
Tangan Samantha menggenggam erat empat buah kartu poker yang sedang ia sembunyikan dari seorang pelayan yang sedang menjadi lawannya. Matanya begitu waspada saat pelayan itu mendapat giliran untuk mengambil kartu berikutnya. Semakin waspada saat melihat pelayan itu tersenyum. Sepertinya kartu pelayan itu bagus.
“Hey, kemarilah!” Samantha memanggil salah satu pengawal yang berdiri tidak jauh darinya.
Pengawal itu segera berbalik dan menghampiri Samantha. “Ada yang bisa saya bantu, nona?” tanya pengawal itu.
Samantha menaikkan kakinya hingga terlipat di atas kursi yang ia duduki, lalu menyembunyikan kartu-kartu itu dibalik kedua pangkal pahanya dan sedikit demi sedikit menunjukkan kartu yang ia miliki, pada pengawal.
“Apa kartuku bagus?” tanya Samantha pada laki-laki itu.
“Tidak cukup bagus, Nona.” Pengawal itu menjawab apa adanya.
“Pelankan suaramu!” Samantha memukul bahu pengawal itu dengan kesal. Ia melirik sedikit pelayan yang duduk dihadapannya dan penasaran memandangi Samantha. Lihat, dia tersenyum.
“Jangan senang dulu, mungkin saja aku akan menang dan apel itu menjadi milikku.” Samantha berujar dengan angkuh. Tepatnya pura-pura angkuh ada pelayannya. Sudah empat buah apel yang menjadi milik pelayan karena ia sudah empat kali menderita kekalahan. Tepatnya belum sempat menang sekalipun.
“Tentu, nona. Saya akan ikut merayakan kemenangan nona.” Pelayan itu sudah mulai berani menimpali.
“Astaga, dia mengejekku. Cepat bantu aku bagaimana caranya agar aku menang!” Samantha menarik sebagian jas pengawal itu hingga mendekat padanya.
“A-apa yang harus saya lakukan nona?” Pengawal itu tergagap. Jaraknya yang terlalu dekat dengan Samantha membuat ia bisa melihat wajah Samantha yang ternyata sangat cantik saat dilihat dari dekat. Bulu matanya sangat lentik dan ada lesung pipi yang dalam dikedua belah pipinya.
__ADS_1
“Ajari aku cara menghitung angka ini.” Samantha sedikit menampar pengawal itu agar fokus pada kartu pokernya.
“Ba-baik nona.” Meski pelan, tamparan Samantha cukup menyakitkan dan membuatnya tersadar. Laki-laki itu mulai berusaha fokus pada kartu Samantha. “Nilai kartu ini sepuluh nona.”
“Astaga, bisakah kamu mengatakannya pelan-pelan? Musuhku akan mendengarnya.” Samantha langsung meradang.
“Ma-maafkan saya nona.” Salah lagi kan.
“Mendekatlah.” Samantha menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga agar pengawal itu leluasa berbisik padanya.
“Ehkhm!” Pengawal itu berdehem karena gugup. Samantha ternyata sangat wangi dan ia suka mencium aroma tubuh Samantha.
“Kartu ini nilainya sepuluh lalu yang hitam ini empat. Nona memiliki empat jenis kartu yang berbeda dan ini sangat merugikan untuk nona. Nona akan-“
“APA?!” Samantha menyahuti tidak kalah keras. Itu ia benar-benar refleks saat menjawab karena kaget. Lanta ia menoleh pada asal suara itu, ternyata Maximo yang berjalan mendekat. Pengawal Maximo langsung berdiri tegak lalu tertunduk layu.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” Sepertinya Maximo tidak terima melihat Samantha berdekatan sengan seorang pelayan. Ia pikir pengawalnya itu akan menggoda Samantha hingga berani sedekat itu.
“Tentu saja bermain poker dan kedatanganmu merusak semuanya,” jawab Samantha dengan kesal. Ia sudah kesal dengan kekalahannya yang berulang dan kali ini ditengah permainan ia malah diganggu oleh kedatangan Maximo. Membuat pelayan dan para pengawal segera menjauh karena sadar tidak bisa berdekatan dengan Samantha.
“Hentikan dulu permainannya. Aku ingin bicara denganmu.” Maximo meraih tangan Samantha lalu menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Samantha melirik tangannya yang sedang digenggam oleh Maximo dan Maximo melepaskannya. Sepertinya ia sadar kalau ia hampir saja melanggar perjanjian mereka.
“Ikutlah denganku, kita harus bicara.” Maximo mengulang ajakannya.
“Ikut denganmu?” Samantha mengulang sepenggal kalimat Maximo.
“Hem,” laki-laki itu mengangguk pasti.
“Kalau begitu, memohonlah, sebagai penebus kesalahan karena kamu sudah merusak kesenanganku bermain poker bersama para pelayan,” tantang Samantha seraya bersidekap. Ia ingin tahu apa Maximo menuruti keinginannya atau akan egois dengan memaksanya.
“Aku mohon, ikutlah. Kita perlu bicara.” Maximo mengulang kalimatnya dengan nada lebih rendah. Ia pun menatap Samantha dengan sungguh.
Samantha menurunkan tangannya yang bersidekap. Ia rasa, Maximo bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Baiklah.” Samantha akhirnya setuju. Ia dan Maximo berjalan beriringan menuju ruang kerja Maximo. Entah apa yang akan pria ini sampaikan hingga iaingin berbicara berdua saja.
Selama perjalanan menuju ruang kerja Maximo tidak ada pembicaraan sedikitpun. Sesekali Maximo menoleh Samantha yang berjalan dibelakangnya dan Samantha segera memalingkan wajahnya saat maximo mendapati ia sedang memandangi bahunya yang tegap.
Mengapa semuanya jadi terasa canggung?
****
__ADS_1