
Suara radar terdengar nyaring di telinga Maximo. Ia masih terus memantau pergerakan titik merah yang sedang ia ikuti. Ia sudah pernah melalaikan waktu, karena itu ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada untuk menyelamatkan seseorang. Ia harus memastikan kalau gadis itu adalah adiknya yang selama ini ia cari.
Sang Mafia bersama beberapa pengawalnya pergi menemui Maximo palsu. Mereka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak peduli kalau waktu sudah menjelang dini hari. Di bawah komando Maximo mereka bersiap menyerang manusia peniru itu.
“Berbelok ke arah timur,” titah Maximo pada sopirnya. Ia sendiri yang mengomando pergerakan anak buahnya. Mereka meneruskan perjalanan sejauh tiga belas mil dengan pemandangan hutan pinus lalu area pegunungan. Tempat ini tidak jauh dari tempat pertama kali Maximo menemukan titik keberadaan Eveline.
Mereka masuk ke sebuah perumahan elite di mana hanya ada empat buah rumah besar di sana. Kotak surat tertulis kalau itu kediaman tuan Cortez. Hah, rasanya Maximo ingin tertawa melihat halusinasi seseorang yang lebih gila darinya.
Dua orang penjaga menghadang mereka dan menunjukkan wajah sangarnya. Meski sudah larut sepertinya mereka masih segar dan siap berhadapan dengan Maximo.
“Ada keperluan apa?” dengar, pertanyaannya menyebalkan.
“Tuanku ingin bertemu dengan tuan Maximo. kami ada urusan penting.” Paul yang menimpali dengan sikapnya yang tenang. Sementara Maximo tengah menyalakan rokoknya untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
“Beliau sedang beristirahat. Datanglah besok pagi.” Penjaga itu jelas melarangnya.
“Akh!” tiba-tiba saja suara itu terdengar dari rumah besar dihadapan mereka. Tidak hanya itu, ada suara cambukan yang begitu keras serta suara makian seorang laki-laki yang begitu kasar. Meski tidak terdengar jelas, tetapi sepertinya seseorang sedang menyiksa seorang perempuan di dalam sana.
Maximo mulai mengepalkan tangannya. “Buka gerbangnya!” titah pria itu. Matanya sudah menghitam dengan rasa marah yang tiba-tiba menyeruak. Dia sangat yakin kalau peniru itu sedang menyiksa Eveline.
“Pikirmu dirimu siapa berani memerintah kami?” satu penjaga langsung berreaksi pada Maximo. Dia balas menantang Maximo, tetapi baru beberapa detik mereka bertatapan,
DOR! DOR! DOR!
Maximo sudah lebih dahulu menyarangkan peluru di kepala pria tersebut. Satu penjaga lainnya mulai kocar kacir, ia menekan tomboh bantuan dan dalam beberapa saat para penjaga Maximo palsu keluar.
Mereka berhadapan dengan para penjaga Maximo dan saling menodongkan senjata. “Jangan sia-siakan nyawa kalian, karena tuan kami tidak memiliki belas kasihan pada siapa pun yang menghalangi langkahnya.” Paul berujar dengan gagah.
“Pikirmu kamu takut? Tuan kami jauh lebih kuat! Ingatlah, dia Maximo Cortez.” Laki-laki itu tidak menyerah begitu saja.
Paul tersenyum kecil, dengan isyarat mata ia memerintahkan anak buahnya untuk maju menyerang. Dalam hitungan detik baku hantam mulai terjadi antara orang-orang Maximo dengan orang-orang Maximo palsu. Satu orang melayangkan pukulannya pada Maximo dan laki-laki itu segera menembaknya. Ia menerobos masuk ke dalam rumah peniru bersama Paul yang berusaha ia lindungi. Ia membiarkan pertikaian di luar sebagai barikade pertahanannya.
Beberapa orang sempat menembaki Maximo saat ia masuk ke dalam rumah besar itu, tetapi kesulitan menghadapi seorang Maximo sama dengan menghadapi seribu pengawalnya. Ia tidak memberi kesempatan pada lawannya untuk melukai dirinya dan Paul yang terus mengekor di belakangnya.
Rumah itu sudah kosong, keributan beralih di luar rumah ini. Maximo mencari asal suara wanita yang tadi sempat di dengarnya.
