
Markas Wilson, menjadi salah satu tempat yang memiliki kesibukan cukup berarti. Saat ini, Wilson tengah memimpin rapat dengan rekan-rekannya untuk melakukan pengintaian pada kediaman Maximo. Mereka sedang sibuk menyiapkan sebuah strategi untuk menyelidiki keberadaan Samantha dikediaman sang mafia. ini pencapaian yang cukup bagus karena hingga detik ini ada agentnya yang masih hidup dan bertahan didekat Maximo.
Pencitraan satelit menjadi pilihan pertama yang ia gunakan untuk mencari kediaman Maximo yang katanya terletak dihutan utara. Area hutan pinus itu ia telusur namun rimbunnya hutan pinus membuat Wilson kesulitan menemukan rumah Maximo.
Wilson juga sempat menggunakan drone, tetapi pada jarak tertentu drone itu selalu rusak dan hancur. Seperti ada perisai tak kasat mata yang melindungi tempat itu dari berbagai macam pengintaian. Hal terakhir yang dilakukan adalah melalui pengintaian langsung didaerah utara hutan Los Angeles.
“Samantha mengatakan kalau mobil itu melaju ke arah utara. Jalanannya tidak terlalu rata dan sedikit bergelombang.” Wilson mengulang penjelasan Samantha yang tergesa-gesa malam itu sambil membayangkan seperti apa kondisi yang dialami Samantha didalam mobil yang katanya jendelannya selalu tertutup itu.
“Ujung arah utara ini adalah tebing. Tidak ada pemukiman disana. Kamu yakin kediaman Maximo berada disekitar situ?” tanya salah satu rekan kerja Wilson, bernama Richard.
“Sejauh ini aku percaya pada Samantha. Dia bisa bertahan beberapa hari didalam rumah Maximo, jelas menunjukkan kalau dia menggunakan akalnya untuk bisa mengamankan dirinya. Dia juga mengatakan kalau saat dia keluar dari kediaman itu, dia akan memberi signal. Pastikan personel kita berjaga-jaga di pusat kota dan titik-titik tempat yang sering didatangi Maximo.” Wilson mengungkapkan gagasannya.
“Lalu dari mana kita akan memulainya? Semua cara modern sudah kita lakukan, hanya pengintaian convensional saja yang belum kita lakukan. Tapi personel kita terbatas, itu akan mempersulit kita. Sudah terlalu banyak yang terbunuh. Kita harus mengatur siasat dengan tepat supaya tim kita bisa bertahan.” Alicia ikut berbicara.
Dari personel yang semula berjumlah diatas tiga ratus orang, saat ini hanya tersisa kurang dari setengahnya. Satu per satu berguguran karena gagal menjalankan misi untuk melawan Maximo.
“Kamu benar, kita harus lebih berhati-hati.” Wilson tampak berpikir keras. Ia memandangi peta penempatan personel anggotanya. Beberapa titik sudah ia tandai termasuk casino yang terakhir didatangi Samantha. Ia sudah menyusupkan orang disana.
“Menurut salah satu mata-mata kita, seorang laki-laki yang mengaku sebagai Maximo, telah dibunuh oleh seorang laki-laki muda. Aku sangat yakin kalau dia adalah Maximo yang asli. Segera sisir daerah itu dan cari rekaman CCTV sebanyak mungkin. Karena langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui wujud Maximo yang asli. Dengan begitu kita akan lebih mudah melakukan pencarian.” Wilson mulai memberi perintah.
__ADS_1
“Aku setuju.” Richard menimpali dengan yakin.
“Alicia, berjagalah disekitar kota. Pantau keberadaan Samantha. Mungkin saja dia akan menghubungi kita dan memerlukan bantuan kita. Kamu harus bisa bergerak cepat. Jadi untuk sementara, tinggallah di hotel yang strategis dan dekat dengan pusat bisnis.” Laki-laki gagah itu juga memberikan perintah pada Alicia.
