tetapi, ia tidak langsung pergi ke atas tempat tidurnya, melainkan berdiri didepan pintu dan mencuri dengar kepergian Paul. Suara derap kakinya semakin lama semakin menjauh dan lama-lama tidak terdengar.


“Sudah aman,” gumam Maximo. Ia membuka pintunya sedikit lalu mengintip. Ia Ingin tahu apakah Paul sudah benar-benar pergi atau tidak.


Benar saja, laki-laki itu sudah pergi dan Maximo bergegas keluar dari kamarnya. Mengendap-endap sambil memperhatikan arah kiri dan kanan, khawatir Paul masih berkeliaran. Tetapi ternyata semuanya sudah aman. Maximo segera berlari kecil menuju kamar Samantha. Ia merapikan penampilannya beberapa saat sebelum mengetuk pintu kamar Samantha.


“Sam, aku Maximo.” Suara laki-laki itu terdengar jelas. Tidak ada sahutan dari dalam dan membuat Maximo terpaksa memutar handle pintu untuk melihat ke dalam.

__ADS_1


Ternyata Samantha sudah terbaring di ranjangnya, membelakangi pintu kamar. Pria itu memutuskan untuk masuk, ia ingin melihat Samantha sebelum tidur. Pelan-pelan ia duduk diatas tempat tidur Samantha.


”Sam,” panggilnya.


Samantha tidak bergeming dan membuat Maximo semakin penasaran untuk mendekat. Bagaimana bisa gadis ini tidur begitu saja padahal ia sudah meminta Maximo untuk menyusulnya?


Tiba-tiba saja Samantha berbalik dan tidur telantang. Maximo kaget sendiri dan tercengang saat melihat gaun tidur Samantha yang sedikit terangkat di atas pahanya. Meski cahaya kamar Samantha temarang, namun kaki putih itu masih sangat terlihat jelas.


“Sam,” lagi Maximo memanggil, pelan-pelan ia bergerak ke tengah ranjang. “Boleh aku menginap disini?” tanya laki-laki itu. Ia mengusap wajah Samantha dengan halus dan Samantha tidak menimpalinya.


“Tidak menjawab berarti boleh. Jawab aku kalau memang tidak boleh.” Maximo berbicara sendiri.


Tentu saja Samantha tidak menjawab karena ia sudah terlelap. Dengan alasan Samantha yang tidak manjawab, akhirnya Maximo memutuskan untuk membaringkan tubuhnya disamping Samantha. Jantungnya berdebar sangat kencang karena jaraknya dengan Samantha sangat dekat.


Ia memberanikan diri untuk mengusap wajah Samantha dan ternyata Samantha malah semakin mendekat padanya, mungkin nyaman dengan usapan Maximo. Tangan Samantha bahkan memeluknya membuat jantung Maximo berdebar sangar kencang. Terlebih napas Samantha juga terdengar menderu didekatnya, sangat menggairahkan untuknya.


“Akh, harusnya aku tidak datang ke sini. Aku malah membuat diriku sendiri tidak bisa tidur.” Maximo memukul-mukul jidatnya sendiri karena menyesal.


“Max,” tiba-tiba saja Samantha bersuara.


Mata Maximo langsung membulat kaget. “Ya, aku disini. Kamu merindukanku?” laki-laki bertanya dengan penuh percaya diri.


Samantha tidak lagi menimpali, malah tersenyum entah karena alasan apa.


"Apa kamu mimpi indah, Sam?" Maximo membelai-belai rambut Samantha dan gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Maximo.


"Ini tidak adil. Mana mungkin aku membiarkanmu memelukku sementara aku tegang begini?" Maximo berceloteh sendiri. Ia memiringkan tubuhnya dan tidur berhadapan dengan Samantha. Sesekali ia sengaja mendekatkan wajahnya pada Samantha demi bisa merasakan hawa napas Samantha meniup wajahnya. Iseng juga ia mencium bibir Samantha dan gadis itu hanya tersenyum dalam mimpinya. Ia sangat ingin melakukan lebih tetapi tidak tega membangunkan Samantha yang sudah terlelap.


Akhirnya ia hanya bisa membalas pelukan Samantha, dengan melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.


"Segala sesuatu harus adil, Sam." Dengar, dia beralasan. Padahal ia menikmati memeluk Samantha seperti ini. Terdengar hembusan kasar napas Maximo, membuang rasa kecewa karena gagal melanjutkan apa yang tadi ia lakukan dengan Samantha.

__ADS_1


*****


__ADS_2