
Maximo membawa Crystal masuk ke ruang kerjanya. Mereka melewati lorong yang sudah lama tidak Crystal lihat. Di lorong ini ada beberapa lukisan yang terpajang dan selalu berhasil membuat Crystal terpesona. Wangi ruangannya pun sangat khas, membuat Crystal menyesap wangi ruangan ini dengan nikmat.
“Kamu sangat dekat dengan wanita itu Max. Apa kalian benar-benar memiliki keterikatan atau dia hanya pemuas salah satu kebutuhanmu?” Crystal memberanikan diri untuk bertanya. Ia melihat gairah yang menyala setiap kali Maximo menatap gadis itu.
“Bukan urusanmu, jangan buang-buang waktu untuk memikirkan hal itu.” Maximo menjawab dengan tegas. Bukan ingin menyembunyikan statusnya dengan Samantha, melainkan ia tidak mau kalau sampai Crystal melakukan sesuatu pada wanitanya jika tahu Samantha sangat berharga untuknya.
“Ya, laki-laki memang selalu sama. Hanya akan mendekati wanita yang memang berguna untuknya. Setelah bosan, akan langsung di buang. Aku tidak heran dengan itu dan aku ingin melihat kapan kamu akan membuang gadis itu.” Crystal masih bisa menimpali walau perasaannya tidak nyaman.
Maximo tidak lagi mengindahkan ujaran Crystal, ia membukakan pintu ruang kerjanya untuk wanita ini. “Masuklah,” ujar Maximo.
Crystal dengan senang hati mengikuti langkah Maximo. Laki-laki itu duduk di kursi kebesarannya sementara Crystal duduk di atas meja, menghadap pada Maximo.
“Aku merindukan hal privacy seperti ini, Max.” Tangan wanita itu terulur untuk mengusap pipi Maximo yang ditumbuhi rambut-rambut halus dan menyenangkan saat menyentuhnya. Ia juga mendekatkan wajahnya pada Maximo dan berusaha mengecup bibir Maximo, untuk menghapus bayangan kecupan Samantha.
“Apa yang ingin kamu bicarakan.” Ternyata Maximo memalingkan wajahnya, membuat Crystal tersenyum kecewa.
Wanita itu terpaksa menarik lagi tubuhnya dari Maximo dan duduk bersandar dengan kedua tangannya yang dijadikan tumpuan. Ia sengaja menunjukkan dadanya yang lebih berisi di banding milik Samantha.
“Aku ingin membuat penawarn denganmu, Max.” tiba-tiba saja Crystal mengatakan hal itu.
“Penawaran?” Maximo mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Hem,” yakin sekali gadis itu mengangguk. “Ada banyak hal yang disembunyikan ayahku, aku bisa memberitahumu jika kita membuat kesepakatan yang pas untuk satu sama lain,” ucap Crystal dengan kerlingan matanya yan nakal. Tangannya ikut mengusap dada Maximo yang bidang dan masih terbungkus kemeja berwarna hitam, khas Maximo.
“Apa penawaranmu?” Maximo mengambil tangan Crystal yang mengusap dadanya lalu menurunkannya.
Gadis itu tersenyum acuh, ia anggap Maximo sedang jual mahal. “Mudah saja, kita lanjutkan keinginan orang tua kita untuk menjadi besan. Aku tidak masalah ada wanita itu di dekatmu, asalkan aku yang menjadi ratumu.” Crystal berujar dengan penuh kesungguhan. Ia sengaja menyilangkan kakinya di hadapan Maximo dan membiarkan dressnya turun hingga mempertontonkan pahanya yang mulus. “Bagaimanapun, aku lebih baik dari wanita itu.” Ia mengambil tangan Maximo lalu mengusapkannya pada pahanya yang terbuka dan putih mulus.
Maximo membiarkan tangannya di atas paha Crystal, ia bahkan mengusap permukaan lembut itu dengan senyum kecil yang ia tunjukkan pada Crystal. Andai gadis itu tahu kalau ada banyak rasa enggan di balik tatapan mata Maximo yang tertuju padanya.
__ADS_1
“Aku ingin memikirkannya sambil berpesta berdua denganmu.” Maximo memberi penawaran yang menggiurkan untuk Crystal.
“Tentu, kapan?” Wanita itu sangat semangat sekali.
“Sekarang,” Maximo tahu sekali kalau wanita dihadapannya mudah terbuai oleh pengaruh obat-obatan terlarang.
“Okey. Kamu punya barang baru?”
“Hem,” Maximo beranjak dari tempatnya. Membuka kotak khusus tempat ia menaruh obat-obatan terlarang koleksinya. Satu vial obat ia ambil beserta jarum suntiknya. Tidak lupa ia juga membawa serbuk putih kesukaan Crystal. Laki-laki itu duduk lagi di singgasananya dan menaruh obat-obatan itu di samping Crystal.
“Suapi aku, Max.” Crystal memang tidak pernah bisa menahan diri pada obat-obatan yang sering kali membuatnya terbang.
