Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Rencana yang matang


__ADS_3

Semua pikiran menyebalkan itu berkumpul di kepala Samantha membuat pikirannya seperti benang kusut yang meminta untuk di urai. Gerald terlihat kikuk seperti sadar kalau sedang dipandangi oleh Samantha dengan banyak pertanyaan. Ia pun masih memikirkan bagaimana ia harus menjelaskannya pada Samantha.


“Apa sudah lebih nyaman?” Suara Slavyk menyadarkan Samantha dari lamunannya. Laki-laki itu memakaikan kembali sandal di kaki Samantha.


“Sudah, terima kasih,” ucap Samantha. Ia tersenyum seramah mungkin pada laki-laki yang masih bersimpuh di hadapannya.


“Silakan lanjutkan urusan kalian berdua tuan Slavyk. Sepertinya tuan Michael ada urusan penting denganmu.” Samantha mulai selalu memanggil nama laki-laki itu dengan nama aslinya.


“Tunggulah di sini, aku akan mengambilkan berkasnya untukmu.” Gerald yang memilih pergi dari hadapan dua orang itu, meninggalkan Samantha yang sedang di pandangi dengan penuh perasaan oleh Slavyk.


“Aku sangat senang bisa bertemu lagi denganmu, Nona Samantha.” Slavyk berujar dengan sungguh. Ia memandangi samantha dengan lekat.


“Ya, dan di pertemuan keempat kita, aku masih membohongimu,” timpal Samantha, membuat pria di hadapannya mengernyitkan dahinya.


“Memohongiku?” Slavyk mengutip kata yang diucapkan Samantha.


“Hem.” Samantha mengangguk dengan yakin. Ia mengambil kacamata di dada Slavyk lalu memakainya. Ia juga menggunakan syalnya untuk menutupi kepalanya. “Maaf karena terlalu lama membohongi Anda, tuan Slavyk.” Samantha berbicara dengan gaya bicaranya sebagai Jelena.


Slavyk tidak bisa berkata-kata, hanya tertawa tanpa suara. Ia menangkup wajahnya saking senangnya, karena tidak menyangka kalau wanita ini benar-benar Jelena yang dicarinya selama ini.


“Aku tidak pernah salah mengenali seseorang. Bagaimana bisa aku begitu kesulitan menemukan siapa dirimu sebenarnya. Aku bahkan tidak bisa mengakses data apapun tentangmu.” Laki-laki itu mengacak rambutnya kasar, merasa bodoh. Lantas menopang dagunya sambil menatap Samantha dengan tidak habis pikir.


“Apa Anda masih bersedia menerima ajakan makan siangku? Anggap saja ini sebagai permohonan maaf.” Samantha berusaha membujuk Slavyk. Ia berharap laki-laki ini bisa membawanya keluar dari rumah Gerald.


“Tidak. Makan siang itu hanya bayaran untuk bantuanku saat di Moscow. Untuk kebohonganmu, bisakah aku meminta bayaran lain?” Laki-laki ini begitu antusias. Rupanya ia tidak mau rugi.


“Katakan. Aku akan memikirkannya.” Samantha berujar dengan sungguh.

__ADS_1


“Eeemm, aku ingin berlibur denganmu di kapal pesiar, selama tiga hari tiga malam.” Permintaan Slavyk sungguh tidak tanggung-tanggung. Ia memang sangat menginginkan ini setelah melihat Samantha berdansa dengan Maximo.


“Tuan, sekarang aku hanya wanita lumpuh. Mana mungkin aku bisa memenuhi permintaanmu? Kalau kapal pesiar itu tenggelam, aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.” Samantha memang pandai beralasan.


“Aku akan melindungimu, seperti yang pernah aku lakukan saat di Moscow. Percayalah padaku, Sam. Aku bisa menjagamu dengan baik.” Slavyk benar-benar merajuk sampai bersimpuh di hadapan Samantha.


Samantha menatap laki-laki itu dengan lekat, lantas tersenyum. “Tentu aku sangat percaya. Tapi, di kapal pesiar itu aku ingin berdansa. Bisakah kita naik kapal pesiar itu setelah aku bisa berjalan?” Samantha kukuh memegang siasatnya.


Laki-laki itu tampak termenung. Ia sedang mempertimbangkan permintaan Samantha. “Sepertinya kamu akan menjebakku lagi,” pikiran itu yang muncul dibenak Slavyk.


