Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Pertemuan


__ADS_3

Pertemuan dengan para maximo itu dilaksanakan di sebuah hotel yang berada jauh dari perkotaan. Maximo sengaja memilih tempat itu agar ada suasana privasi antara ia dengan para tamunya. Sejak Maximo dan Samantha tiba di tempat itu, mereka sudah melihat deretan mobil mewah yang berjejer di area parkir. Para pengawal tidak dikenalpun terlihat di luaran hotel dan sedang berjaga. Entah siapa tuan mereka yang jelas satu sama lain saling waspada.


“Apa kamu tidak membawa pengawal satupun?” Samantha penasaran untuk bertanya.


“Tidak. Aku menghindari pengawalku tertangkap oleh mereka dan membuat saingan bisnisku bisa memanfaatkan mereka untuk menyerangku. Aku tahu persis bagaimana cara mereka menggali informasi dari para pengawal yang tertangkap.” Maximo berujar dengan sungguh. Sekarang Samantha paham mengapa Paul mengatakan kalau ia hanya akan menjadi beban saat ikut dengan Maximo.


Maximo turun lebih dulu saat petugas hotel membukakan pintu mobilnya. Ia berjalan memutar untuk membukakan pintu Samantha lalu menggandeng wanita itu di sebelah kirinya. Mereka berjalan bersama-sama menuju pintu hotel.


“Apa orang-orang itu mengenalmu sebagai Maximo?” Samantha berbisik lirih. Ia sangat penasaran. Bibirnya tetap tersenyum saat petugas hotelnya menyapanya dengan sopan.


“Aku tidak yakin. Mungkin beberapa di antara mereka mengenalku, tapi sebagian lagi tidak. Untuk beberapa orang namaku hanya sebuah mitologi yang mereka gunakan untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan mereka.” Maxiimo menjelaskan dengan detail.


“Waw, secara tidak langsung kamu sangat dikagumi. Lalu, apa aku berada di tangan Maximo yang tepat?” Samantha iseng menggoda.


“Tidak ada Maximo lain yang memiliki serial angka tersembunyi. Mereka mungkin mentato tubuh mereka dengan digit angka. Tetapi tidak ada angka yang benar karena angka ini hanya diketahui oleh Cortez dan aku sendiri. Lagi pula, aku lah yan paling tampan dan paling hebat di antara mereka.” Maximo berujar dengan jumawa.


“Maximo lain pun akan mengatakan hal yang sama pada Samanthanya.” Samantha masih iseng menimpali.


“Tidak akan ada dua Samantha. Hanya ada satu Samantha dan dia milikku.” Maximo berujar dengan penuh kesungguhan. Dikecupnya bibir Samantha tanpa permisi.


“Jangan terlalu memujaku Max, kamu bisa gila jika suatu waktu aku pergi.”


Maximo langsung menetap tajam mendengar ucapan Samantha tersebut.


“Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius.” Gadis itu tersenyum gemas melihat ekspresi Maximo yang kaget.


“Jangan bercanda hal seperti itu denganku. Sebelum kamu pergi, aku akan mengikat dan mengurungmu di kamarku, suapaya kamu tidak pergi ke mana pun.” Dengar, laki-laki itu mulai mengancam.


“Kamu menakutkan max, tapi lebih dari itu kamu menggelikan.” Samantha terkekeh gemas dengan ucapannya sendiri. Ya, ia geli sendiri dengan sikap Maximo yang sangat overprotective terhadapnya. Selalu berusaha menunjukkan dominasinya atas Samantha, padahal ia yang sering kali tenggelam dalam pesona Samantha.


“Aku serius dengan ucapanku.” Hah, rupanya laki-laki itu tidak sedang bercanda. Ia menatap Samantha dengan tajam.

__ADS_1


“Ya okey, aku percaya. Kamu sangat serius.” Samantha akhirnya mengiyakan ucapan Maximo. Maximo tidak lagi menimpali karena Ia telah berhasil membuat Samantha kalah.


Mereka telah tiba di pintu masuk hotel. Seorang pelayan hotel menyambutnya. “Anda sudah datang, tuan, nona,” sambut pria itu. Samantha terangguk pelan sementara Maximo langsung waspada.


“Hem. Mereka sudah berkumpul?”


“Ya, mereka ada di lantai enam, seperti yang tuan minta.” Rupanya pria ini mengenal Maximo. Ia tidak berani sedikitpun menatap wajah Maximo dan Samantha.


Maximo tidak menimpali. Ia segera mengajak Samantha menuju lift dan naik ke lantai enam. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan di dalam lift. Saat keluar, mereka di sambut oleh suara riuh para tetamu. Maximo membawa Samantha masuk ke dalam sebuah ballroom yang dipenuhi orang-orang berpakaian serba hitam dan di dominasi oleh kaum pria. Ada beberapa wanita yang terlihat menikmati acara ini dan tetap melabeli dirinya sebagai Maximo.


“Apa mereka tahu kalau mereka sedang berbincang antar sesama Maximo?” Samantha penasaran.


“Tidak. Dalam undangan aku meminta mereka untuk memperkenalkan diri mereka dengan nama samaran. Sepertinya mereka menurut karena sampai saat ini mereka masih tenang.” Maximo mengajak Samantha berjalan di atas karpet merah menuju panggung.


