Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Melindungi yang tersisa


__ADS_3

Malam itu juga, Samantha dan Paul memutuskan untuk membawa Maximo pulang dan merawatnya di rumah. Laki-laki itu selalu sadar dan dapat bernapas dengan normal. Dokter memberinya obat melalui infusan, obat yang dapat menghambat kelumpuhan syaraf pernapasan selama Maximo dalam perjalanan pulang. Seorang dokter ahli kepercayaan Maximo pun ikut mendampingi laki-laki itu dalam perjalanan.


Maximo ditempatkan di kamarnya. Di ruangan itu sudah tersedia banyak alat canggih yang bisa digunakan kapan saja kalau Maximo memerlukannya. Seorang pengawal yang di utuspun sudah kembali dan membawa hasil pemeriksaan pada minuman yang di konsumsi oleh Maximo di pesta.


“Dugaan Anda benar nona, tuan besar terkena racun dari salah satu Trycyclo,” ujar dokter setelah membaca hasil pemeriksaan.


Samantha dan Paul kompak menghembuskan napasnya kasar. Nora ikut memandangi tuan besarnya dengan penuh kekhawatiran.


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Samantha kembali dilanda rasa khawatir dan gelisah.


“Kita harus mencari anti racunnya. Waktu kita hanya tujuh puluh dua jam untuk menemukan obat itu dan menyuntikkannya pada tuan Maximo.” Penjelasan dokter membuat suasana semakin tegang.


“Akh sial!” Pikiran Samantha benar-benar tidak karuan mendengar pernyataan dokter tersebut.


“Apa tidak sebaiknya kita temukan dulu siapa pelakunya dan meminta obat penawarnya?” Paul yang cemas pun ikut berbicara.


“Kita harus melakukan dua pekerjaan untuk cara itu. Pertama mencari pelakunya yang entah akan mengaku atau tidak, lalu meminta obat penawarnya, yang entah akan diberikan atau tidak. Apa menurutmu bisa dilakukan dalam waktu tujuh puluh dua jam?” Samantha balik bertanya pada laki-laki yang duduk di atas kursi roda.

__ADS_1


“Akh sial! Kalau saja aku tidak tertembak, aku akan mencari orang itu sampai ketemu dan membuktikan kejahatannya!” Paul kesal sendiri pada kondisi tubuhnya. Ia sampai memukul lengannya yang masih terasa sakit bekas luka tembakan.


“Jangan merajuk seperti itu Paul, itu membuatmu terlihat semakin payah dan merepotkan!” Samantha melampiaskan kemarahannya pada Paul dan laki-laki itu hanya bisa tertunduk lesu dengan rasa tidak berguna dihatinya.


“Lalu apa yang harus saya lakukan Nona? Mana mungkin kita hanya berdiam diri di sini dan menunggu waktu yang semakin cepat berjalan.” Paul menatap Maximo dengan penuh kecemasan. Semakin banyak waktu yang mereka lalui, semakin besar kecemasanya kalau mungkin Maximo tidak tertolong.


Maximo mendengar obrolan penuh kekhawatiran dari orang-orang disekitarnya. Bukan hanya Paul yang kesal, ia pun sama.


“Tentu saja kamu masih berguna. Bantu aku mencari siapa saja orang yang menjual obat penawar racun ini, aku akan mendatanginya.” Samantha berujar dengan tekad yang bulat.


“Mana mungkin nona?!” Paul tidak terima. Ia tidak mungkin membiarkan Samantha pergi seorag diri.


“Tapi nona,”


“Cukup Paul. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah keselamatan Maximo, tidak ada gunanya kita terus berdebat seperti ini. Lagi pula, aku tidak akan tinggal diam. Kamu lakukan tugasmu dan aku akan melakukan tugasku.” Samantha berujar dengan penuh keyakinan.


Paul hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Entah bagaimana lagi cara ia menyelesaikan masalah ini kalau bukan dengan mengikuti arahan Samantha.

__ADS_1


Gadis itu sudah tidak ingin berdebat lagi. Ia menghampiri Maximo dan duduk di samping Maximo. Ditatapnya wajah Maximo yang tampak sendu lantas Samantha mengusap kepalanya dengan sayang. Entah sejak kapan ia memiliki rasa kepedulian yan tinggi pada pria ini. Ia begitu takut terjadi sesuatu yang buruk pada Maximo hingga bersedia masuk ke dalam sebuah lorong yang gelap tanpa tahu bahaya apa yang mengintainya saat ini.


Entah bagaimana juga cara ia kembali nantinya. Apa ia akan kembali secara utuh atau pulang hancur tanpa bersisa? Semua rasa takut itu tidak ia pedulikan. Segala cara akan ia lakukan agar bisa menyelamatkan Maximo.


“Max, aku boleh pergi kan sebentar?” tanya Samantha pada Maximo yang hanya bisa menatapnya dengan perasaan yang entah. Laki-laki itu mengedipkan matanya dua kali yang berarti melarang Samantha untuk pergi.


Wajah Samantha mengkerut kesal, melihat respon Maximo. Ia tahu kalau laki-laki ini mencemaskannya.


“Seperti halnya kamu yang mencemaskanku, aku juga mencemaskanmu, Max. Aku takut kalau aku tidak berhasil membawa obat penawar itu tepat waktu. Aku tidak mengerti, mengapa aku sangat mencemaskanmu? Padahal ini semua bisa memudahkanku untuk menghancurkanmu dan menguasai semuanya. Aku bisa saja membiarkanmu mati pelan-pelan, tapi ada sesuatu yang menahanku dan membuatku melangkah sampai sejauh ini. Ada apa denganku, Max?” Samantha bertanya pada pria yang bahkan hanya bisa berkedip. Bibirnya kelu dan tubuhnya sangat lemah tidak bisa digerakkan. Maximo yang gagah itu tidak ubahnya seperti mayat hidup yang hanya bisa menunggu keajaiban untuk menyelamatkannya.


“Boleh aku pergi, Max? Aku masih ingin menikmati waktu yang lebih lama denganmu.” Samantha mengulang pertanyaan itu. Dan kali ini, Maximo tidak mengedipkan matanya sekalipun. Hanya ada air mata yang menetes di sudut matanya serta ucapan lirih dalam hatinya.


“Jangan tinggalkan aku, Sam. Aku tidak mau mati kesepian. Aku mencintaimu.” Kalimat itu yang Maximo ucapkan dalam hatinya.


Sayangnya Samantha tidak mendengarnya. Ia hanya bisa memeluk Maximo dari samping dan sesekali mengecup dahi serta pipi laki-laki itu.


“Kamu harus bertahan Max, aku pasti menyelamatkanmu.” Tekad Samantha sangat bulat membuat air mata itu menetes kembali di sudut mata Maximo.

__ADS_1


****


__ADS_2