Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Anak Kucing


__ADS_3

Seorang gadis menatap tidak percaya pada layar tabletnya. Ia melihat kediaman Maximo palsu sudah di bumi hanguskan dan rata dengan tanah karena semalam dilahap si jago merah dan tidak ada yang menolongnya. Tidak hanya itu, pihak kepolisian juga menyatakan bahwa Maximo palsu yang bernama asli Alexander ini ternyata sindikat mafia perdagangan manusia.


Banyak fakta yang menunjukkan kalau laki-laki ini memperjual belikan wanita untuk tujuan prostitusi dan penjualan organ vital. Semuanya berhasil terungkap hanya dalam waktu satu malam. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dua laki-laki yng ada dihadapannya.


“Gila! Laki-laki ini benar-benar sangat jahat dan kamu benar-benar menghancurkannya, Paul?” tanya Eveline dengan penuh keterkejutan.


Paul mengangguk pasti seraya menyilangkan tangannya di depan dada, lalu tersenyum penuh kebanggan. Seseorang meliriknya dengan sinis.


“Mengapa wanita di rumah ini selalu lebih dulu memujimu, Paul? Padahal usahamu tidak lebih besar dari tuanmu.” tanya Maximo dengan dingin.


“Maaf, tuan.” Wajah ceria Paul pun segera hilang. “Saya memang memerintahkan orang-orang kita untuk menghancurkan rumah Alexander, tetapi yang menghancurkan bisnis besar laki-laki itu adalah tuan Maximo.” Paul segera menjelaskannya. Lihatlah, laki-laki itu tersenyum sinis dan kembali meneguk minumannya dengan dada membusung.


“Benarkah?” Eveline menatap Paul tidak percaya. Paul hanya mengangguk dan melirik tuan besarnya. “Waahh, terima kasih Max! kamu benar-benar kakakku!” tanpa diduga Eveline berhambur memeluk Maximo dari belakang. dan sempat mencium pipi sang kakak hingga laki-laki itu terbatuk karena minuman di mulutnya belum selesai ia telan.


“Oh astaga! Maaf, aku tidak sengaja.” Eveline segera mengusap punggung Maximo, sementara Paul memberikan serbetnya pada taun besarnya.


Laki-laki itu mengambil serbetnya dengan kasar sambil mendelik. Rupanya masih kesal karena usahanya tidak diakui lebih dulu.


“Sekarang aku percaya, bahwa tidak semua laki-laki bernama Maximo itu bajingan. Kamu yang terbaik Max!” Eveline kembali ke kursinya dan mengacungkan jempolnya pada Maximo sambil tersenyum bangga.


“Hanya aku yang tidak bajingan.” Laki-laki itu masih butuh pengakuan.


“Heemm, iya aku setuju.” Eveline jadi memandangi wajah sang kakak seraya menopang kepalanya dengan lengan kananya. Gadis itu juga tersenyum bangga pada Maximo.


“Kalau saja aku tidak bertemu Samantha, aku tidak akan bertemu denganmu, bukan?” Wajah Eveline berubah sendu tiba-tiba walau ia berusaha tersenyum. Gadis ini sudah mendengar semua cerita tentang Samantha dari Paul dan itu sangat menyedihkan.


Maximo tidak menimpali, ia lebih memilih melanjutkan sarapannya dengan cereal.

__ADS_1


“Kamu harus bangkit Max. kalau kamu terpuruk seperti ini, Samantha akan sedih.” Gadis itu memberi nasihat pada sang kakak. Maximo masih tetap tidak menimpali, hanya saja ia terlihat gelisah. Ia meneguk kembali minumannya, tetapi dengan cepat Eveline menahan tangannya.


“Hadapi kenyataannya, Max. Kamu laki-laki yang berani, beranilah untuk menerima kepergian Samantha,” lanjut Eveline dengan penuh harap.


“Tidak perlu menasihatiku. Urusan Samantha hanya urusanku, tidak pernah menjadi urusan siapa pun, sekalipun kamu adikku.” Maximo berujar dengan tegas seraya mengibaskan tangan Eveline. Ulu hatinya seperti mendapat pukulan menohok hingga terasa mual, akibat kata-kata sang adik.


Eveline tidak lagi berkomentar, ia melirik Paul dan laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya. Seperti yang diingatkan Paul semalam, ingatkan Maximo dengan cara yang perlahan, karena laki-laki kuat itu sedang sangat rapuh.


“Wah, apa aku mengganggu waktu kalian?” Suara seseorang memecah ketegangan antara Maximo dan Eveline. Mereka kompak menoleh.


“Selamat pagi, nona Crystal.” Paul menyapa wanita itu dengan sopan.


“Selamat pagi. Apa aku masih bisa ikut sarapan di sini?” Wanita itu tiba-tiba saja duduk di samping Maximo.


“Pindah!” ucap Maximo dengan tegas.


“Ya?” Crystal bingung sendiri dengan kata perintah Maximo.


“Siapa gadis ini Max? Kenapa dia lancang sekali?” Rupanya Crystal tidak terima.


