
Sepasang insan itu masih terbaring sambil berpelukan di bawah selimut yang tebal. Sudah tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh keduanya. Tubuhnya sangat lemas setelah beberapa pergulatan mereka lalui. Usapan halus di berikan Samantha pada lengan kokoh Maximo yang ia jadikan bantal, lalu ia kecupi beberapa kali dan sekali lalu ia gigit dengan gemas.
“Kamu sudah bangun?” suara besar Maximo pun terdengar jelas. Rupanya laki-laki itu terusik oleh tingkah iseng Samantha.
“Hem, tetaplah peluk aku seperti ini, Max.” Samantha menarik satu tangan Maximo dan melingkarkannya di pinggangnya. Laki-laki itu refleks mengusap-usap perut Samantha yang masih rata. Mereka berbaring menyamping dan kaki Maximo masih menghimpit kaki Samantha di bawah selimutnya.
“Kamu menyukainya?” tanya Maximo saat ia membuat gerakan memutar di permukaan perut Samantha dan membuat rambut halus di permukaan tubuhnya meremang.
Wanita itu mengangguk sambil terkekeh geli. Tetapi tawanya berhenti saat sesuatu melintas dipikirannya. “Max,” ia memanggil Maximo dengan suara menggantung.
“Hem,” laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu memberi respon singkat. Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Samantha, hingga rapat, tanpa jarak yang berarti.
“Bagaimana kalau ternyata kakakmu masih hidup?” tanya Samantha tiba-tiba. Ia mengingat Gerald yang ia tinggalkan di pulau terpencilnya.
Mata Maximo pun terbuka tiba-tiba mendengar pertanyaan itu. “Apa salah satu keahlianmu menjalin tali kasih saudara yang terpisah?” Maximo balik bertanya.
Samantha tidak lantas menjawab, ia membalik tubuhnya menghadap Maximo, sedikit menengadah untuk menatap wajah laki-laki yang berada di atasnya. Tangannya iseng mengusap-usap dada bidang Maximo yang memiliki banyak rambut halus.
“Kamu serius?” Maximo kembali bertanya, sepertinya Samantha bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Kalau dia benar-benar masih hidup, aku yakin dia akan datang ke sini untuk menemuimu,” Samantha tidak berani berkata gamblang. Ia khawatir kalau Maximo tahu bahwa Michael adalah orang yang menculiknya, maka laki-laki ini akan langsung menembak kakaknya tanpa mengetahui kalau pria itu sang kakak yang selama ini ia cari.
“Hemh, aku pikir kamu bertemu dengannya, Sam. Aku sangat kaget, karena takut dia melakukan sesuatu terhadapmu.” Laki-laki itu sedikit bisa bernapas lega karena pertanyaan Samantha ia pikir hanya sebuah pengandaian. Namun, kalau memang Michael masih hidup, tentu ia akan sangat bahagia.
“Apa kamu berharap kalau kakakmu masih hidup?” Samantha masih dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
“Apa ada saudara yang berharap saudaranya mati?” Maximo memang suka sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.
“Aku harap tidak,” ujar Samantha seraya mengecup dada Maximo.
Laki-laki itu tersenyum kecil, lalu melingkarkan kembali tangannya di pinggang Samantha. Mengusap otot sintal yang sangat lembut saat ia usap. Kenyal rasanya saat ia cubit. Rasanya ia ingin mengulang kembali pergulatan hebat beberapa saat lalu. Ia segera bangkit dan bertekuk lutut di depan pabrik Samantha. Ia mengecup sepasang bibir itu dengan lembut, membuat Samantha menggelinjang geli.
“Tolong berhenti dulu, Max. Perutku kram,” ucap Samantha di sertai lenguhan.
“Kenapa? Bagian mana yang sakit?” Maximo segera menghentikan keisengannya.
“Di sini,” Samantha membawa tangan Maximo untuk menyentuh perut bagian bawahnya.
“Apa aku melakukannya terlalu keras sampai kamu kram? Perlu aku panggilkan dokter?” Laki-laki itu tampak cemas merasakan perut bawah Samantha yang memang menegang.
“Ya, tolong panggilkan dokter. Aku rasa kita harus memeriksa pelurumu yang bersarang di perutku.” Samantha sedikit meringis.
“Beberapa kali, dan tembakanmu sangat tepat hingga menciptakan kehidupan yang baru di dalam sini.” Samantha kembali menyentuhkan tangan Maximo di permukaan perutnya. Lihat senyumnya yang iseng.
“Maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti,” Maximo benar-benar frustasi dan merasa ketakutan sendiri.
Samantha hanya terkekeh, lantas berusaha untuk bangkit. Ia meraih pundak Maximo lalu berbisik lirih, “Kamu menanam benihmu di rahimku, seorang Maximo Junior,” bisik Samantha dengan lembut.
“APA?!” Maximo langsung berseru.
“Astaga! Kenapa berteriak Max? Kamu mengagetkanku!” protes Samantha sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang. Perutnya juga tegang karena suara tiba-tiba Maximo.
__ADS_1
“Ma-maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya sangat kaget,” Laki-laki itu salah tingkah, bingung bagian tubuh Samantha yang mana yang harus ia pegang. “Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tidak masalah aku menyemprotnya beberapa kali?” Laki-laki itu semakin panik, lihat matanya yang membulat dengan penuh rasa bersalah.
Samantha tidak kuasa menahan senyumnya, Maximo memang menggemaskan.
“Jangan tertawa Sam, katakan dengan jelas, itu artinya kamu sedang mengandung anakku kan? Benihku bukan?” Maximo ingin jawaban yang jelas.
Samantha mengangguk pasti seraya tersenyum.
“Astaga! Astaga!” laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar, beberapa saat membeku sambil menatap perut bawah Samantha. Lalu perlahan ia menitikkan air mata, “Aku akan menjadi seorang ayah kan, Sam?” Suara laki-laki itu terdengar bergetar. Ia menatap tidak percaya pada Samantha.
“Ya, enam bulan ke depan, akan ada yang menganugrahimu gelar dady, Max.” Samantha mencolek hidung bangir Maximo.
Maximo tidak bisa berkata-kata. Ia segera memeluk Samantha dengan erat, sangat erat. Ia masih tidak menyangka kalau ada Maximo junior yang berhasil ia ciptakan bersama Samantha. Berselimut perasaan haru dan bahagia, Maximo mengecupi kepala, pipi dan tentu saja bibir Samantha dengan rasa haru. Terakhir kali, ia melepaskan pelukannya lalu mengusap perut Samantha dan menciumnya cukup lama.
“Hay, apa aku mengguncangmu terlalu keras?” suara Maximo mendadak pelan, penuh rasa bersalah. Samantha gemas sendiri melihat tingkah suaminya.
“Dia tidak bisa menjawab. Panggilkan saja dokter, dokter yang akan memastikan jawabannya.”
“Iya, aku akan segera memanggil dokter. Tunggu sebentar Sam,” laki-laki itu segera bangkit dari ranjangnya. “PAUL!!!” teriaknya.
“Maximo! Pakai dulu celanamu!” panggil Samantha.
“Akh iya, astaga aku lupa.” Maximo kembali untuk memakai celananya yang tergeletak di lantai dengan tergesa-gesa.
“Lihat ayahmu nak, tingkahnya sangat menggemaskan.”
__ADS_1
****