Sangkar Asmara Sang Mafia

Sangkar Asmara Sang Mafia
SASM - Kemarahan


__ADS_3

Samantha dan Maximo mengguncang-guncang pintu besi yang ada dihadapan mereka. Sepruh ruangan ini sudah dipenuhi oleh nyala kemerahan dari api yang merambat cepat. Tetapi pintu ini sangat sulit untuk di buka.


“Uhuk! Uhuk!” Samantha semakin sering terbatuk. Napasnya terasa sesak karena asap mulai memenuhi seisi ruangan.


“Bertahanlah, Sam!” seru Maximo yang berusaha mencari cara di tengah rasa paniknya.


Samantha tidak menimpali, tenggorokannya terasa tercekik oleh asap yang memenuhi ruangan ini. Maximo memandangi Samantha dengan khawatir, sepertinya wanita itu susah tidak bisa bertahan. Tanpa berpikir panjang, Maximo mengambil bom yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya. Lantas ia menarik tangan Samantha untuk menjauh dari pintu besi yang mendadak kokoh itu. Setelah cukup jauh, Maximo melepas pengaman bom lalu melemparkannya ke arah pintu yang tertutup rapat.


DHUAR!!!


Ledakan keras itu membuat pintu besi bolong di bagian tengah. “Ayo kita keluar dari sini!” seru Maximo pada Samantha. Ia menarik tangan Samantha dengan kuat dan genggamannya sangat erat.


DHUAR!


Ledakan keras berikutnya membuat seisi Gudang itu meledak. Tubuh Samantha dan Maximo sampai ikut terhempas oleh hawa panas yang mengisi seisi ruangan dan mendorong tubuh keduanya. Mereka terhempas cukup jauh dari Gudang itu.


“Sam,” Maximo berusaha untuk bangkit. Ia melihat Samantha terbaring lemah di atas tanah.


Gudang yang berada di hadapan mereka perlahan hangus di lahap api yang menyambar-nyambar. Dengan sisa tenaganya, Maximo berusaha menghampiri Samantha. Ia meraih tubuh wanita yang setengah sadarkan diri dengan napas yang terengah-engah menahan sesak. Rupanya Samantha menghirup cukup banyak gas beracun di dalam Gudang.


“Astaga, Sam.” Maximo membawa tubuh Samantha ke atas pangkuannya. Gadis itu berusaha membuka matanya, tetapi sepertinya sangat sulit. “Bertahanlah, aku mohon.” Maximo memeluk Samantha dengan erat. Ia mencoba menghubungi Paul melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.


“Paul! Kamu di sana?” tanya Maximo saat terdengar suara tidak jelas dari Paul.


“Tuan, kita di serang.” Suara Paul terdengar terputus-putus. Tidak lama terdengar suara tembakan terdengar.

__ADS_1


“SIAL!” dengus Maximo dengan kesal. Ia membopong tubuh Samantha di bahunya, berjalan tertatih-tatih menjauh dari Gudang. Ia berusaha berlindung di balik tembokan tinggi itu. Dua orang pengawalnya sudah meninggal dengan dipenuhi luka tembakan.


Maximo mengintip dari celah dari pintu itu. Ia melihat mobilnya sedang ditembaki dan Paul berlindung di balik mobilnya. Tidak memberi perlawanan sama sekali karena laki-laki itu kalah jumlah. Maximo menurunkan Samantha di tempat yang aman. Dari tempat persembunyiannya, Maximo menembaki orang-orang itu tanpa ampun hingga seluruh pelurunya habis. Ia juga mengambil senjata milik Samantha dan membombardir lawannya dengan penuh kemarahan.


Satu per satu lawannya berjatuhan dengan luka tembak yang Maximo sarangkan. Sementara beberapa orang lainnya berlarian masuk ke dalam mobil mereka kemudian melarikan diri.


“SIAL!” Lagi Maximo mendengus kesal. Ia memandangi sekelilingnya yang sangat berantakan. Mayat berjatuhan, tidak terkecuali orang-orang pilihannya. Samantha yang terbaring lemah juga Paul yang bersembunyi dengan ketakutan. Ia tidak menyangka kalau ia akan mendapat serangan dari orang-orang yan tidak dikenal.


Maximo memeriksa mayat satu orang lawannya. Dari wajahnya, ia mengenali orang-orang ini sebagai orang Rusia. Apa mungkin mereka adalah anak buah mafia yang ia bunuh beberapa tahun silam?


****


Hanya lima orang yang berhasil selamat dalam pertempuran yang tiba-tiba itu. Maximo, Paul, Samantha dan dua orang pengawal sisanya. Mereka segera pulang ke kediaman Maximo setelah mengobati luka-luka mereka di salah satu klinik kenalan Maximo.