“Aku bilang pindah!” Eveline tidak ambil pusing dengan pertanyaan Crystal. Ia tidak suka wanita ini menambah keruh keadaan. Lihat saja matanya yang menyalak kesal.


“Wah, baru kali ini rumah ini menyambutku tidak dengan ramah. Anak kucing dari mana yang kamu pungut Max?” Crystal kembali berdiri dan berpindah tempat duduk. Ia terpaksa menurut pada gadis muda yang asing dimatanya.


“Paul, berani sekali dia menyebutku anak kucing. Tolong beritahu dia siapa aku sebenarnya.” Eveline langsung memberi perintah pada Paul, membuat Maximo tersenyum kecil melihat tingkah adiknya. Gadis ini sudah mulai paham aturan mainnya.


“Baik Nona,” sahut Paul dengan sigap. “Mohon maaf nona Crystal, beliau adalah adik dari tuan besar yang lama hilang,” imbuh Paul.

__ADS_1


“Apa? Maksudmu dia Mirella?” Crystal langsung terhenyak. Rupanya ia berhadapan dengan orang yang salah. Pantas saja Maximo membiarkan ia berdebat dengan anak kucing ini.


“Bukan, aku Eveline. Mirella sudah mati oleh keganasan sang mafia. Dia lahir kembali menjadi Mirella yang memiliki kakak seorang Maximo.” Gadis itu menunjuk Maximo dengan bangga.


“Iya, maafkan aku Eveline. Aku tidak tahu kalau kamu ternyata adik Maximo.” Sikap Crystal langsung berubah ramah dan manis, gadis itu tersenyum sinis pada Eveline.


“Aku lihat, kamu seorang pembohong dan penjilat Crystal. Ucapanmu langsung berubah setelah tahu siapa aku. Padahal tadi kamu memanggilku anak kucing. Miaw! Miaw! Hahahaha….” Eveline malah meledek usaha Crystal untuk mendekatinya.


Crystal tidak bisa berkata-kata, ia menoleh Maximo yang ternyata sedang menatapnya. “Setiap orang bisa melakukan kesalahan Max, terlebih saat harus mengenali seseorang yang lama tidak dilihatnya. Harusnya itu bukan masalah yang besar, bukan?" Bisa saja Crystal berkilah meski tidak mendapat timpalan dari orang-orang dihadapannya. "Sebenarnya aku datang ke sini untuk menyampaikan undangan dari ayahku. Beliau bilang, sudah lebih dari satu bulan dia kesulitan menghubungimu. Dia juga turut berduka atas kepergian Samantha. Karena itu, datanglah untuk makan malam. Dia ingin memberimu penghiburan.” Crystal begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


“Apa aku boleh ikut?” Eveline ikut berbicara karena penasaran.


“Tentu adik. Kamu boleh ikut. Aku sudah menyiapkan banyak makanan dan minuman. Tentu saja pria tampanpun ada di sana.” Crystal bersikap sangat manis pada Eveline.


“Yaa, kalau kamu memaksa, aku akan datang. Hanya saja, aku tidak suka sesuatu yang berlebihan, semisal sikapmu yang memuakan barusan.” Eveline tersenyum dengan acuh, menipiskan bibirnya untuk mencibir Crystal. Sementara gadis yang disambut dengan tidak baik itu hanya bisa mengeram kesal dalam hati. Seperti yang disampaikan William, ia harus bersabar kalau ingin mendapatkan hati Maximo.


“Max, kamu bisa datang kan?” Suara Crystal begitu manis pada Maximo.


“Aku usahakan,” sahut pria itu seraya melirik Eveline.


“Aku ingin bertemu pria tampan yang baik, Max.” Itu permintaan Eveline, membuat senyum Crystal langsung terbit.


“Tidak ada pria tampan di dunia mafia, selain aku. Pilihlah laki-laki yang biasa saja yang penting bisa membahagiakanmu.” Laki-laki ini tiba-tiba saja berujar dengan bijak.


“Astaga, aku seperti sedang berbicara dengan laki-laki berumur 70 tahun yang masih sangat narsis. Kamu tahu Max, aku akan mencari pria tampan dan dia harus mafia. Jadi saat dia menyakitiku, aku tidak terlalu sakit hati karena dia memang tampan dan berkuasa. Aku tidak suka dengan laki-laki yang tidak tahu diri. Tidak tampan dan tidak punya kekuasaan, tetapi bisa menyakiti wanita lebih dari mereka yang  tampan dan berkuasa.” Eveline berujar dengan yakin membuat Maximo menyentil dahi sang adik dengan geram.


“Akhh! Sakit Max!” Gadis itu mengaduh sambil memegangi dahinya, tetapi Maximo tetap acuh. “Untung kamu tampan dan berkuasa, kalau tidak aku sudah mencinc4ngmu!” imbuh gadis itu seraya mengangkat pisau rotinya.

__ADS_1


“Hahahahha….” Paul malah tertawa mendengar celotehan Eveline. Semua pasang mata pun segera tertuju pada laki-laki itu dan secepat mungkin ia langsung bungkam. Sepertinya tawanya tidak di waktu yang tepat.


****


__ADS_2