
Sebilah pisau langsung di todongkan oleh Samantha pada laki-laki yang berjalan menghampirinya. Laki-laki itu menatap Samantha dengan matanya yang merah dan basah. Tidak ada rasa takut di sedikitpun, ia tetap menghampiri Samantha dan berdiri dihadapan wanita itu.
“Sam,” suara bergetar itu milik Maximo. Laki-laki gila dengan penampilannya yang lusuh dan berantakan.
“Hey, jangan mendekat!” hadang Slavyk, tetapi dengan cepat Maximo menodongkan senjatanya pada Slavyk agar laki-laki itu diam. Ia sedang tidak ingin di ganggu.
“Aku tidak sedang berurusan denganmu,” ucap tegas Maximo tanpa menoleh pada pria tersebut.
"Pikirmu aku peduli?" Slavyk balas mengambil senjatanya dan,
DOR!
Satu tembakan lebih dulu diletuskan Maximo dalam hitungan detik. Tembakan itu tepat mengenai kepala Slavyk, membentuk lubang seukuran peluru di dahinya. Laki-laki itu ambruk dengan mata terbuka hingga membuat seisi restoran mendadak ricuh dengan teriakan wanita. Orang-orang berlarian keluar dari restoran ini dan hanya menyisakan dua orang yang saling berhadapan dan bertatapan dengan tajam.
Air mata Maximo menetes sesaat setelah ia melihat mata Samantha yang menatapnya lekat penuh kemarahan. Setengah hari ini ia dibuat gila dengan mencari-cari mobil yang membawa wanita ini. Ia sangat yakin kalau yang ia lihat dalam mobil sedang itu memang Samantha dan bukan orang lain. Untuk alasan itu ia mencari Samantha ke mana pun.
Tidak jua menemukan jejak Samantha, tidak lantas membuat pria gila ini menyerah. Ia meyakini penglihatananya tidak pernah salah. Ia hafal benar karakter wajah wanitanya, sorot matanya meski dari kejauhan lagi samar, semua hal tentang wanita ini tidak pernah ada yang asing. Jantungnya berdebar kencang hanya karena membayangkan wanita itu benar yang ia cari.
Tanpa mengulur waktu, laki-laki itu menemui kenalan lamanya, Alan. Dia adalah seorang hacker di dunia mafia. Laki-laki ini yang diminta Maximo untuk meretas kamera CCTV lalu lintas kota Los Angeles. Ya, kalian tidak boleh lupa kalau pria ini penguasa Los Angeles. Ia mencari jejak Samantha melalui jejak digital itu. Dan tempat inilah yang akhirnya didatangi oleh Maximo setelah yakin dengan keberadaan Samantha. Dan benar bukan, keyakinannya teehadap Samantha tidak pernah salah.
“Jangan mendekat!” Kalimat itu juga diucapkan oleh Samantha. Wanita yang hanya bisa terduduk itu mantap menodongkan pisau steaknya pada Maximo. Maximo kembali menitikkan air mata saat di CCTV tadi ia melihat Samantha yang mengenakan kursi roda ke mana pun ia pergi. Ia memandangi kaki Samantha yang sudah pasti lemah.
__ADS_1
Kaki Maximo ikut melemah, membayangkan penderitaan Samantha. Ia menjatuhkan tubuhnya bertekuk lutut di hadapan Samantha dengan tatapan penuh kerinduan yang tidak pernah lekang.
“Aku tidak tahu apa kamu benar-benar nyata atau hanya bayangan semu yang selalu mengisi pikiranku. Aku hanya peduli bahwa kamu ada dihadapanku. Sekalipun kamu hanya bayangan yang muncul di kepala gilaku, maka tusuklah aku. Bawa aku keduniamu agar kita bisa tetap bersama sebagai sepasang bayangan,” ucap laki-laki itu seraya menarik tangan Samantha dan mengenakan pisau itu ke dada kirinya.
“Tusuklah di sini, agar aku bisa ikut denganmu. Bersatu dengan bayanganmu yang tidak pernah pergi dari pikiranku.” Laki-laki itu semakin erat menggenggam tangan Samantha.
“Bodoh! Mana mau aku membawa laki-laki yang tidak setia sepertimu?" Samantha mengibaskan tangannya dari genggaman Maximo. Ia menatap pria itu dengan penuh kemarahan dan kerinduan. "Apa begitu berat menungguku sampai harus berdansa dan meniduri wanita lain?” tanya Samantha dengan tatapan sinis pada Maximo.
