Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kerinduan yang menggila


__ADS_3

Casino, menjadi tempat berikutnya yang dikunjungi oleh Maximo. Paul terpaksa memberitahukan kondisi di Casino itu pada tuan besarnya. Maximo tidak berreaksi banyak, hanya mengiyakan ajakan Paul untuk memeriksa tempat itu.


Di malam hari, suasana casino memang lebih ramai. Suara musik menyapa Maximo yang masuk ke dalam tempat hiburan itu. Seorang laki-laki menyambutnya dan membawa Maximo ke salah satu ruangan.


“Anda ingin minum apa, tuan?” tanya laki-laki itu dengan takut-takut.


Maximo tidak menimpali, ia memilih beranjak menuju mini bar yang ada di sudut ruangan itu lalu mengambil sebotol minuman yang biasa ia nikmati bersama Samantha. Ia juga mengambil gelasnya sendiri, dua gelas untuk dirinya dan bayangan Samantha yang ikut ke mana pun laki-laki itu melangkah. Dalam pikiran Maximo, malam ini wanita itu terlihat cantik dengan dengan gaun merah yang pernah Maximo pilihkan untuknya. Kulitnya yang putih terlihat kontras dan bekilauan.


“Mengapa kamu melakukan kecurangan itu? Apa Casino ini merugi?” Maximo langsung bertanya pada inti rasa penasarannya.


“Mo-mohon maaf tuan. Kecurangan apa yang Anda maksudkan?” Laki-laki itu sampai tergagap mendengar pertanyaan Maximo.


Maximo melirik Paul dan laki-laki itu segera menunjukkan bukti-bukti kecurangan pria tersebut pada sang pelaku. Laki-laki itu tampak gemetar, ia tidak berani menatap Maximo yang sedang menikmati minumannya.


“Ma-maaf tuan. Tapi sepertinya itu sebuah kesalahpahaman. Saya tidak tahu kalau ada magnet di sana. Entah siapa pelakunya. Biar saya periksa tuan.” Laki-laki itu segera beranjak, bukan untuk mencari bukti tetapi untuk melarikan diri.


Sayangnya, Paul memahami siasat laki-laki ini. Ia segera menahan laki-laki itu untuk pergi dan mendudukannya di kursi yang menghadap Maximo.


“Aku ingin mendengar sebuah kejujuran. Katakan, untuk apa kamu melakukan hal itu?” Maximo duduk di meja bar dan menatap laki-laki itu dengan dingin.


Laki-laki itu hanya berani menunduk dan membuat Paul mengangkat wajah laki-laki itu dengan bantuan senjata.


“U-untuk mendapatkan keuntungan, tuan.” Laki-laki itu terpaksa menimpali. Posisinya terdesak dan ia belum bersiap jika kemudian Maximo tahu kecurangannya.


“Bagi siapa? Bagimu atau bagi Casino ini?” Maximo masih penasaran.


“Tentu saja bagi Casino ini, tuan.” Laki-laki itu menjawab dengan tegas, ketegasannya membuat Maximo menyeringai.


“Tunjukkan buku laporanmu,” titah pria itu.


“Sa-saya harus mengambilnya di ruang atas.”

__ADS_1


“Antar!” titah Maximo pada pengawalnya.


Dua laki-laki bertubuh tegap pergi ke lantai atas dan menemani laki-laki itu mengambil buku besarnya. Laki-laki itu masuk ke dalam sebuah ruangan dan mengambil buku yang ia peluk dengan erat.


“Bantu aku melarikan diri, aku berjanji akan memberi kalian bagian yang pantas.” Laki-laki itu berusaha membujuk dua pengawal Maximo.


“Benarkah? Berapa yang mau kamu berikan?” tanya pengawal itu.


“Dua puluh persen dari keuntungan malam ini.” Laki-laki itu menyeringai saat membuat penawaran. Ia sangat yakin kalau ia bisa menyuap dua pengawal ini.


“Dua puluh persen, angka yang cukup besar. Sayangnya, angka itu hanya kamu dapatkan jika tuan besar tidak menutup tempat ini. Kalau tempat ini di tutup, bayaran kami jauh lebih besar dari yang kamu tawarkan. Jadi, jangan beralasan. Aku tidak tergiur dengan penawaran yang kecil itu,” ujar pengawal itu dengan senyuman sarkas pada laki-laki yang menatapnya dengan kesal. Sepertinya ia merayu orang yang salah.


“Ya, segera turun, sebelum tuan maximo menyusulmu dan meledakkan kepalamu,” imbuh pengawal satunya.


“Brengsek!” laki-laki itu terpaksa menurut. Ia membawa buku besar itu turun dan memberikannya pada Paul. Pria tua itu membuka-buka buku besar milik laki-laki tersebut lantas tersenyum kecut.


“Aku tidak melihat penambahan keuntungan bagi Casino seperti yang kamu sebutkan tadi. Apa kamu sedang mempermainkan tuan besar?” Paul menutup buku itu dengan kasar. Suara hentakannya membuat laki-laki itu terhenyak.


