Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Bermain drama


__ADS_3

Resto menjadi tempat pertemuan Samantha dan Alicia berikutnya. Maximo dibiarkan makan dimejanya sementara Samantha menemui Alicia ditoilet. Maximo tidak menaruh curiga sama sekali saat Samantha mengatakan dia ingin buang air kecil. Padahal ia hendak bertemu dengan Alicia.


“Apa kamu berhasil mendapatkan foto maximo?” itu pertanyaan yang pertama Samantha lontarkan.


“Dapat, tapi tidak terlalu jelas. Dia lihai sekali menghindari pandangan orang terhadap dirinya.” Alicia menunjukkan beberapa foto yang bisa ia ambil, tetapi benar, semuanya tidak cukup jelas.


“Astaga, apa aku harus mengajaknya foto bersama?” Samantha bingung sendiri dengan hasil foto yang Alicia dapatkan.


“Aku akan mencoba meminta dari rekaman CCTV, kamu tenanglah. Meminta berfoto dengannya secara langsung akan membuat Maximo curiga. Lagi pula, dia pasti menolak karena takut wajahnya tersebar,” timpal Alicia.


Samantha mengangguk paham.


“Alicia, aku ingin bertanya, dimana kalian menemukan jasad Gerald?” cepat-cepat Samantha menanyakan hal yang membuatnya penasaran.


“Disebuah gudang, yang berada dikuburan bangkai mobil. Memangnya kenapa?” Alicia penasaran.


“Tidak, aku hanya ingin tahu saja. Kalau boleh tahu, bukti apa yang kalian dapatkan yang menujukkan kalau pembunuh kakakku adalah Maximo?” lagi ia bertanya.


“Sebuah korek api milik keluarga Cortez.” Alicia menunjukkan sebuah foto barang bukti pada Samantha.


“Disini ada sidik jarinya tapi tidak sesuai dengan pencairan didata penduduk Los Angeles. Kemungkinan pemiliknya adalah orang-orang yang tidak ada datanya didata penduduk Los Angeles. Salah satunya Maximo. Tapi kenapa kamu menanyakan hal ini?” Alicia menatap Samantha tidak mengerti.


“Dia tidak mengaku kalau dia membunuh Gerald,” ucap Samantha dengan sejujurnya.

__ADS_1


“Apa? Bagaimana kamu menyimpulkannya?” Alicia semakin penasaran.


“Aku menanyakannya langsung.” Jawaban Samantha terdengar penuh percaya diri.


“Astaga! Apa dia juga tahu kalau misimu adalah untuk membunuhnya?” mata Alicia sampai melotot.


Samantha mengangguk pelan. “Tolong jangan ceritakan ini pada Wilson, dia mungkin akan membunuhku kalau tahu aku sudah gagal. Tapi kamu tenanglah, aku ingin kamu tahu kalau dia sudah berjanji akan menangkap pelaku yang sebenarnya dan membersihkan namanya.” Samantha menjelaskan dengan cepat.


“Astaga Samantha. Bagaimana kamu melakukannya? Kamu mengajaknya tidur? Kamu sudah berhasil melihat tato ditubuh Maximo?” Alicia sampai tidak habis pikir.


“Tidak, belum sejauh itu. Aku baru berhasil membuatnya menyukai dan mempercayaiku. Tapi ini belum apa-apa, jadi tolong jangan ceritakan apapun pada Wilson. Katakan hanya yang memang perlu dia ketahui saja.” Samantha benar-benar memohon pada Alicia. Ia tidak mau kalau Wilson tahu misinya gagal.


“Astaga Samantha, kamu sudah keluar jalur terlalu jauh. Kalau saja kamu bukan adiknya Gerald, aku tidak akan menolongmu. Kamu bisa membayakan kami.” Terlihat sekali kalau Alicia sangat kecewa.


“Dan dia percaya?” tanya Alicia dengan sungguh.


Samantha mengangguk. “Ya, sejauh ini dia percaya.”


Alicia terdiam beberapa saat. Ia mencoba memahami kondisi Samantha yang sebenarnya tidak masuk akal menurutnya. Mana mungkin ia berhasil menaklukan seorang Maximo hingga percaya padanya?


“Pakailah ini, ini adalah alat pelacak. Aku perlu tau keberadaanmu.” Alicia mencoba mempercayai Samantha dengan memberikan pelacak ini. Ia memasangkannya dianting Samantha karena bentuknya memang sangat kecil.


“Aku tidak berjanji ini akan berhasil Alicia, karena Maximo memagari kediamanya dengan sesuatu yang membuat rumah itu tidak bisa dijangkau oleh signal telepon ataupun radio. Tapi aku tetap akan memakainya.” Samantha memasangkan pelacak itu dibelakang telinganya.

__ADS_1


“Iya, paling tidak aku akan tahu dimana titik terakhir aku bisa menemukanmu dan melihat pergerakanmu.” Alicia dengan wajahnya yang khawatir. Ia tahu persis kalau posisi Samantha sangatlah berbahaya. Baik Wilson atapun Maximo bisa membunuhnya kalau ia salah melangkah.


“Baiklah, aku harus pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama karena mungkin Maximo akan curiga,” pamit Samantha.


“Iya, berhati-hatilah. Kabari aku selagi kamu bisa,” pesan Alicia seraya menepuk bahu Samantha.


“Pasti!” ujar gadis itu seraya tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan Alicia yang masih berada di dalam toilet.


Samantha berjalan keluar toilet. Waktu yang ia habiskan sekitar tujuh menit. Dari tempatnya sekarang ia sudah memegangi perutnya dan pura-pura meringis. Ia harus membuat Maximo percaya kalau perutnya sangat bermasalah hingga menghabiskan waktu yang lama didalam toilet.


“Kamu kenapa?” lihat laki-laki itu langsung berdiri saat melihat Samantha yang datang sambil meringis.


“Perutku sakit. Sepertinya aku kebanyakan minum wine saat bermain poker dengan para pelayan dan pengawal.” Samantha masih berpura-pura.


“Harusnya kamu tidak menjadikan wine sebagai taruhan. Inilah akibatnya. Biar aku habisi para pelayan dan pengawal itu.” Kekhawatiran Maximo berbuah ancaman. Ia masih mengingat bagaimana lancangnya seorang pengawal yang mendekat pada Samantha dan saat itu ia belum sempat melakukan apapun. Tapi sekarang ia punya kesempatan.


“Jangan dihabisi Maximo. Kalau kamu terus menerus menghabisi mereka, kamu bisa kehilangan mereka satu per satu dan kamu hanya akan sendirian. Ingat, belum tentu aku menemanimu sampai tua. Apalagi kamu belum menunjukkan bukti apapun.” Samantha balas mengancam.


“Astaga, perkataanmu selalu mengintimidasiku padahal kamu sedang sakit perut,” protes Maximo.


“Ah iya, perutku sekarang masih sakit Maximo.” Samantha kembali berakting setelah beberapa saat lalu lupa. Ia pura-pura meringis dan Maximo terlihat sangat khawatir.


Kena kamu Maximo.

__ADS_1


*****


__ADS_2