
“Hey, Samantha! Samantha!” Maximo berseru memanggil wanita yang berjalan dihadapannya dan meninggalkannya. Tidak sekalipun wanita itu berhenti berjalan atau menolehnya. Ia tetap meneruskan langkahnya yang semakin cepat saja.
“Samantha!” Setelah berlari, akhirnya Maximo berhasil menyusul Samantha dan berdiri menghadang langkah gadis itu. Langkah Samantha memang terhenti, tetapi ia memalingkan wajahnya dari Maximo., menghindari kontak mata Juga bersidekap dengan kesal.
“Hey, kenapa meninggalkanku?” Maximo meraih tangan Samantha, tetapi gadis itu mengibaskannya. Wajahnya terlihat sangat kesal.
“Hey, ayolah, Sam. Maaf karena membuatmu kesal.” Laki-laki itu segera menarik tangan Samantha dan memeluk tubuh wanita itu. Ia tidak memperdulikan banyak pasang mata yang melirik mereka dengan bingung dan beberapa sambil tersenyum.
Kota Los Angeles itu sibuk dan luas tuan, tetapi Anda membuat semua pasang mata yang melintas dijalanan memperhatikan kalian.
“Kita akan bicara dan mendengarkan semua kemarahanmu. Tapi jangan pernah tiba-tiba pergi dariku.” Maximo berbisik lirih ditelinga Samantha.
“Kenapa tidak boleh pergi? Memangnya kita siapa? Saudara, keluarga? Hah, lucu! Itu hanya ada di negeri dongeng!” Samantha membalik ucapan Maximo yang terasa menghujam ulu hatinya.
“Aku minta maaf, aku tau, tidak seharusnya aku berkata seperti itu.” Maximo sadar benar kalau ucapannya barusan, mungkin melukai hati Samantha. Meski sebuah keluarga bagi Maximo hanya sebuah candaan yang tidak pernah ada, tetapi bagi Samantha sebuah keluarga adalah harapan. Meski entah dengan siapa ia akan menjalinnya.
Laki-laki itu melerai pelukannya dari Samantha. Ia memandangi wajah sendu yang masih terlihat kesal.
“Hey, ayolah. Bicaralah denganku, jangan diam seperti ini.” Maximo menatap lekat Samantha dan setengah memohon. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dalam hidupnya.
“Aku mau makan! Jangan menggangguku!” Samantha mengibaskan tangan Maximo yang memegangi bahunya. Ia masih kesal. Ya. Hampir semua kaum hawa memang seperti itu, saat marah kebanyakan pelampiasannya adalah makanan.
“Baik. Kita mau makan dimana?” Maximo berusaha meluluhkan hati Samantha dengan memenuhi semua keinginannya.
Samantha tidak menjawab, ia mendelik kesal dibalik topi hitamnya lalu berjalan lebih dulu dihadapan Maximo dan Maximo membiarkannya beberapa saat.
__ADS_1
“Kamu tidak menyusulku?!” lihat, gadis itu semakin kesalkesal.
“Aku pikir kamu sedang ingin sendirian?” Maximo kembali menyusul dan berjalan disamping Samantha.
“Siapa yang akan membayar makananku nanti kalau kamu tidak ikut? Bertanggung jawablah, jangan hanya mengurungku, tapi juga beri aku makan.” Kalimat Samantha terdengar sinis, tetapi malah membuat Maximo ingin tertawa. Gadisnya memang unik dan menggemaskan.
“Ya,” Hanya itu jawaban Maximo sambil menoleh Samantha. Tetapi gadis itu memilih memalingkan wajahnya karena masih kesal. Biarkan saja, Samantha memang hanya sedang ingin ditemani.
Tiba di resto, Samantha langsung memesan beberapa menu. Seperti biasa, ia meninggalkan Maximo dan pergi ke toilet. Ia yakin Alicia sudah menunggunya disana.
Benar saja, saat Samantha masuk ke kamar mandi, Alicia sudah menunggunya. Wanita itu masuk ke bilik toilet lalu disusul Samantha. Ia mengabaikan tatapan aneh yang ditunjukkan wanita lain padanya dan Alicia. Pertukaran informasi ini ljauh lebih penting dibanding memikirkan persepsi orang lain terhadapnya.