Maximo tidak lantas menimpali, ia menghampiri laki-laki itu dan berdiri tegak di hadapan laki-laki tersebut.


“Aku ragu kamu akan melakukannya. Kalau aku tidak datang, mungkin kamu tidak akan menghentikan semua ini dan mengambil keuntungan untukmu sendiri.” Maximo menatap laki-laki itu dengan tajam.


“Ti-tidak tuan. Saya sudah berniat untuk melaporkan ini pada tuan. Keuntungan selama kecurangan ini sebesar lima juta dolar. Saya bisa segera mengirimkan uangnya ke rekening Casino saat ini juga. Tolong tunggu sebentar tuan.” Dengan gemetaran laki-laki itu mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia menggunakan aplikasi perbankan dan mulai mengetik-ngetik angka di keyboard ponselnya.


“Lima juta dolar tuan, Anda bisa melihatnya sendiri. Saya sudah mengirimkannya ke rekenning Casino ini.” Laki-laki itu menujukkan layar ponselnya pada Maximo.


Maximo mengangguk-angguk saja. “Bagus. Sekarang, segera lepas magnet di mesin itu dan bawa magnetnya kemari,” titah Maximo.


“Ta-tapi tuan, pengunjung sedang bermain. Kalau saya mengambilnya sekarang, mereka akan tahu kalau kita selama ini curang.”


“Kita? Siapa kita yang kamu maksudkan?” Maximo langsung berreaksi mendengar kata tersebut.

__ADS_1


“Tidak tuan, maksud saya bukan kita, melainkan saya. Mereka akan tahu kalau saya melakukan kecurangan.” Laki-laki itu langsung mengklarifikasi ucapannya.


“Pikirmu aku peduli?” Maximo langsung berreaksi, menatap tajam laki-laki tersebut. “Lakukan sekarang atau aku akan mengeluarkanmu dari Casino ini. Ini kesempatanmu yang terakhir,” imbuh Maximo yang bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


“Ba-baik tuan.” Laki-laki itu segera beranjak. Ia terpaksa membubarkan semua pengunjung yang memenuhi Casino ini. Beberapa orang memprotesnya, tetapi laki-laki itu tetap dengan keputusannya untuk mengusir para pengunjung. Tekanan Maximo lebih menakutkan di banding protesan para pengunjung.


Setelah casino itu kosong, pria ini melepas satu per satu magnet yang ia tempelkan di mesin judinya. Ada sekitar delapan magnet yang ia bawa ke hadapan Maximo.


“Waw, usahamu cukup terrencana dan otakmu sangat picik,” komentar Maximo. Ia mengambil satu magnet dan beratnya cukup lumayan. Pantas saja bisa mengacaukan mesin judi itu.


“Saya sudah jujur pada Anda tuan, saya juga sudah memperbaiki semuanya. Tolong beri saya kesempatan tuan.” Laki-laki itu memohon dengan sungguh-sungguh.


“Kesempatan? Jaminan apa yang bisa kamu berikan kalau aku memberimu kesempatan?”


“Saya akan mengabdi pada Anda seumur hidup saya tuan. Saya berjanji.” Laki-laki itu memohon dengan sungguh, menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil bersimpuh di hadapan Maximo.


“Aku sangat terharu dengan ucapanmu.” Maximo tersenyum bangga pada laki-laki itu. Ia menepuk bahu pria tersebut dan laki-laki itu tampak tersenyum senang. Sepertinya ia berhasil merayu Maximo. Tetapi satu detik kemudian,


BUK! BUK! BUK!


Mata Maximo yang bulat berubah tajam dan hitam. Pria itu menghantamkan magnet besar itu di punggung leher dan kepala laki-laki itu hingga pria itu terkapar tidak berdaya dengan darah yang memenuhi lantai.


“Sayangnya aku tidak suka pengkhianat!” tegas laki-laki itu seraya melempar magnet yang ia gunakan untuk memukul laki-laki tersebut ke atas tubuhnya. Di tendangnya tubuh laki-laki itu beberapa kali, enggan berhenti hingga merasa puas.


Emosi Maximo benar-benar tidak terkendali. Napasnya sampai terengah karena melampiaskan kemarahannya pada laki-laki tersebut. Tubuh laki-laki itu mengejang beberapa kali saat nyawanya terlepas dari tubuhnya. Maximo hanya tersenyum sarkas, ia membayangkan kalau yang ia hajar itu adalah Wilson, laki-laki yang sangat ia benci dan ingin ia cabik-cabik tubuhnya.


“Tuan, tuan.” Paul segera menghampiri Maximo dan menahan tubuh laki-laki itu agar berhenti menendangi pria tersebut.


Maximo berhasilkan dihentikan, tetapi kemudian tubuhnya terkulai lemah. Tubuh tua Paul menyangganya. Maximo benar-benar terjatuh hingga tidak sadarkan diri. Hari ini pikirannya terlalu lelah, sepanjang hari membayangkan Samantha ada dihadapannya dalam sosok yang ia persepsikan sendiri di kepalanya.


“Sam, akankah kamu pulang? Lihat, laki-laki ini begitu menderita.”

__ADS_1


****


__ADS_2