
Kaki yang penuh luka itu kembali berusaha berdiri. Tidak ada kata menyerah di kampus seorang Samantha. Mantan altet taekwondo ini tidak putus asa untuk terus melatih kakinya yang masih sangat lemah dan baal. Dengan ditemani seorang terapis, ia melatih kemampuannya untuk merasakan sensasi di telapak kakinya.
Seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan, ia memijakkan kakinya di rumput, lalu berpindah ke pasir, sesekali jalanan berkerikil dan terakhir merendamnya di air kolam yang dingin. Gerald memperhatikan dari kejauhan. Kaki yang banyak memiliki perban luka itu tetap di buat bekerja keras oleh pemiliknya.
“Aku ingin melihatmu menari dengan kedua kaki itu Sam, tapi aku merasa takut jika kemudian kaki itu melangkah pergi meninggalkanku,” gumam pria itu sambil memandangi Samantha yang sedang menengadahkan wajahnya menyambut cahaya mentari pagi. Ia memang hanya bisa memandangi Samantha dari kejauhan. Wanita itu memberikan batasan jelas, jarak yang bisa ditolelir olehnya.
“Jangan mendekatiku Gerald, karena aku sudah diajarkan bagaimana cara membunuh tanpa menyentuh.” Samantha terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya, membuat Gerald terpaksa menjauh. Bukan karena ia takut, melainkan ia ingin menjaga kestabilan emosi Samantha. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa wanita itu karena rasa marah dan sedihnya. Ia putuskan untuk bersabar menunggu hati Samantha berbalik, karena sebenarnya wanita itu adalah wanita yang paling lembut hatinya. Ia hanya sedang membentengi dirinya agar terlihat lebih kuat.
Gerald kembali meneguk minuman hangat yang menemaninya bersantai. Kopi hitam yang memiliki cita rasa yang kuat. Sifatnya sama dengan prinsip seorang wanita, keras kepala soal rasa. Untuk mengubah rasanya ia perlu meracik dengan sempurna dan mencampurnya dengan gula atau krimmer agar lebih manis. Hanya saja, dengan begitu sensasi kopi itu sudah tidak lagi sama. Padahal kopi tidak pernah memilih siapa yang boleh menikmatinya. Hanya penikmatnya saja yang menentukan rasa seperti apa yang ingin ia rasakan.
“Selamat pagi, tuan,” sapa petugas terapi pada seseorang yang baru datang. Samantha ikut menoleh atas kedatangan laki-laki yang disambut Anne, sang terapis.
“Selamat pagi. Apa tuanmu ada di rumah?” tanya laki-laki itu yang tidak lain adalah Slavyk.
Samantha langsung terhenyak mendengar suara pria itu. Ia pura-pura membuang muka, menoleh ke arah lain sambil memejamkan mata, berharap Slavyk tidak melihatnya.
"Mengecil Sam, atau menghilanglah," gumam Samantha memantrai dirinya sendiri.
“Jelena? Oh maksudku, Samantha?” Terlambat, laki-laki itu mengenali Samantha lebih dulu. Samantha tersenyum kaku menyambut laki-laki ini.
__ADS_1
“Astaga thor, kamu masih belum membuatnya amnesia?” batin Samantha.
“Sabar Sam, yang menurutmu tidak baik, bisa jadi baik dalam sudut pandangku. Menolehlah, jangan terlihat bodoh.” Author kukuh.
Gadis itu menoleh dengan senyum kaku yang terlihat di wajahnya. "Ya ya ya, kamu yang menang, thor." Samantha memang sulit mengaku kalah.
“Bagaimana bisa kita bertemu di sini?" Laki-laki itu menghampiri Samantha, bahkan berjongkok di samping wanita itu.
"Entahlah, mungkin seseorang membuat duniaku sangat sempit."
"Jangan acungkan jari tengahmu padaku, Sam." Author.
"Kalian saling mengenal?” Gerald keluar untuk menemui Slavyk.