Maximo menyodorkan telunjuknya pada Crystal untuk wanita itu jilat. Setelah basah oleh air liur Crystal, Maximo mengambil serbuk itu dan menyuapkannya pada Crystal.
“Eemmhhh… aku suka Max,” suara wanita itu terdengar lirih. Ia begitu menikmati serbuk yang sedang ia nikmati. Ia menjilati telunjuk Maximo dengan penuh perasaan seolah, tatapannya mengunci tajam dan menggoda pada Maximo.
“Aku punya yang lebih baik dari ini,” tawar Maximo.
Maximo mengambil vial obat dan menusuknya dengan jarum suntik. Bagian plugger ia tarik dan tidak lama barrel suntikan itupun terisi dengan cairan berwarna kuning jernih. Maximo mengambil dasinya lalu meraih tangan Crystal. Ia mengecupi tangan Crystal dengan lembut dan mengikatkan dasi itu di lengan atas Crystal untuk membendung pembuluh darahnya.
“Lakukan Max, lakukanlah.” Wanita itu sudah benar-benar terbuai di bawah pengaruh obat dan pengaruh tatapan Maximo.
Tanpa ragu, Maximo menyuntikkan obat itu di lengan Crystal. “Aahh….” Gadis itu mel3nguh merasakan tusukan jarum yang menjadi obsesinya. Maximo menyeringai kecil melihat ekspresi Crystal yang begitu menikmati saat obat yang ia suntikkan ke pembuluh darah wanita ini.
“Aahh… tubuhku terasa rileks Max, obat apa yang kamu suntikkan? Bagimana aku membayarnya?” Crystal di buat mabuk kepayang.
Sambil melepas dasinya, Maximo memandangi wajah Crystal yang mulai melayang. “Ini obat terbaru, namanya tricyclon.” Maximo tersenyum puas.
“APA?!” Crystal langsung terhenyak. “Apa kamu bilang tadi?” Crystal seperti dijatuhkan dari ketinggian nirwananya saat mendengar nama obat tersebut.
__ADS_1
“Ya, itu racun yang sama yang digunakan oleh pelaku untuk meracuniku. Kamu akan merasakan tubuhmu sangat rileks Crystal. Hanya terbaring saja di tempat tidurmu yang empuk dan nyawamu akan melayang dalam waktu dua puluh empat jam. Ingat, aku memberikannya melalui pembuluh darahmu, bukan lambungmu. Tentu reaksinya akan lebih cepat.” Maximo benar-benar mengintimidasi Crystal dengan kata-katanya.
“Kamu gila Max!” Wanita itu hendak meraih kerah baju Maximo, tetapi tangannya terlalu lemah. Sulit sekali digerakkan.
Maximo hanya terkekeh, menikmati kemenangannya karena berhasil menjebak putri William. “Bilang pada ayahmu untuk membawa penawarnya dalam waktu dua puluh empat jam. Atau dia akan kehilangan putrinya yang sangat cantik ini. Hahahaha….” Maximo tertawa dengan nikmat seraya menyodorkan ponselnya pada Crystal. Ia juga mematikan pengacak sinyal yang melindungi kediamannya.
“Brengsek!” dengus Crystal dengan kesal. Tubuh indah wanita itu tergeletak di atas meja. Susah payah ia meraih ponsel Maximo dengan tangannya yang mulai lemah. Panggilan itu tersambung pada William dan Crystal segera berbicara.
“Pah, ini aku Pah, Crystal. Tolong aku Pah, Maximo meracuniku dengan tricyclon. Tolong segera bawa penawarannya ke sini Pah!” Crystal berbicara dengan tergesa-gesa. Semakin lama mulutnya semakin sulit digerakan.
“Crystal, kamu jangan bercanda! Dimana kamu sekarang?” William mulai panik dan meradang, sungguh Maximo menikmati pertunjukkan ini.
“Maximo, aku di rumah Maximo.” Suara Crystal mulai terbata-bata dan akhirnya ia sulit untuk berbicara. Ia tergeletak di atas meja dengan tubuh yang lemah dan tidak bisa digerakkan.
Maximo mengambil ponselnya, ia mendengar William yang masih memanggil-manggil nama putrinya.
“Crystal! Crystal!” panggil William.
Maximo tersenyum puas sambil menutup satu telinganya. “Hay Will, kamu sangat berisik.” Maximo yang kali ini berbicara.
“Maximo, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu meracuni Crystal?” teriak William di sebrang sana.
“Tidak perlu banyak bicara will, segera bawa penawarnya atau kamu akan kehilangan putrimu. Selamat berjuang. Semangat!” seru Maximo yang sengaja meledek kepanikan William. Seperti halnya William yang menertawakan pertanyaan Maximo beberapa waktu lalu.
“Sial! Setelah ini aku pastikan aku akan membunuhmu, Max!” ancam William seraya berteriak.
“Waaahh, aku sangat takut. Cepatlah datang Will, Crystal sangat membutuhkanmu!” Maximo malah meledeknya sambil terkekeh puas. Akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya pada Willian.
Kita lihat, berapa lama William akan membawakan obat itu untuk putrinya?
__ADS_1
****