Maximo membaringkan Samantha di atas pangkuannya. Ia menatap Samantha dengan khawatir. Hatinya mengumpati siapapun yang tadi menyerangnya. Ia berjanji dalam hatinya kalau ia akan membuat perhitungan dengan orang-orang itu.


“Saya menemukan salah satu identitas dari mereka. Dia berkebangsaan Rusia, tuan,” ujar Paul dengan yakin.


Maximo terdiam, dugaannya tepat dan otaknya langsung berpikir. Entah mafia mana yang menyerangnya saat ini dan mengetahui kalau Maximo datang ke Gudang ini. Gudang ini seperti perangkap yang sudah mereka siapkan dan akan mereka serang kapanpun Maximo datang ke tempat ini. Sepertinya mereka sangat yakin kalau suatu hari Maximo akan datang ke tempat ini.


“Cari semua latar belakang laki-laki itu dan laporkan padaku setelah kamu mendapatkan data yang lengkap.” Mata Maximo sudah berapi-api. Sungguh, ia tidak akan memberi ampun pada mereka.


“Baik tuan.” Paul menyahuti dengan patuh.


Perhatian Maximo kini tertuju pada wanitanya yang terlelap di pangkuannya. Ia mengusap kepala Samantha dan mendengarkan dengan benar setiap helaan napas Samantha yang perlahan mulai tenang. Sudah setengah jam berlalu dan saat ini mata Samantha terlihat mengerjap.

__ADS_1


“Max,” panggil gadis itu.


“Ya, aku di sini. Apa ada yang sakit?” Maximo terlihat sangat cemas.


Samantha menggeleng lantas tersenyum pada Maximo. Napasnya sudah tidak lagi terasa sesak, hanya tubuhnya saja yang terasa sakit karena terhempas cukup jauh.


“Aku sangat merepotkanmu. Entah mengapa tubuhku tidak sekuat biasanya.” Samantha berusaha bangkit walau kepalanya masih terasa pusing.


“Tidak ada yang merepotkanku. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik.” Maximo membantu Samantha untuk bangkit dan duduk bersandar. Ia juga mengambilkan sebotol air mineral untuk wanitanya.


Samantha memandangi botol ditangannya dengan gusar, pikirannya masih tertaut pada kejadian di Gudang. Maximo paham benar dengan apa yang sedang dipikirkan wanitanya. Ia mengambil botol dari tangan Samantha lalu membuka penutupnya.


“Aku akan mengatasinya dengan baik, jadi tenanglah.” Laki-laki itu berujar dengan sungguh.


Samantha menatap Maximo beberapa saat lalu mengambil botol itu dari tangan Maximo dan meneguknya. Maximo masih memandangi gadis itu, otot lehernya bergerak naik turun dan rasanya Maximo ingin menyesapnya, tetapi ia tidak bisa melakukannya saat ini. Ia hanya bisa mengigit tangannya sendiri untuk mengalihkan keinginannya.


“Tetap libatkan aku dalam masalah ini dan jangan menyembunyikan apapun dariku. Ku mohon,” pinta Samantha. Ia tidak mau karena kekhawatiran Maximo sehingga pria itu mengambil langkah sendiri.


“Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau hal seperti tadi terjadi lagi padamu, Sam.” Maximo begitu mencemaskan gadis itu.


“Aku akan bersikap lebih baik lagi dalam menjaga diriku sendiri, jadi jangan khawatirkan apa pun.” Samantha berujar dengan sungguh. Ia tidak mau Maximo terlalu mencemaskannya. Ia juga tidak mengerti mengapa ketahanan tubuhnya saat ini melemah hingga membuat Maximo khawatir. Apa karena ia membayangkan jasad Gerald ada di tempat itu atau karena ada hal lain?


“Aku pun akan menjagamu dengan lebih baik lagi, Sam.” Itu janji Maximo saat ini. Ia menangkup satu sisi wajah Samantha lalu mengusapnya dengan lembut. Samantha tidak menimpali, ia memilih mengecup bibir Maximo dengan lembut. Maximo menyambutnya dengan senang hati. Ia *****4* bibir gadis itu dengan penuh perasaan.


“Kenapa?” tanya Maximo saat tiba-tiba Samantha menjauh darinya. Melepaskan pagutan mereka tiba-tiba.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku hanya masih perlu bernapas.” Samantha beralasan dengan sekenanya. Padahal ia merasakan mual yang datang tiba-tiba. Ada apa dengan tubuhnya?


****


__ADS_2