
“Brengsek! Brengsek! Brengsek!” seru William setelah mengakhiri panggilannya dengan Maximo. Laki-laki itu meradang bukan kepalang saat tahu kalau putrinya diracuni oleh Maximo. Ia tahu persis alasan Maximo yang ingin melampiaskan dendamnya setelah beberapa waktu lalu Maximo datang ke tempatnya dan bertanya tentang racun trycyclon.
Ia memang mengetahui kalau racun itu ada. Tetapi ia tidak pernah memilikinya apalagi menggunakannya pada Maximo.
“Seseorang sedang melakukan konspirasi terhadapku dan Maximo. Dia jelas-jelas ingin membuatku dan Maximo berseteru.” Laki-laki itu mengepalkan tangannya penuh kemarahan. Bukan hanya pada Maximo, juga pada pihak ketiga yang membuat hubungannya dengan Maximo semakin memanas.
Sambil memikirkan siapa pelaku konspirasi ini, William mencoba menghubungi kenalannya. Ia harus segera mendapatkan obat penawar untuk putrinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Crystal saat ini. Ada satu orang yang ia pikir memiliki pemawar racun trycyclon.
“Ya, aku William.” Suara tegas laki-laki tua itu sedikit bergetar. Matanya nanar, menatap foto dirinya dan sang putri yang terpajang di dinding.
“Beri aku obat penawar trycyclo,” pintanya selepas menelan salivanya kasar-kasar. Laki-laki itu membiarkan lawan bicara berbicara dan perlahan wajahnya tampak sendu bercampur kesal.
“AKU MEMBUTUHKANNYA SEKARANG!!!” William langsung meradang saat lawan bicaranya berusaha mengulur waktu. Laki-laki itu sampai berdiri dari tempatnya dengan tangan yang mengepal erat dan tubuh yang gemetar menahan amarah.
“YA! AKU AKAN MEMBUNUH MAXIMO UNTUKMU!” Lagi ia berteriak saat laki-laki itu mengajukan syarat untuk membantu dirinya dan putrinya.
__ADS_1
Tidak lama, panggilanpun terputus. Ia menerima sebuah pesan lokasi pertemuan dengan seseorang yang akan memberikan obat penawar trycyclo padanya. Laki-laki itu bergegas pergi dan tidak lupa membawa topi serta mantel kebanggannya. Ia harus bergegas menuju tempat itu.
Setengah jam perjalanan, terasa begitu lama bagi William. Ia melajukan mobilnya seorang diri sementara orang-orangnya berada di belakang. Ia tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang terdekatnya setelah Maximo dengan berani meracuni putrinya. Di dunia ini hanya Maximo orang yang ia percaya tidak akan menyakitinya dan keluarganya, tetapi nyatanya laki-laki itu yang saat ini menggunakan kelemahannya untuk menyerangnya.
Sebuah mobil menunggu William di sebuah basement bangunan tuan yang sudah lama terbengkalai. Ia segera turun dari mobilnya, membanting pintu dengan kasar lantas menghampiri seseorang yang duduk bersandar pada mobil sport mewahnya.
“Berikan obatnya,” pinta William saat mereka sudah berdiri berhadapan.
Laki-laki itu terdenyum kecil, menunjukkan deretan giginya yang rapi. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi topi. Setelah sekian lama berkomunikasi lewat telepon dengan pria ini, William baru tahu kalau orang yang ia ajak bicara selama ini adalah seorang pria muda dengan perawakan tinggi.
“Pastikan untuk memenuhi janjimu untuk membunuh Maximo.” Suara laki-laki itu tegas bergema di ruangan hampa ini. Terdengar penuh penekanan, seolah ia memang sangat ingin menghabisi Maximo.
“Seorang William tidak pernah ingkar janji.” William menyahuti dengan percaya diri. Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, lantas berbalik meninggalkan William.
“Hey!” panggil William dengan cukup tegas. Langkah laki-laki itupun terhenti. Ia urung membuka pintu mobilnya. “Kenapa kamu sangat membenci Maximo?” William melanjutkan pertanyaannya. Ia penasaran dengan laki-laki ini. Laki-laki yang sangat semangat untuk menghancurkan Maximo bahkan sempat melakukan penyerangan ke kediaman Maximo.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan William, laki-laki itu tersenyum. “Dia mengambil banyak hal dariku.” Hanya itu jawaban tegas yang diberikan oleh laki-laki itu, tanpa berbalik sedikitpun.
William termenung, mencoba memikirkan apa yang sebenarnya di ambil Maximo dari laki-laki ini. Hemat William, Maximo tidak pernah menyerang mafia lain untuk menunjukkan kekuasaannya. Laki-laki muda itu menunjukkan kekuasaannya dengan cara memonopoli rantai bisnis gelap di negara ini.
“Hal apa yang Maximo ambil darimu?” William masih penasaran.
Lagi, laki-laki itu tersenyum. “Sebaiknya kamu tidak banyak bertanya, agar umurmu panjang.” Jawaban tegas itu yang didapatkan William dari pria muda tersebut. Jawaban khas dari seseorang yang dulu sering ia dengar.
“Apa kamu Michael?” William semakin penasaran. Kalimat khas tadi hanya dimiliki oleh keturunan Cortez, ayah angkat dari Maximo dan Michael. Pria itu tidak menjawab, ia memilih melanjutkan langkahnya dan membuka pintu mobilnya.
Suara mesin mulai terdengar bersambutan dengan suara knalpot bising saat mobil itu berputar haluan menuju pintu keluar. Disusul oleh suara decitan rem saat mobil itu melewati lorong basement yang berkelok-kelok, tidak ubahnya seperti sedang balapan di sirkuit yang meliuk-liuk.
“Cortez, apa dia putramu?” William bertanya dalam hatinya, seolah Cortez ada di sampingnya. Ia masih melihat mobil itu berlalu hingga kemudian tidak terlihat lagi.
Tidak banyak waktu yang William miliki saat ini. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera menuju kediaman Maximo dan menyelamatkan putrinya.
__ADS_1
****