“Tuan, sepertinya suara itu berasal dari lantai atas. Kamar dengan lampu yang menyala.” Pendengaran Paul memang paling bisa diandalkan.
Maximo menaiki anak tangga dan benar saja semakin lama titik yang ia cari semakin dekat. Di lantai dua ini ada tiga buah kamar dengan daun pintu berwarna putih. Paul dan Maximo berpencar, menempalkan telinga mereka di daun pintu. Semuanya benar-benar sunyi, lampu-lampupun dimatikan. Sepertinya Maximo palsu membekap mulut Eveline. Titik radarpun berhenti, tetapi tidak menunjukkan keberadaan Eveline.
__ADS_1
Brak! Satu pintu di tendang oleh Maximo dan langsung terbuka. Ia menyisir ruangan itu dan ternyata hanya sebuah kamar kosong saja. Ia menyisirnya hingga ke dalam, masuk ke kamar mandi, tetapi tidak ada apa-apa di sana. Saat akan keluar, tapan sengaja ia menginjak sesuatu di kakinya yang ternyata adalah sebuah liontin. Maximo segera mengambilnya dan benar saja, isinya adalah pelacak.
“Sial! Apa mereka sudah pergi?” Maximo menggenggam erat liontin di tangannya.
Paul ikut memeriksa kamar yang lainnya. Ia menodongkan senjata kecil miliknya dan perlahan membuka pintu kamar itu. Terkunci. Ia menembaki handle pintu dan tidak lama, pintu terbuka. Suasana kamar itu sangat gelap. Tiba-tiba saja sebuah tangan menarik tangan Paul untuk masuk ke dalam sana.
“TUAN!!!” teriak Paul.
Maixmo segera berlari. Ia menyusul Paul masuk ke dalam kamar itu. Semuanya gelap, ia hanya mengandalkan Cahaya inframerah dari senjatanya.
“Jangan bergerak! Buang senjatamu!” ujar sebuah suara yang menodongkan senjata di kepala Maximo. Maximo pun menghentikan langkahnya dan mengangkat tangannya ke udara. Senjata di tangannya terpaksa ia jatuhkan lalu di tendang oleh laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Tidak lama lampu menyala dan menunjukkan Paul serta Evelyn yang sedang di bekap mulutnya oleh dua orang pengawal Maximo palsu.
“Selamat datang tuan, Maximo,” sambut seorang laki-laki yang hanya mengenakan outer pijamanya. Laki-laki itu menyeringai melihat kedatangan Maximo ke rumahnya.
“Lepaskan mereka!” seru Maximo dengan penuh ketegasan. Ia menatap tajam pada laki-laki berambut ikal dan berantakan itu. Di sekitar mereka ada banyak cambuk dan alat-alat yang bisa digunakan oleh seseorang untuk memanjakan fantasi liarnya saat berhubungan int!m dengan wanita. Sosok Eveline bahkan masih terikat di sebuah tiang besi dengan pakaian minimalis dan memperlihatkan beberapa luka cambukan di tubuhnya.
“Sudah berani mengganggu kesenanganku dan sekarang Anda ingin saya melepaskan mereka? Hhahahaha… mimpi!” seru Maximo palsu.
Laki-laki itu menghampiri Eveline, lantas mencengkram dagu wanita itu. “Apa karena wanita ini Anda menggangguku malam-malam? Apa yang Anda inginkan dari pel4cur ini?” Maximo palsu mencengkram dagu Eveline semakin keras saja. Eveline meringis kesakitan dengan wajah yang merah dan banyak luka-luka.
“Berapa penawaran yang Anda sanggupi untuk membeli wanita ini dari tanganku?” Laki-laki itu masih mencoba bernegosiasi dengan Maximo.
“Sayang sekali tuan Maximo palsu, aku tidak suka membuat sebuah penawaran dengan seorang pecundang.” Maximo menimpali dengan Jantan. Lihat senyumnya yang lebih menyeringai dari Maximo palsu.
“Brengsek!” laki-laki itu meradang. Ia menodongkan senjatanya pada Maximo, tetapi Maximo bergerak lebih cepat.
Ia menarik tangan laki-laki di sampingnya dan menembakkan senjata pria itu pada Maximo palsu.
“Akh!” Peniru mengaduh saat tembakan Maximo berurutan mengenai lengan dan kakinya. Paul menggunakan kesempatan itu untuk melawan penjaga di sampingnya, ia mendorong penjaga itu menjauh darinya dan dengan cepat maximo menembak kepalanya.