Tidak ada satu pun yang Samantha kenal meski seorang pelayan mengenalinya. “Minuman Anda, tuan dan nyonya.” Pelayan itu menghampiri Samantha dan menawarkan minuman. Samantha langsung tercengang saat ternyata pelayan itu adalah Wilson.


“Terima kasih.” Samantha sempat kaget tetapi isyarat mata Wilson meminta Samantha untuk bersikap biasa saja. Entah dari mana laki-laki ini tahu kalau Maximo mengadakan acara ini.


“Boleh aku ke toilet sebentar?” tanya Samantha.


“Hem, pergilah. Hindari untuk kontak dengan siapapun karena itu bisa mencelakakanmu.” Maximo memperingatkan wanitanya. Ia tahu persis bagaimana tingkah iseng Samantha saat sedang berulah.


Samantha mengangguk patuh. Ia segera pergi ke toilet sambil mencari Wilson atau Alicia. Ia yakin kalau Wilson tidak mungkin datang sendiri. Semakin jauh melangkah, Samantha memperhatikan sekelilingnya. Benar saja, di ujung sana ada Alicia yang sedang menunggunya. Samantha segera masuk ke dalam toilet setelah menaruh segelas minumannya di sembarang meja. Tidak lama Alicia pun mengkuti. Mereka sama-sama masuk ke bilik toilet Wanita.


“Kenapa kamu datang ke sini?” Samantha langsung bertanya.


“Wilson mengetahui pertemuan ini dari salah satu mafia yang sedang ia intai.” Alicia menjawab dengan tenang. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memberikan selembar kertas pada Samantha.


“Ini hasil pemeriksaan obat yang ada di apartemenmu. Bacalah,” imbuh Alicia.


Samantha membukanya sebentar dan membacanya beberapa saat. Lantas ia melipat kembali kertas itu dan menyelipkannya di dalam stoking kiri. Tempat tidak terdapat senjata di sana.

__ADS_1


“Apa sebenarnya yang ingin kamu cari tahu Sam? Apa kamu akan datang ke gudang itu?” Alicia semakin penasaran.


“Entahlah. Aku akan melihat perkembangannya. Aku akan mengirimimu pesan melalui pelayan toko lagi jika kita perlu bertemu.” Samantha berpesan hal itu pada Alicia.


Alicia mengangguk paham. Mereka segera keluar dari toilet wanita.


“Kalian reuni tanpa mengajakku.” Samantha dan Alicia sama-sama terhenyak saat ternyata ada Wilson yang menjeda langkah mereka.


“Apa yang kalian bicarakan dan aku tidak tahu?” Laki-laki itu menatap Samantha dan Alicia bergantian. Tatapannya sangat penuh selidik.


“Saling bertanya kabar dan Alicia bertanya apa rencana Maximo. Aku bilang aku tidak tahu karena mafia jahat itu tidak mengatakan apapun padaku.” Samantha terpaksa berbohong.


Wilson terangguk sambil memandangi Samantha yang terlihat cantik malam ini dengan gaun panjangnya berwarna hitam, memberi kesan elegan dan s3xy. “Kamu baik-baik saja? sudah berhasil tidur dengan Maximo?” Rupanya Wilson sangat penasaran. Melihat pesona Samantha, ia tidak yakin kalau Maximo masih menolak gadis ini.


“Menurutmu seorang laki-laki yang menyimpan banyak rahasia, apa akan dengan mudah terbuka padaku?” Samantha balik bertanya.


Wilson terdiam mendengar pertanyaan itu. “Entahlah. Tapi ada banyak cara untuk bercinta..” Wilson tersenyum kecut. Dalam hatinya, bodoh sekali seorang Maximo kalau sampai tidak menyentuh Samantha. Paling tidak harusnya laki-laki itu mencicipi Samantha sedikit saja.


“Tidak bisakah kamu berkunjung ke markas? Akan sangat menyenangkan membahas rencana kita di sana. Kamar Gerald selalu kosong dan sepi, seseorang perlu mengunjunginya.” Laki-laki itu kembali bertanya, dengan tatapan yang tetap waspada pada sekitarnya.


“Aku sangat ingin berkunjung, tetapi tingkat kecurigaan Maximo sangat besar terhadapku. Dia juga tidak mengizinkanku keluar dari sangkarnya hanya sekedar untuk berbelanja. Mana mungkin aku bisa berkunjung ke markas.” Samantha beralasan.


Tidak lama Samantha melihat perhatian Maximo tertunju padanya. Laki-laki itu mencari Samantha dan berdiri berhadapan dengan Samantha. Samantha cukup bisa melihat Maximo walau jarak mereka cukup jauh. Samantha pura-pura tersenyum pada pria yang sedang menunggunya.


“Dia menungguku, aku harus segera pergi.” Samantha berpamitan tanpa menoleh sedikitpun pada Alicia dan Wilson. Ia harus waspada takut Maximo curiga.


“Selamat menikmati pestanya, Sam,” ujar Wilson seraya berlalu, melewati Samantha dan kembali berkeliling untuk menawarkan minuman pada tamu lain.


Samantha tidak menimpali, Ia memilih melanjutkan langkahnya untuk menemui Maximo yang sedang menunggunya. Langkahnya terlihat tegas dan Anggun dengan sedikit senyum yang ia tunjukan pada pria itu.


****

__ADS_1


__ADS_2