Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kematian Gerald


__ADS_3

Samantha dibuat terkejut saat ia mendapati kalau dirinya berada di sebuah rumah yang ada di tengah-tengah sebuah pulau. Entah di negara mana saat ini ia berada. Yang jelas, tidak ada daratan yang terlihat selain daratan yang mengelilingi tempat ini. Gerald, telah membawanya ke tempat yang begitu asing hingga ia tidak tahu harus ke arah mana ia berjalan jika kelak ingin pulang.


Wanita itu termenung di balkon kamarnya, menyapa cahaya matahari yang membuatnya memincingkan mata silau, saat cahaya matahari memantul dari besi kursi rodanya. Tangannya terangkat, merasakan hangat dari sang surya yang terlihat kekuningan saat mengenai permukaaan punggung tangannya. Tangannya sangat pucat dan kurusan, mungkin karena selama ini ia hanya terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat yang menyokong hidupnya dan janin yang berada di dalam perutnya.


Sebelas minggu, usia janin yang dikandungnya. Itu artinya, bayi ini memang anak dari Maximo, bukan buah keisengan Gerald saat ia koma. Semula ia sangat takut kalau Gerald melakukan sesuatu padanya saat ia sedang koma. Ya, Gerald yang sekarang membuatnya tidak bisa memercayai laki-laki itu. Ia bahkan tidak yakin apa Gerald yang ada di rumah ini masih Gerald yang sama atau bukan.


“Kamu sudah bangun?” dengar, suara laki-laki itu terdengar di belakang Samantha. Ia menggeser sedikit kursi roda yang diduduki Samantha agar berada persis di samping kursi yang ia duduki.


Wanita itu tidak memberi respons, perhatiannya tetap tertuju pada lautan yang tenang tanpa berombak. Namun ia yakin, arus di bawah sana sangatlah deras.


“Sam, kamu belum mengatakan apa pun padaku. Apa kamu tidak merindukanku?” Gerald bertanya seraya memutar kursi roda Samantha agar menghadapnya. Ia merindukan sepasang mata yang lama tidak di tatapnya.


“Kamulah yang seharusnya berbicara dan mengatakan semuanya Gerald. Apa kamu tidak sadar kalau kamu memiliki banyak hal yang harus dijelaskan setelah membodohiku selama beberapa bulan ini?” Wanita itu masih tampak kesal. Keadaan yang ia hadapi, belum bisa ia pahami sepenuhnya.


Gerald mengangguk paham. Ia tertunduk lesu di hadapan Samantha. “Aku menerima kemarahan dan rasa kecewamu, Sam. Hanya saja, aku ingin kamu mendengar alasanku,” ucap laki-laki itu.


“Tidak ada yang melarangmu, bicaralah.” Samantha berujar dengan ketus. Ia kembali memalingkan wajahnya dari Gerald yang selalu berhasil membuat darahnya mendidih.


“Boleh aku bicara sambil memelukmu?” tanya Gerald kemudian. Hal ini biasa mereka lakukan dahulu saat perasaan meraka tidak tenang. Bercerita sambl berpelukan dan mencoba memahami perasaan satu sama lain.


“Tidak. Masalah kita bukan pada jarak, tapi pada kepercayaan.” Samantha berujar dengan tegas, ia malah enggan untuk menoleh laki-laki yang menatapnya dengan penuh perasaan.


Gerald tersenyum kelu, ia paham benar alasan kemarahan Samantha. Meski berhadapan, wanita ini terasa begitu jauh.

__ADS_1


“Wilson menipuku. Dia memperalatku untuk menghancurkan Maximo. Dia memberikan banyak tuduhan pada Maximo agar aku terpancing.” Gerald memulai kalimatnya dengan berat, membuat Samantha akhirnya menoleh.


Laki-laki itu tersenyum kelu melihat Samantha yang akhirnya mau menatapnya lagi. Mungkin hanya dengan menceritakan semuanya ia bisa mengambil kembali kepercayaan Samantha. Pria itu beranjak dari tempatnya, beralih bersandar di pagar balkon sambil bersidekap menghadap Samantha.


“Salah satu wanita kenalanku di umpankan Wilson pada Maximo. Wanita itu meninggal dengan cara yang sadis dan ternyata pelakunya adalah Maximo.” ia melanjutkan kalimatnya.


“Kamu tahu kan kalau banyak orang yang mengaku dirinya sebagai Maximo?” Samantha langsung mengingatkan. Maximo yang ia kenal tidaak sesadis yang Gerald ceritakan.


“Ya, aku tahu itu. Tapi doktrin Wilson terlalu kuat di kepalaku. Dia menuduhkan semua kejahatan itu pada Maximo yang tidak pernah aku lihat sekalipun wajahnya seperti apa.” Gerald tersenyum kecut mengingat kebodohannya sendiri.


“Karena rasa penasaranku, akhirnya aku mencari tahu tentang Maximo dengan sebenarnya. Aku melakukan penyelidikan diam-diam tanpa sepengetahuan Wilson. Banyak fakta yang aku sembunyikan dari laki-laki itu dan beberapa hal hanya diketahui oleh Alice.”


“Semakin lama aku mencari tahu tentang Maximo, semakin banyak ketidaksesuaian cerita yang dibuat Wilson. Aku juga baru tahu kalau ternyata Wilson menggunakanku untuk mencari tahu kode sandi yang ada di tubuh Maximo, agar bisa menguasai kekayaan Cortez dan menyingkirkanku setelahnya.”


