Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kenalan lama


__ADS_3

Panasnya pergulatan semalam, masih berlanjut hingga pagi hari. Di balik kaca toilet yang transparan masih terlihat Maximo dan Samantha yang bergumul penuh gairah. Laki-laki itu menggendong Samantha di depan tubuhnya, sementara Samantha bersandar pada dinding kamar mandi, mel3nguh dan terenggah saat hentakan tubuh Maximo makin cepat dan kuat mengguncang tubuhnya.


Siraman air shower membasahi tubuh keduanya saat mereka berpelukan setelah pel3pasan terakhir. Tubuh berpeluh itu di basuh bersama-sama sambil sesekali berciuman dan tertawa kecil penuh kebahagiaan. Ini kebersamaan paling lama dan int!m untuk dua orang ini.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, dua orang ini pergi untuk sarapan. Orang-orang sudah memenuhi area resto dan suara pengunjung terdengar cukup ramai. Ada suara musik yang menyambut dan menghangatkan kebersamaan mereka.


“Aku jawab telepon dulu, kamu lanjutkan sarapannya,” ujar Maximo saat ponselnya berdering.


“Hem,” Samantha menganggukinya. Maximo berlalu pergi sementara Samantha melanjutkan untuk membuat kopi untuknya dan Maximo. Dia lebih suka meramu sendiri minuman hitam ini daripada di sediakan oleh pelayan.


Sambil menunggu Maximo, Samantha sarapan seorang diri. Dia menikmati pancake kesukaannya yang di siram dengan madu dan di beri sedikit cream strawberry yang membuat makanan itu makin istimewa. Kemilau ombak yang terkena cahaya matahari pagi benar-benar menyempurnakan pagi ini. Helaian rambut wanita itu melambai-lambai terkena hembusan angin yang cukup kencang. Samantha memang sengaja memilih meja di pinggir kapal, agar bisa melihat lumba-lumba yang berenang berkejaran dengan kawanannya. Tegukan kopi pun terasa nikmat.


“Jelena?” Sebuah suara mengagetkan Samantha dan gadis itu refleks menoleh. Di balik kacamata hitam, matanya membulat kaget saat melihat seseorang yang menyapanya dari belakang. Kalian bisa menebak? Ya, dia Slavyk.


Samantha cukup terkejut dengan keberadaan laki-laki itu di kapal pesiar yang sama. Meskipun begitu, Samantha tetap berusaha tenang dalam menghadapi Slavyk yang tersenyum kecil padanya.


“Maaf, Anda mencari siapa?” Samantha bertanya sambil melepas kacamata hitam dan menempatkannya di atas kepala.


“Oh, maaf. Saya pikir Anda seseorang yang saya kenal.” Entah sungguh-sungguh atau hanya pancingan, kalimat yang diucapkan oleh Slavyk.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Sungguh, Samantha sedang berpura-pura bodoh dan lupa. Ketara kah?


“Ya, kita pernah bertemu di Bandara. Saya masih saja salah mengenali Anda. Karena saya pikir, Anda kenalan saya. Kalian cukup mirip.” Slavyk tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


“Oh begitu. Jadi Anda belum bertemu dengan orang yang Anda cari?” Samantha memutuskan untuk melanjutkan usaha berpura-pura bodohnya.


“Sepertinya begitu. Dia melarikan diri padahal sudah berjanji akan menjamu sama makan siang.” Kalimat Slavyk saat ini terdengar seperti sindiran.


“Sayang sekali. Semoga Anda bisa segera bertemu kembali dengan gadis itu.” Ekspresi Samantha cukup mendukung untuk pura-pura berempati.


“Ya, semoga. Oh ya, kita belum berkenalan dengan benar. Saya Slavyk, boleh saya duduk?” Laki-laki berwajah khas Rusia itu mengulurkan tangannya pada Samantha.

__ADS_1


“Oh ya, silakan. Saya Samantha.” Kali ini tidak mungkin ia menolak perkenalan ini, bukan?


Slavyk mengangguk pelan seraya tersenyum. Ia memperhatikan cincin yang dikenakan Samantha, mirip dengan cincin yang dipakai wanita bernama Jelena itu. Dan Samantha menyadari hal itu. Hah, laki-laki ini memang sangat teliti. Harusnya ia melepas cincin pemberian Gerald ini. Cepat-cepat Samantha melepas gengaman tangan Slavyk.


“Terakhir saya melihat Anda dengan suami Anda. Di mana dia sekarang?” Slavyk benar-benar menguji kejujuran Samantha. Padahal sejak semalam ia sudah melihat Samantha yang berdansa dengan Maximo. Dia melihat ke sekeliling untuk mencari laki-laki yang waktu itu di rangkul Samantha dengan asal.


"Thor, bisakah laki-laki ini di buat Amnesia saja?" Samantha mulai bingung.


“Oh, dia sedang menerima telepon. Dengan suamiku yang sebelumnya, aku sudah berpisah, kami memutuskan untuk tidak lagi bersama.” Samantha berpura-pura sedih dengan wajah sendu dan tangannya yang mengusap dada agar bersabar.