Tertinggal satu penjaga yang menodongkan senjatanya di kepala Eveline. Laki-laki itu kebingungan melihat tuannya yang ambruk oleh dua tempakan dari Maximo.
“Lepaskan dia, maka aku akan mengampunimu,” ancam Maximo dengan tegas.
“Jangan! Jangan lepaskan dia!” Meski sudah tidak berdaya Maximo palsu tetap bersikeras.
DOR! DOR! DOR!
__ADS_1
Tanpa ampun Maximo menembak bahu dan kedua kaki peniru. “Akh….” Lagi laki-laki itu meringis kesakitan. Penjaga itu semakin panik melihat tuannya dilumpuhkan.
Maximo menatap tajam pria itu, “LARI!!!” teriak Maximo dan dengan cepat laki-laki itu lari tunggang langgang meninggalkan Eveline dan semua orang yang ada di sana. Sayangnya, baru sampai pintu Maximo menghadiahi laki-laki itu dengan banyak tembakan hingga ambruk di tempatnya.
“Gila! Anda luar biasa tuan Maximo!” seru Eveline dengan mata membulat penuh kekaguman.
“Belum luar biasa sebelum aku menyelesaikan apa yang harus ku selesaikan.”
DOR! Maximo mengakhiri kalimatnya dengan sebuah tembakan yang ia sarangkan di kepala Maximo palsu.
“Rasakan!” seru Eveline dengan sepenuh hati. Wanita itu tertawa puas merasa dendamnya terbalaskan.
Maximo dan Paul segera melepaskan ikatan rantai besi di tangan Eveline. Wanita itu menatap maximo dan Paul dengan penuh haru.
“Apa Samantha yang menyuruh kalian menyelamatkanku?” tanya gadis itu dengan polos.
Detik itu juga, Maximo berhenti melepas rantai Eveline. Ia tidak menjawab melainkan pergi begitu saja dengan langkahnya yang lemah. Hanya Paul yang menyelesaikan pekerjaannya sambil menatap khawatir pada tuan besarnya.
“Ada apa?” tanya Eveline yang bingung melihat sikap Maximo. Paul tidak menjawab, ia hanya memakaikan mantelnya pada Eveline lalu mengajaknya keluar dari kamar tersebut.
“Nona, Anda pergi lalu mengembalikan seseorang yang sudah lama kami cari. Di mana Anda berada saat ini?” batin Paul seraya menatap punggung Maximo dengan tidak karuan.
Di tempat berbeda, seorang dokter sedang memperdengarkan suara denyutan jantung janin. Suara yang terdengar konstan seperti suara langkah kaki kuda. Sesekali terdengar kuat dan sesekali terdengar lemah. Ia mencatat hasil pemeriksaannya di lembar pemeriksaan yang setiap empat jam sekali ia isi.
“Semuanya normal, nyonya,” ucap dokter tersebut pada seorang wanita yang terbaring tidak berdaya dalam kodisi koma. Banyak alat yang menempel di tubuhnya, untuk mempertahankan kehidupannya. Tidak hanya infusan, melainkan selang endotrachea tube yang masuk ke mulutnya juga selang makan yang masuk ke hidungnya.
Dokter itu membersihkan kembali sisa gel yang ia gunakan untuk melumuri permukaan perut wanita tersebut. Ia juga memperhatikan wajah wanita yang terlihat cantik walau pucat pasi. Usapannya terhenti saat tiba-tiba ujung jari wanita itu bergerak.
Wanita itu sampai terhenyak dan segera memperhatikan monitor yang ada di samping wanita tersebut. Detak jantungnya meningkat dan bertambah cepat setelah sebelumnya sangat lambat. Ia juga melihat ujung jari wanita tersebut kembali bergerak. Dengan segera ia memeriksa mata wanita tersebut, pupilnya mulai berreaksi normal pada cahaya senter yang ia sorotkan.
Wanita itu tersenyum haru. Dengan langkah cepat wanita itu keluar dari ruangan steril tersebut. Ia berlari menuju kamar sseorang dan mengetuk pintu kamar itu dengan keras.
“Ada apa?” seorang laki-laki segera membuka pintu kamarnya.
“Tuan, pasien siuman!” seru dokter tersebut.
“Benarkah?”
****
__ADS_1