“Tapi kamu sudah mati Gerald. Aku bahkan melihat sendiri tubuhmu yang kaku di ruang mayat dan di makamkan. Bagaimana kamu masih bisa hidup dengan baik sampai sekarang?” Samantha masih tidak habis pikir dengan apa yang di alami Gerald. Dahinya mengernyit tidak paham.


“Permainan katamu? Waahh, hebat sekali!” Samantha tertawa dengan kesal. “Kamu tidak hanya mempermainkan kematian, tapi juga mempermainkan orang-orang yang mengkhawatirkanmu. Kamu tahu, berapa lama aku merasa bersalah karena merasa gagal memenui janjiku untuk saling menjaga satu sama lain? Aku bahkan merasa tidak mengenalmu setelah kamu melakukan ini semua. Kamu asing Gerald, sangat asing lebih dari orang asing yang aku kenali.” Samantha berujar dengan kesal. Suaranya sampai bergetar menahan tangis kemarahan.


“Aku terpaksa, Sam. Aku tidak punya cara lain selain melakukan ini semua.” Gerald mendekat pada Samantha lalu bersimpuh di hadapan wanita itu. Ia sadar kalau ia salah dan tidak seharusnya menipu Samantha.


“Aku tahu, kalau Wilson berniat menghabisiku setelah rencananya tercapai. Dia sudah menyiapkan kuburan dan rencana pembunuhan yang sangat rapi. Karena itu aku harus melawannya dengan siasat lain.” Kalimat Gerarld begitu penuh kesungguhan untuk meyakinkan Samantha.


“Mayat yang kamu lihat, memang mayatku. Saat itu, satu malam sebelum kematianku, Wilson mengajakku untuk minum-minum dan merencanakan penyerangan pada Maximo. Aku sadar kalau saat itu dia mulai melakukan siasatnya."

__ADS_1


"Di belakangku dia mencampur minumanku dengan obat tidur. Aku pura-pura meninggalkannya ke toilet, aku juga pura-pura mabuk berat. Padahal saat itu aku menemui seseorang untuk membeli tricyclon. Aku meracuni diriku sendiri dan pura-pura mati dihadapan Wilson.”


“Efek obat tidur yang terpaksa aku minum, telah melemahkanku, Sam. Dia menghajarku, menyayat tubuhku seperti binatang bahkan menembak dadaku. Beruntung tidak mengenai jantungku. Aku seolah mati oleh perbuatannya, padahal tricyclon itu yang membuat jantungku berhenti berdetak.”


“Dia membuat rencana seolah aku terbunuh oleh Maximo. Dia merekayasa gudang itu sebagai tempat pembunuhanku. Tubuhku di rawat layaknya jenazah yang dia hormati lalu dimakamkan seolah aku prajurit yang berharga dan gugur dalam berperang.”


“Malam hari setelah pemakaman, orang-orangku membongkar makamku. Mereka membawaku ke tempat ini dan menyuntikkan obat penawar. Meski aku tersadar, aku bangun dalam keadaan lumpuh lebih dari satu bulan. Setiap hari aku harus mendapatkan suntikan obat penawar itu, bahkan hingga hari ini. Lihat tanganku, Sam. Sudah seperti sarang lebah.” Gerald menunjukkan lengannya yang banyak dipenuhi belas luka tusukan jarum.


Samantha di buat terkejut dengan kondisi lengan kiri dan kanan Gerald.


“Kamu tahu, setelah aku bisa bergerak, aku sangat ingin menemuimu. Hingga diam-diam aku menyusulmu ke sebuah club. Kita berpapasan dan aku yakin kamu mengenaliku. Beruntung kamu mabuk Sam. Rasanya saat itu ingin sekali aku membawamu ke tempat ini. Tapi urusanku belum selesai. Aku belum berhasil membunuh Wilson. Aku terpaksa membiarkanmu di jaga oleh Maximo, laki-laki yang semula ingin aku bunuh.” Gerald menjeda kalimatnya dan tertunduk dalam di hadapan Samantha.


Samantha bisa melihat Gerald yang begitu susah payah menceritakan semuanya. Mungkin karena rasa trauma itu harus ia ingat kembali. Namun, masih ada satu hal yang ingin Samantha tahu.


“Lalu, apa kamu yang meracuni Maximo?” Samantha bertanya dengan tegas.


Perlahan laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap Samantha dengan lekat. Wajahnya yang sendu berubah tersenyum.


“Ya, aku yang melakukannya. Aku merasa memiliki kesempatan untuk menjebak Wilson dan membuat Maximo memburunya atau Maximo mati ditanganku. Tapi laki-laki itu sangat licin. Dia pandai mengenali kondisi. Aku tau, Wilson tidak akan membunuh Maximo selama dia belum mendapatkan apa yang dia mau.” Kali ini Gerald berujar dengan santai, ia mengusap jambangnya dengan bangga karena bisa bertahan sampai sejauh ini.


“Aku juga tahu kalau kamu pergi ke Rusia untuk mencari obat penawar untuk Maximo. Apa alasannya, Sam? Bukan karena kamu mencintainya kan?” Gerald bertanya dengan sungguh. Ia menatap Samantha dengan tajam seperti berusaha mengetahui apa yang sebenarnya wanita ini pikirkan.


“Kamu mengerikan Gerald. Tidak ada yang harus aku jawab!” Samantha memilih memalingkan wajahnya. Ia juga memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam rumah. Apa yang ingin ia dengar dari Gerald sudah ia dengar. Laki-laki ini penuh siasat lebih dari yang ia duga. Rasanya, ia sudah tidak bisa lagi memercayai laki-laki ini.

__ADS_1


“Katakan Sam, apa kamu mencintai laki-laki itu?” teriak Gerald.


****


__ADS_2