Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Pelaku


__ADS_3

Setelah mengunjungi William dan belum menghasilkan apa-apa, kali ini Maximo mengunjungi pemilik hotel. Rasa penasarannya masih terlampau tinggi untuk mencari tahu siapa yang meracuninya. Terlebih setelah Paul mengatakan kalau hanya Maximo yang keracunan malam itu. Ia penasaran, apa laki-laki ini mendapatkan racun itu dari Slvyk atau hanya perantara yang diperintahkan untuk meracuni Maximo?


Maximo meminta rekaman CCTV di hotel itu, tetapi pemilik hotel tidak mau memberikannya dengan alasan privacy.


"Kamu harus tahu kalau tuan saya bisa menutup hotel ini karena telah mencelakainya. Jadi sebaiknya kamu menuruti apa yang kami minta." Paul mulai memberi ancaman pada pria itu.


"Silakan tuan, tapi saya tetap tidak bisa memberikan rekaman CCTV. Rekaman CCTV terhapus setelah tiga hari. Bukankah dengan begitu tuan pun tidak ada bukti kalau tuan pernah ke sini dan teracuni oleh minuman yang kami hidangkan?" Alasan itu yang diberikan laki-laki tersebut. Sikapnya begitu tenang dan percaya diri. Bahkan ia tersenyum tipis, entah berusaha ramah atau sedang menertawakan kondisi Maximo.


"Waahh, aku sangat salut dengan keberanianmu." Maximo menghampiri laki-laki itu dan berdiri berhadapan. ia mengusap jas pemilik hotel dan merapikan kerahnya. "Aku penasaran, sebesar apa keberanianmu yang sebenarnya," imbuhnya seraya tersenyum.


"Tentu, karena saya tidak bersalah. Tuan tidak bisa memaksa saya memberikan apa yang tidak saya punya." Ringan sekali laki-laki itu berbicara.


Maximo tidak menimpali, ia mengusap dagunya sambil menatap tajam laki-laki itu. BUK! Tiba-tiba saja ia memukul bahu laki-laki itu dengan sikutnya.


"Akh!" Laki-laki itu terhuyung dan tumbang hingga bertekuk lutut di hadapan Maximo. Pengawal Maximo segera menghampiri dan memegangi tangan laki-laki itu lalu mengikatnya. Sementara Maximo terduduk santai di kursi keberasan pemilik hotel sambil memandangi pria itu dengan penuh intimidasi. Ia membiarkan Paul yang bekerja.


"Kamu terlalu berani berkata lancang pada tuan Maximo. Siapa yang membuatmu begitu berani seperti ini?" Dengan ujung tongkatnya Paul mengangkat dagu laku-laku itu, tetapi laki-laki itu segera memalingkan wajahnya.


"Aku tidak punya urusan denganmu, untuk apa aku takut. Sudah ku bilang kalau tidak ada bukti apapun di tempat ini. Bukankah hilangnya bukti itu juga membuat tuan Maximo lebih leluasa dan tidak akan menghadapi kesulitan setelah membunuh lebih dari lima puluh orang?" Laki-laki itu dengan percaya diri menantang Maximo.


Buk!

__ADS_1


Satu pukulan dari tongkat Paul di layangkan pada laki-laki yang memilih tidak menjawab pertanyaan Paul. Sepertinya laki-laki tidak akan memberi keterangan apapun soal siapa yang berniat meracuni minuman Maximo.


“Masih belum mau menjawab? Mau ku tambah lagi pukulannya?” tanya Paul seraya menekan pipi pria itu dengan ujung tongkatnya. Ia baru sadar kalau tongkat ini sangat berguna, bukan hanya untuk membantunya berjalan, tetapi juga untuk menjatuhkan lawan. Ia sudah kesal karena pria ini sulit sekali di ajak bekerja sama.


Laki-laki itu hanya menatap Paul dengan tajam, tidak berkata apapun meski tubuhnya sudah sangat sakit dihadiahi pukulan telak oleh Paul yang membuat kepalanya pusing dan keseimbangannya berkurang.


"Wanita itu sudah membawa ponselku, kalian periksa saja di sana kalau kalian tidak percaya. Tidak ada yang memerintahku meracuni Maximo. Semua itu diluar kendaliku." Laki-laki itu tetap bersikeras dengan pendiriannya.


Paul tersenyum sinis, ia mengeluarkan ponsel pria itu dari dalam sakunya lalu berjongkok dihadapan pria itu. Sepertinya pria ini sangat apik dalam menggunakan ponselnya dan Paul harus mencari siasat lainnya.