"Dia menyebut nama Michael bukan?" Samantha mengernyitkan dahinya, menatap tegas pada laki-laki yang berdiri dihadapannya.
"Kamu benar thor, kedatangan laki-laki ini tidak sia-sia." Meski terkejut, Samantha berpura-pura bodoh di hadapan Gerald. Laki-laki itu mengusap hidungnya canggung, satu rahasianya terbongkar begitu saja. Lihat saja mata Samantha yang mendelik padanya, lengkap dengan senyum sinis yang coba ia sembunyikan.
“Bantu aku, Anne.” Samantha mengulurkan tangannya pada terapisnya. Ia ingin beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Biar aku bantu," Gerald menghampiri. Berjongkok, lantas tangannya terulur untuk menggandong Samantha.
"Tidak perlu Michael, terima kasih." Samantha berujar dengan sinis. Ia bahkan mengibaskan tangan Gerald dengan kasar.
Slavyk cukup terkejut dengan respons Samantha. Laki-laki itu memalingkan wajahnya lalu menunduk seraya menahan senyum. "Memang sakit rasanya di tolak oleh wanita ini," gumam Slavyk.
Gerald pun terpaksa mundur, seorang Samantha tidak pernah bisa ia paksa.
"Boleh ku bantu?" Berganti Slavyk yang berjongkok dan menatap Samantha dengan lekat. Ia merasa ini kesempatan yang baik.
"Ya, tolong bantu aku tuan Slavyk." Samantha berpikir cepat dan mengiyakan tawaran Slavyk. Ia merasa ini kesempatan yang baik untuk meminta pertolongan. Beragam siasat langsung tersusun di kepalanya. Terlalu lama bersama Maximo membuat otaknya berpikir dengan cepat.
Dengan senang hati Slavyk meraih tangan Samantha lalu melingkarkan tangannya di leher. Dengan kekuatan penuh ia membawa Samantha dalam gendongannya. Gerald mengeram kesal, hanya saja ia tidak bisa berbuat banyak. Ia membiarkan Slavyk melewatinya sambil membawa Samantha masuk ke dalam rumah. Mendudukannya di sofa bahkan menghanduki kaki Samantha yang basah. Samantha melihat benar usaha laki-laki itu untuk bersikap lembut padanya. Saat tanpa sengaja bertatapan, mereka saling melempar senyum.
“Anda bisa duduk Tuan Slavyk, biar terapis yang melakukannya.” Gerald segera angkat bicara. Ia memandangi Samantha dengan perasaan tidak karuan. Cemburu, tidak rela, marah, kesal yaaa, perasaan semacam itulah.
“Aku lebih menyukai pijatanmu tuan Slavyk. Maaf kalau kedua kaki yang lumpuh ini merepotkanmu.” Samantha yang menimpali. Ia berujar dengan penuh penekanan, mengabaikan ucapan Gerald beberapa saat lalu.
“Aku tidak merasa direpotkan.” Slvyk benar-benar menikmati perannya. Samantha tersenyum penuh kemenangan pada laki-laki yang memandanginya dengan tajam. Sementara Gerald hanya bisa mengusap wajahnya kasar, tingkah Samantha mulai berada di luar perkiraannya.
__ADS_1
Rasa marah, kecewa dan kesal bercampur menjadi satu dalam hati dan pikiran samantha. Ia masih tidak habis pikir dengan sosok Gerald yang tidak dikenalinya. Andai saja Slavyk tidak datang ke tempat ini, mungkin ia tidak akan pernah tahu kalau Michael yang dimaksud oleh Slavyk adalah laki-laki ini. Apakah dia juga Michael, kakak dari Maximo? Apa itu alasan mengapa passcode ponsel Gerald adalah empat kode rahasia yang dicari banyak orang? Apa itu alasan mengapa nomor Slavyk ada di ponsel Gerlad? Lalu mengapa Gerald sampai menyembunyikan identitasnya? Apa alasannya?
****