Maximo hanya tertunduk lantas tersenyum kelu. “Astaga, bayanganmu begitu nyata, Sam. Aku benar-benar gila. Aku mendengarmu memakiku, bukan mengucapkan kata cinta seperti yang biasa aku dengar selama ini.” Maximo mengangkat kepalanya perlahan lantas menatap Samantha dengan mata yang berkaca-kaca.
“Jangan bodoh Max, yang memujamu itu hanya pikiranmu sendiri. Pikiran yang mencoba menyenangkanmu dengan membuat suara dan bayanganku yang seolah sangat menginginkanmu. Yang terjadi sebenarnya, Samantha ini sangat ingin membunuh seorang pengkhianat sepertimu.”
“Aku tidak mengkhianatimu! Kamu pikir dengan siapa aku akan mengkhianatimu? Memangnya ada perempuan yang lebih baik darimu, hah?!” Maximo tiba-tiba menyalak sambil memegangi kedua bahu Samanta. Samantha terhenyak kaget dengan suara dan ucapan laki-laki dihadapannya. Ia hanya bisa menelan salivanya kasar melihat Maximo yang tampak hancur. Ya, laki-laki ini begitu hancur. Tidak segar dan wangi seperti biasanya. Jambangnya ia biarkan tumbuh dengan lebat, rambut ikalnya juga kering dan berantakan.
Apa ia harus percaya dengan ucapan pria di hadapannya?
Mengapa harus tidak percaya saat yang menyampaikan kabar Maximo berselingkuh adalah seorang pembohong?
“Suaramu mengagetkanku Max,” suara Samantha terdengar serak. Tangannya mendadak lemah hingga pisau di tangannya terjatuh. Air matanya menetes perlahan bersamaan dengan air mata Maximo.
“Maaf karena membuatmu menunggu. Maaf karena keadaanku aku tidak bisa mengabarimu kalau aku baik-baik saja.”
__ADS_1
“Maaf, karena,”
Hemph,
Kalimat itu tidak berlanjut karena Maximo sudah tidak ingin mendengar permintaan maaf yang tidak seharusnya dikatakan Samantha. Maximo memilih membekap mulut Samantha dengan mulutnya. Ia menarik tengkuk Samantha dan melum4at bibir wanita itu tanpa permisi. Sangat serakah, hingga membuat keduanya terengah nyaris kehabisan napas.
Mereka berhenti beberapa saat. Menyatukan kepala mereka dan membuat hidung mereka saling mengusap lembut penuh gairah. Hembusan napas ini yang mereka rindukan satu sama lain. Maximo mengusap wajah Samantha, turun hingga ke lehernya, di kecupnya nadi carotis yang berdenyut di leher Samantha, untuk beberapa saat. Lantas memeluk wanita itu dengan erat. Sangat erat.
“Aku merindukanmu, Sam. Sangat merindukanmu hingga aku merasa kalau aku sudah benar-benar gila,” bisik laki-laki tersebut dengan tangis tertahan.
“Apa kamu pikir aku tidak merindukanmu, Maximo Cortez?” Suara Samantha sampai terbata-bata. Ia mengusap kepala maximo yang bersandar di bahu kanannya. Laki-laki ini mengecupi pipi dan lehernya dengan serakah. Menyesap wangi tubuh yang begitu ia rindukan, mencuri kehangatan dari tubuh Samantha.
“Apa kamu benar-benar tidak memiliki hubungan dengan Crystal? Aku melihat kalian berdansa.” Pertanyaan itu terselip di antara perasaan keduanya yang membuncah.
Bukannya langsung menjawab, Maximo malah tersenyum kecil, hingga suara senyumannya terdengar jelas di telinganya. Wanita itu segera menoleh dan menatap Maximo dengan lekat, penuh tanya. “Astaga aku sangat bahagia mendengarmu cemburu, Sam.” Maximo tersenyum bangga.
“Hey, kamu harus menjawab pertanyaanku Max. Karena kalau itu benar, aku akan memotong tongkat saktimu.” Samantha sedikit mendorong tubuh Maximo agar menjauh darinya. Ia menatap prianya dengan lekat.
Maximo malah terkekeh, memandangi wajah cantik itu dengan penuh perasaan. Dalam beberapa detik ia menari tubuh Samantha mendekat dan kembali menyerang bibir Samantha, melum4tnya hingga habis. Samantha sampai kewalahan menghadapi serangan lelakinya. Maximo memang tidak berniat menjawab, karena menurutnya tidak ada yang perlu ia jawab.
Ini saja buktinya, Sam.
__ADS_1
****