“Sayang sekali. Tapi Anda hebat sekali bisa segera menemukan pasangan baru.” Entah pujian atau sindiran, Samantha tidak peduli.


“Ya, karena hidup harus tetap berjalan tuan Slavyk. Tidak ada gunanya menyesali masa lalu.” Samantha menimpali dengan ringan. Slavyk tersenyum kecil mendengar jawaban cerdas Samantha. Semua hal yang ada pada diri Samantha benar-benar mengingatkannya pada gadis bertopeng yang membuatnya terpesona. Karena hal itu juga ia memutuskan untuk bepergian ke banyak tempat untuk mencari wanita itu, salah satunya Los Angeles. Entah dunia yang memang sempit atau Slavyk yang beruntung. Yang jelas, pertemuan kalian karena Aku. ;)


“Oh, itu suamiku.” Samantha mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Maximo yang baru selesai bertelepon. Ia tersenyum menyambut kedatangan Maximo yang tampak bingung melihat kehadiran seseorang di tempatnya.


“Beliau tuan Slavyk. Kami pernah bertemu di Bandara. Tuan Slavyk perkenalkan, ini lelakiku,” Samantha segera memperkenalkan.


“Maximo.” Maximo menjawabnya dengan Jantan. Membanggakan di sebut sebagai lelakinya Samantha. Ia tahu persis kalau Samantha pasti sedang ketar ketir.


“Oh, Anda tuan Maximo?” Slavyk tampak sedikit terkejut.


“Ya, Anda pasti sering mendengar nama itu. Saya salah satu pemilik nama itu. Nama kebanggan bagi para pria pengecut, kecuali saya.” Maximo tersenyum sinis lantas duduk di samping Samantha dan menatap tajam laki-laki di dekatnya. Tidak suka dengan tatapan penuh ketertarikan pada wanitanya.


Slavyk hanya tersenyum entah apa arti dari senyuman itu. “Sepertinya saya mengganggu acara sarapan kalian.” Laki-laki itu hendak beranjak, karena merasa berurusan dengan orang yang salah.


“Tidak masalah, duduklah. Kita bisa sarapan sama-sama.” Maximo tampak santai saja, membuat Samantha menatap laki-laki itu dengan tidak mengerti.


Slavyk yang hendak beranjakpun urung pergi, ia menatap heran pada Samantha dan Maximo, walau tetap dengan usahanya untuk tersenyum.


“Penduduk Los Angeles terkenal ramah, sepertinya itu benar,” ucap Slavyk sebagai pembuka obrolan.

__ADS_1


“Saya pikir Anda juga dari Los Angeles?” Maximo tetap dengan gayanya yang tenang. Mengambil pancake yang sudah di siapkan Samantha dan mulai menikmatinya.


“Tidak, saya dari Rusia. Saya datang ke sini untuk mencari seseorang.” Sempat-sempatnya Slavyk melirik Samantha, membuat gadis itu tersenyum kelu.


“Siapa yang Anda cari? Banyak orang besar di sini.” Maximo menggunakan moment ini dengan tepat. Ia yakin, kedatangan Slavyk bukan hanya sekadar untuk mencari Samantha.


“Di kota ini saya hanya mengenal beberapa orang saja. Salah satunya tuan Maximo, tetapi bukan Anda.”


“Oh ya, di mana beliau tinggal? Mungkin saja aku mengenalnya. Kami pernah bertemu di sebuah acara yang mengumpulkan semua orang bernama Maximo, jumlahnya ratusan.”


Samantha menatap Maximo dengan tidak percaya, sepertinya laki-laki ini sedang memancing Slavyk.


“Kami tidak dekat secara pribadi, tidak sampai bertukar alamat. Kami hanya pernah bertemu di salah satu club besar untuk sebuah transaksi.”


“Anda berbisnis juga?” pertanyaan Maximo semakin mengerucut.


“Ya, bisnis obat-obatan. Anda bisa menghubungi saya kalau Anda memerlukan obat-obatan.” Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kartu nama, Samantha melihatnya sejenak. Nama yang tercantum di kartu nama itu berbeda.


“Oh maaf, saya salah memberikan kartu nama.” Slavyk mengambilnya kembali karena nama yang tercantum sebelumnya tertulis nama Michael.


“Tidak masalah.” Maximo mengambil kartu nama itu dan sedikit melirik Samantha. Sepertinya ia ingin memastikan kalau Samantha melihat nama yang tertera di kartu nama sebelumnya.


“Kamu membawa kartu namaku, sayang?” pertanyaan itu ditujukan Maximo pada wanitanya.


“Tidak, sayang. Karena aku pikir kita tidak akan bertemu orang besar seperti tuan Slavyk.” Samantha menjawab dengan sejujurnya.


“Tidak masalah. Lain kali kita bisa bertemu lagi dan Anda bisa memberi saya kartu nama. Saya permisi dulu, silakan lanjutkan sarapan Anda.” Slavyk pun beranjak dan mengangguk sopan pada Maximo juga Samantha.


Dua orang itu membalasnya, lantas membiarkan Slavyk pergi begitu saja. Di tempatnya, Samantha dan Maximo sama-sama berpikir, siapa Michael yang di kenal Slavyk?


****

__ADS_1


__ADS_2