“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Alicia yang tidak bisa berbasa-basi. Ia sudah tidak sabar menunggu kabar dari Samantha.
“Ya, aku akan tutup mulut.” Alicia mengangguk dengan sungguh.
Samantha mendekat pada Alicia lalu berbisik. Ia tahu kalau dinding saja bisa mendejngar padalagi orang-orang dibalik biilik toilet yang tipis ini, “Maximo akan mengadakan pertemuan dengan semua orang yang mengaku dirinya Maximo.” Samantha langsung pada inti pembicaraannya.
“Untuk apa?” Alicia penasaran.
“Dia ingin mencari tahu siapa yang sebenarnya membunuh Gerald karena ia tidak merasa memerintahkan siapapun untuk membunuh Gerald. Menurutnya ia selalu punya alasan untuk memebunuh seseorang dan alasannya melenyapkan Gerald, diluar pikirannya.” Samantha menceritakan apa adanya.
“Dan kamu percaya, Sam? Kamu lupa siapa Maximo?” Alicia sampai tidak habis pikir.
“Aku akan pura-pura percaya karena aku perlu melihat lebih banyak. Tapi untuk kali ini, kenapa kita tidak coba percaya? Tujuan kita dan Maximo sama, mencari siapa pembunuh Gerald sebenarnya, jadi kenapa tidak kita duduk dengan tenang dan menyaksikan semuanya?.” Samantha memberikan alasannya dan Alicia mengangguk paham.
__ADS_1
“Aku perlu bertanya sesuatu Alicia, bagaimana kamu menemukan jasad Gerald hingga kamu tahu kalau tubuh Gerald beracun?” pertanyaan ini penting untuk dijawab Alicia.
“Seperti yang aku katakan sebelumnya kalau aku menemukan tubuh Gerald didalam sebuah bangunan tua yang merupakan sebuah Gedung tempat penyimpanan onderdil kendaraan dan beberapa drum oli juga zat-zat berbahaya yang tidak aku tahu jenisnya apa.” Alicia menjawab apa adanya.
“Dari mana kamu tahu kalau zat disekitar Gerald itu berbahaya? Apa kamu memeriksanya langsung?” Samantha semakin penasaran.
“Aku tau dari Wilson dan Wilson mendapatkan kabar itu dari tim forensik. Memangnya kenapa?” Alicia berbalik penasaran.
Samantha tampak masih berpikir. ia merasa kalau titik pointnya saat ini adalah Wilson. Ada yang harus ia cari tahu dari Wilson?
“Aku hanya penasaran, karena seharusnya aku memberikan pelukan terakhir untuk Gerald, tapi semuanya malah terlarang karena racun itu.” Samantha berpura-pura dan Alicia mengangguk paham.
“Alice, aku mau minta tolong, kamu masuklah ke apartemenku dan periksa ada obat apa saja dilaci kamar Gerald. Obat apapun yang kamu temukan, tolong periksa dilaboratorium dan beritahu aku hasilnya. Tapi ingat, jangan sampai Wilson tahu.” Tidak ada pilihan, Samantha terpaksa harus meminta tolong lagi pada Alicia.
“Memangnya kenapa? Apa kamu merasa Gerald menyimpan obat-obatan terlarang?” Alicia semakin penasaran. Menurutnya permintaan Samantha terlalu aneh.
“Ya, mungkin saja. Pokoknya, apapun yang kamu temukan, tolong beritahu aku. Kamu bisa menyiman hasil pemeriksaannya di butik tempo hari. Aku akan mengambilnya kesana. Selain itu, tolong tuliskan alamat Gudang yang kamu maksudkan. Dan satukan dengan hasil pemeriksaan obat.” Cepat sekali Samantha memberitahukan keinginannya.
“Kalau ternyata tidak ada obat?” Alicia balik bertanya.
“Cukup beritahu alamat Gudang itu dengan lengkap. Beserta gambarang bangunan itu.” Sedikit berat Samanta mengucapkan kalimat ini karena itu berarti kecurigaannya salah.
“Baiklah. Aku akan mengabarimu secepatnya. Tunggulah paling lama dua hari dan kamu akan tahu hasilnya.” Alicia berujar dengan penuh percaya diri. Samantha sangat percaya dan menggantungkan harapannya pada wanita ini. Berdo'a saja semoga Alicia bisa membantunya.
****
__ADS_1