Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Mencari petunjuk


__ADS_3

Tanpa menggunakan alas kaki, Samantha menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia segera berangkat menuju hotel dan mengedarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya kear ketir tidak karuan karena mencemaskan kondisi Maximo yang masih lemah.


Di sebuah persimpangan, nyaris saja ia bertabrakan dengan sebuah taksi, beruntung Kontrol sopir taksi itu cukup cekatan sehingga mobil Samantha bisa terhindar dari sebuah tabrakan.


“Pakai matamu pel4cur!!” Sebuah makian yang ia dengar dan tidak ia ambil pusing. Samantha hanya mengangguk dan mengangkat tangannya sebagai bentuk permintaan maaf. Setelah itu ia kembal melajukan mobilnya menuju hotel. Seperti tidak ada rasa takut, mobil itu dipacu Samantha dengan kecepatan di atas 160 km/ jam. Rasanya seperti terbang dan ia pikir ini cara yang lebih baik.


Tiba di hotel Samantha segera menerobos masuk.


"Nona!" panggil petugas keamanan dan ia mengabaikan panggilan petugas keamanan yang berjaga di depan, dengan begitu saja. Ia segera masuk ke dalam lift dan menuju ballroom. Ia melihat orang-orang itu mengejarnya, tetapi ia tidak peduli dan segera menutup pintu lift.


Di dalam ballroom petugas kebersihan sedang membersihkan seisi ruangan. Mengepel sisa darah dan merapikan meja-meja. Samantha segera mendekat pada petugas kebersihan itu. “Apa kalian sudah membereskan gelas yang dipakai para tamu?” Cepat-cepat Samantha bertanya.


“Sedang kami bereskan nona. Ada yang bisa kami bantu?” Pelayan itu bertanya dengan sopan.


Samantha masuk ke dalam dan tanda-tanda bekas pesta baru berakhir masih terlihat. Hanya saja sudah tida ada mayat yang bergelimpangan. Ia melihat meja tempat Maximo menaruh gelasnya dan beruntungnya gelas itu masih ada. Ada sedikit sisa minuman juga di gelas itu.


“Hah, syukurlah!” Samantha menghela napasnya lega. Ia segera mengambil gelas itu dan membawanya. "Beri aku plastik!" pinta Samantha.


“Mohon maaf nona, Anda tidak diperkenankan membawa barang-barang dari sini.” Salah seorang pelayan mencegat langkah Samantha.


“Oh ya, aku akan membayarnya.” Samantha bertindak cepat. Ia melepas satu antingnya dan memberikannya pada pelayan. “Apa itu cukup?” tanya Samantha.

__ADS_1


“Ta-tapi nona, ini tidak dibenarkan.” Pelayan itu bersikukuh menolak.


“Jangan mempersulitku!” Samantha mulai meradang. Entah mengapa ia mulai kesal ada setiap orang yang merintangi jalannya.


“Ada apa ini? Ada yang bisa saya bantu, nona?” Pelayan yang tadi menyambut Samantha bersama Maximo di pintu, tampak menghampiri.


“Oh, kamu mengenalku. Aku wanita yang datang bersama Maximo. Aku butuh bantuanmu.” Samantha meminta bantuan dengan segera.


“Mohon maaf nona, saya tidak bisa membantu Anda. Tolong kembalikan gelasnya.” Kepala pelayan itu pun bersikeras ingin mengambil gelas di tangan Samantha.


Tanpa berpikir panjang, Samantha mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya pada pria itu. “Aku tidak segan untuk menjadikanmu mayat, jadi jangan menghalangi jalanku!” Samantha memberikan ancaman yang serius, laki-laki itu langsung mengangkat tangannya.


“Aku tahu Anda mengenal Maximo yang asli. Bantu aku menghubungi Paul, orang kepercayaannya. Kalau tidak, aku bisa menghabisi kalian satu persatu. Lakukan!” seru Samantha yang tetap menodongkan pistolnya pada pria itu. Tatapannya yang tajam seolah menunjukkan kalau wanita ini tidak sedang becanda.


“Seseorang ingin berbicara dengan Anda tuan,” ucap pria itu yang tetap menatap Samantha dengan waspada.


“Silakan nona.” Pelayan itu memberikan ponselnya pada Samantha, saat Samantha lengah, laki-laki itu  mencoba menyerang Samantha dari belakang, tetapi dengan cepat Samantha menghindar.


Dor!


“Akh!” Laki-laki itu melenguh kesakitan saat tanpa ragu Samantha menembak paha kanannya hingga ia terjatuh. Samantha menyeringai kecil dengan tatapan tajam pada kepala pelayan itu.

__ADS_1


“Sudah ku bilang, aku tidak sedang bercanda.” Samantha berujar dengan serius.


Dor! Satu tembakan lagi Samantha sarangkan di bahu laki-laki itu, hingga membuat laki-laki itu mengaduh dan berguling kesakitan.


“Mau menurutiku atau ku pecahkan kepalamu?” Saat sedang marah ternyata Samantha lebih menakutkan dari Maximo.


“Saya akan menghubungi tuan Paul nona, tolong jangan menembaknya lagi.” Seseorang tiba-tiba datang untuk menenangkan Samantha.


“Lakukan!” titah Samantha tanpa kompromi. Laki-laki itu segera menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang. Dengan cepat Samantha merebut ponsel itu.


“Paul!” panggil Samantha.


“Iya, nona.” Paul langsung terhenyak. Ia segera bangun sampai lupa kalau tangannya sedang terluka. Ia tidak menyangka kalau nona mudanya yang menghubunginya. Samantha mundur beberapa langkah menjauh dari orang-orang yang ia todongkan senjata. Ini pembicaraan rahasia menurutnya.


“Temui aku di CR hospital!” titahnya.


“Ba-baik nona.” Paul langsung siaga.


Setelah itu Samantha menutup teleponnya. “Aku akan meminjam ponselmu untuk sementara,” ujarnya seraya melepas satu anting yang tersisa dan menaruhnya di atas meja. “Anggap anting ini sebagai biaya sewa, aku akan mengembalikannya,” imbuh gadis itu dengan tergesa-gesa.


“Ba-baik nona.” Laki-laki itu menurut saja. Samantha segera pergi dan kembali ke rumah sakit dengan membawa gelas berisi sedikit minuman tersisa juga ponsel milik manager hotel.

__ADS_1


Saat ingin menangkap seorang penjahat, berpikirlah layaknya seorang penjahat agar ia tahu seluk beluk apa yang akan mereka lakukan. Prinsip inilah yang sedang dilakukan Samantha saat ini.


****


__ADS_2