“Baik. Aku akan berangkat setelah rapat ini.” Alicia mengangguk patuh. Wilson menyetujuinya. Baginya langkah yang ia buat kali ini harus lebih hati-hati dan tersusun. Tidak boleh ada korban lagi yang berguguran.
Di tempat berbeda, Maximo masih bekerja dengan laptopnya. Ada beberapa laporan pengiriman obat-obatan terlarang yang akan dikirim besok malam. Ia sedang memeriksa rute yang akan dilewati oleh mobil-mobil pengangkut dan tingkat keamanannya.
Dibelakangnya ada Paul yang sedari tadi berdiri dan tidak beranjak. Padahal biasanya laki-laki itu akan sibuk ikut memeriksa rute, tetapi kali ini ia tidak beranjak dari samping Maximo. Seperti ada yang ingin ia sampaikan.
“Ada apa?” tanya Maximo memberi peluang asistentnya untuk berbicara.
“Katakan,” Maximo memberi kesempatan. Ia menutup layar laptopnya dan membalik kursinya agar menghadap pada Paul yang berdiri didepan meja kerjanya.
“Maaf tuan, apa Anda sudah yakin dengan keputusan tuan untuk melibatkan nona Samantha dalam setiap operasi kita?” Pertanyaan itu yang disampaikan Paul. Rupanya ia khawatir dengan keberadaan Samantha yang semakin dekat dengan organisasi mereka.
“Kamu mempertanyakan keputusanku?” Maximo menatap Paul dengan tajam. Baru kali ini orang kepercayaannya terlihat tidak yakin dengan keputusan Maximo.
“Maafkan saya tuan. Saya hanya mempertanyakan fungsi nona Samantha yang ada didekat kita. Tiidakkah berbahaya pada bisnis kita?” Paul melanjutkan pertanyaannya dan kali ini memberanikan diri menatap Maximo yang tengah memandanginya.
__ADS_1
Maximo terdiam beberapa saat, memandangi Paul yang menyimpan banyak keraguan padanya. Ia paham benar kegelisahan bawahannya karena melibatkan seorang wanita dalam pekerjaannya. Terlebih wanita ini tidak paham sedikitpun tentang dunia hitam mereka.
Maximo bangkit dari tempatnya. Ia berjalan disekitar meja kerjanya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas permukaan meja, berusaha mencerna kekhawatiran Paul. Suaranya cukup nyaring saat ujung kuku Maximo bertemu dengan permukaan meja Maximo. Lantas ia menghampiri Paul dan bersidekap didepan laki-laki itu.
“Terima kasih sudah mencemaskanku. Tapi kali ini, masalah Samantha akan menjadi urusanku. Tenanglah.” Hanya itu yang Maximo katakan seraya menatap lekat Paul.
Paul melihat dengan jelas kesungguhan dari mata tuannya. Lebih dari itu, ia melihat tatapan Maximo yang berbeda setiap kali membahas Samantha. “Apa mungkin dia benar-benar jatuh cinta?” batin Paul tanpa bisa ia ungkapkan.
Sikap Maximo benar-benar berbeda. Dulu ia sangat enggan berurusan dengan seorang wanita karena menurutnya wanita hanya menghambat dalam urusannya. Namun kali ini, pikiran Maximo berubah 180 derajat. Ia memilih bertanggung jawab utuh atas pilihannya. Bukankah itu sudah sangat memperjelas perasaannya?
“Tuan, malam ini tuan Wiliam mengundang Anda untuk makan malam ditempatnya.” Akhirnya Paul mengalihkan pembicaraan pada topik lain.
“Iya, aku tau. Tolong suruh Samantha turun, aku akan mengajaknya membeli beberapa hal.” Pembicaraan Maximo masih kembali berhubungan dengan wanita itu.
“Baik tuan.” Dan Paul hanya bisa patuh.
****
__ADS_1