“Aku bisa saja menghabisimu, tapi aku masih memberimu satu kesempatan.” Paul menekan-nekan keypad ponsel itu dan ada satu nomor yang ia hubungi. “Saat pria ini menjawabnya, segera bicara,” titah Paul sambil menyalakan mode loud speaker.


Laki-laki itu mendengus, mencoba berontak tetapi tangannya yang terikat membuat ia hanya bisa tergeletak di lantai dan tubuhnya yang sesekali meronta. Paul menyambungkan panggilan dengan nomor Slavyk, beberapa deringan belum di jawab dan Paul dengan setia menunggunya.


“Terima kasih atas pengakuannya, sudah lebih dari cukup. Sekarang, kenapa kamu ingin meracuniku?” Maximo mencondongkan tubuhnya pada pemilik hotel lalu mencengkram dagu laki-laki itu dengan sangat keras seperti akan melepas paksa dagu itu dari wajahnya. Giginya sampai menggeratak saking kuatnya genggaman tangan Maximo.


Laki-laki itu berusaha berontak, mendesis dan merintih menahan sakitnya cengkraman tangan Maximo hingga air liurnya ikut menetes. Pembuluh darah di wajah dan lehernya ikut menonjol dengan wajah yang memerah. Tetapi bukan Maximo jika ia melepaskannya begitu saja. Ia malah mengambil senjata dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu.


“Buat satu pengakuan maka aku akan melepaskanmu atau tetap keras kepala maka aku akan memberimu hadiah kecil yang ku sarangkan di kepalamu.” Maximo memberi dua pilihan sulit.


"Eemmhh... Eemmhhh!!!" Laki-laki itu berusaha berontak dan melepaskan cengkraman Maximo. Maximo yang kesal, memasukkan paksa pistolnya ke dalam mulut laki-laki itu, hingga menarik bagian hammer spur hingga silinder ruang peluru berputar dan peluru siap di tembakkan.

__ADS_1


Mata laki-laki itu segera membulat, ia sadar sepertinya Maximo tidak sedang main-main. Wajahnya mulai ketakutan dan ia semakin berontak.


“Aakkk, giwiang... giwiang!” Suara itu samar-samar terdengar dari mulut yang disumpal senjata oleh Maximo.


Maximo tersenyum kecil, mengeluarkan senjata dari mulut pria itu. Pria itu terengah nyaris kehabisan napa, bersamaan dengan air liur juga tetesan darah yang menetes dari mulutnya yang ternganga.


“Katakan dengan jelas,” pinta Maximo. Ia melepaskan cengkraman tangannya dari dagu pria itu.


Laki-laki itu masih berusaha mengatur napasnya yang menderu, lantas ia mendongak. “William, William yang menyuruhku,” aku pria tersebut dengan sungguh-sungguh.


Maximo tersenyum kecil, ia menepuk pipi laki-laki itu beberapa kali lantas beranjak dari tempatnya. Ia berbalik membelakangi pria itu,


DOR!


Satu peluru ditembakkan Maximo pada laki-laki itu hingga melubangi dahi pria tersebut dan membuat kerja organ tubuhnya berhenti total. Terlihat jelas matanya yang melotot dan mulut yang menganga. Aliran darah perlahan turun membasahi wajahnya yang terkulai lemah di atas lantai.


Tangan Maximo mengepal dengan kuat, memegangi senjata yang ada ditangannya. Ia tidak menyangka kalau laki-laki itu telah mencoba membunuhnya dan masih membohonginya. Tanpa menunggu lama, Maximo segera pergi dari tempat itu. Meninggalkan mayat laki-laki yang masih terikat dan berlumuran darah. Langkahnya begitu tegas, masuk ke dalam mobil mewahnya.


“Apa kita akan menemui tuan William lagi, tuan?” Paul memberanikan diri untuk bertanya pada tuan besarnya. Pria itu sedang termenung di kursi belakang, melepas dasi yang membuatnya terasa sesak. Ia masih merasakan kekesalan pada laki-laki bernama William itu. Ia ingin menghabisi pria itu tetapi ia harus menemukan bukti terlebih dahulu agar pria itu tidak bisa mengelak.


“Tidak, aku ingin bertemu Samantha,” ucap pria itu. Ia melihat ke jendela luar, seperti berharap kalau ada Samantha di luar sana. Menurutnya, hanya Samantha lah yang bisa membuat perasaannya tenang.

__ADS_1


Paul tidak menimpali, ia segera menyuruh sopir untuk memutar arah menuju kediaman Maximo. Ia tahu persis kalau tuan sedang tidak baik-baik saja.


****


__ADS_2