“Kalau tidak percaya dengan kata-kataku, maka aku tidak memaksamu, tuan. Aku akan tinggal di rumah ini selamanya bersama Michael. Mengabiskan waktuku seharian dengan laki-laki itu. Melayaninya dengan baik. Dia akan meniduriku setiap waktu dan kami akan membuat banyak anak. Rumah ini tidak lagi sepi. Jadi, sekalipun kamu menolak permintaanku, aku rasa Michael bisa mengabulkannya.”


“Tidak!” Slavyk segera menimpali. “Jangan katakan hal seperti itu. Perkataanmu membuatku panas dingin.” Seseorang yang terobsesi seperti Slavyk memang tidak akan bisa menerima jika apa yang dia inginkan di renggut oleh orang lain.


“Lalu aku harus seperti apa? Anda menolak tawaranku dan aku,”


“Ya, aku bersedia Samantha. Aku bersedia membawamu keluar dari tempat ini. Itu yang kamu inginkan bukan?” Laki-laki itu sepertinya paham dengan keinginan Samantha.


“Bisa tolong antarkan aku ke kamarku? Aku sedikit lelah,” pinta wanita itu seraya memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


“Tentu, dengan senang hati.” Laki-laki itu begitu sigap. Ia segera menggendong Samantha menuju kamarnya. Padahal sebenarnya bisa menggunakan kursi roda, tetapi ia lebih memilih menggendong wanita ini.


“Anda sangat tampan tuan,” Samantha sengaja merayu laki-laki ini.


“Apa penampilanku cukup memuaskan untukmu?” Laki-laki bermata biru itu menatap Samantha dengan lekat.


“Tentu, aku paling suka senyumanmu.” Diusapnya wajah Slavyk hingga laki-laki itu memejamkan matanya dengan rapat, menikmati usapan lembut dari tangan Samantha.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kamar Samantha. Slavyk membaringkan Samantha di tempat tidurnya. Ia sengaja mengajak laki-laki ini ke kamarnya, karena hanya di ruangan ini yang tidak menggunakan kamera pengawas.


“Tolong catat nomor telepon terapisku dan masukkan nomormu ke ponselnya. Aku akan menghubungimu saat Michael lengah,” pinta Samantha.


“Kamu ingin kita diam-diam saja?”


“Kamu tidak menyukainya?”


“Tidak, justru aku sangat menyukainya. Aku akan menculikmu dari sini dan Michael akan kehilanganmu beberapa saat. Ini akan sangat seru.” Laki-laki ini begitu antusias membayangkan dirinya berhasil mengungguli Gerlad. Usaha Samantha berhasil memberi makan ego pria ini hingga adrenalinenya merasa di tantang. Dengan semangat ia mencatata nomor ponselnya di ponsel Anne.


“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Dan jemput aku saat aku menghubungimu.” Samantha mengusap pipi pria itu lalu mengecupnya pelan, membuat laki-laki itu terhenyak kaget. Jantungnya berdebar sangat kencang. Kalau saja ia tidak ingat ini di rumah Gerald, mungkin ia sudah *****4* bibir berisi milik Samantha.


“Baiklah. Kabari aku secepatnya. Sekarang, pergilah. Jangan sampai Michael mencurigaimu.”


“Tentu. Aku akan merindukanmu, Sam.” Rasanya begitu enggan untuk meninggalkan Samantha yang tampak berkilauan di depan matanya.


Samantha tidak menimpali, ia hanya melambaikan tangannya pada Slavyk. Laki-laki itu pun berlalu pergi dengan perasaan bahagia.


“Jangan katakan apapun pada Gerald atau aku akan membunuhmu,” ancam Samantha pada Anne terapisnya.


“Ba-baik Nona.” Wanita itu hanya bisa patuh.


Setelah itu Samantha membaringkan tubuhnya dengan nyaman. "Tunggu sebentar lagi Max, aku akan memastikan kalau aku berhasil memotong tongkat brengsekmu itu. Tidak akan ada wanita yang mau denganmu dan hanya aku yang pernah merasakan lesakan benda sialan itu." Samantha berujar dengan penuh keyakinan.


"Kamu terbakar cemburu, Sam?"


"DIAM THOR!!"

__ADS_1


"Baiklah, sampai bertemu di bab berikutnya."


*****


__ADS_2