
Ditempat terpisah, William masih memandangi benda kecil yang ada ditangannya. Sesekali ia nyalakan dan sesekali ia matikan. Ia tersenyum sendiri mendapati benda kecil ini ada dikediamannya. Entah siapa yang menggunakan pelacak ini dan entah apa tujuannya.
Maximo kah pelakunya?
“Kamu sudah menemukan seseorang yang mencurigakan?” tanya William pada seseorang yang sedang memeriksa rekaman CCTV nya.
“Ada tuan,” sahut pria tersebut. Ia menunjukkan potongan rekaman CCTV pada William yang tampak penasaran.
“Wanita ini tuan,” laki-laki itu menunjuk Samantha yang berjalan menuju ruang kerja William.
“Wanita ini menghilang beberapa saat seperti ditarik seseorang, tapi lima menit setelah itu, gadis ini muncul lagi dan seperti menggaruk telinganya lalu membuang benda ini.” Laki-laki itu melanjutkan pemutaran video dan William tersenyum kecil.
“Menarik, dia wanitanya Maximo. Tapi mengapa dia membuang benda ini disini? Apa karena misinya sudah selesai atau,” William menggantung kalimatnya dan memejamkan matanya berusaha untuk berpikir.
“Cari CCTV yang mengarah pada orang yang menarik tangan wanita ini.” William memberi perintah berikutnya.
“Baik tuan,” laki-laki itu segera melakukan pencarian. Pergerakan seseorang yang sedang ia cari memang lihai dan bisa menghindari beberapa kamera pengawas. Tetapi kemampuan orang kepercayaan William tidaklah rendah, ia bisa menemukan sesuatu yang bahkan tersembunyi.
“Silakan, tuan,” ujar pria itu seraya menunjukkan wajah pelaku yang menarik tangan Samantha.
William lalu tersenyum, “Hello Wilson.” Laki-laki itu menyapa sosok Wilson yang ada dilayar monitor. Lantas laki-laki itu tertawa, tertawa sangat keras saat ia bisa membaca cara kerja mantan rivalnya beberapa tahun lalu.
“Agent bodoh, dia masih saja bertingkah sembarangan. Apa yang kali ini kamu inginkan dari Maximo, hem?” William bisa melihat kalau yang sedang diincar Wilson bukanlah dirinya melainkan Maximo, teman sekaligus lawan bisnisnya.
“Baiklah, karena kamu sudah bermain-main diareaku, kita buat permainan ini semakin seru.” William mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.
“Mau gabung dalam permainanku?” tanya William pada seseorang disebrang sana.
****
Pagi ini, Maximo masih membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air shower. Air yang cukup dingin pagi hari ini, sangat bisa meredakan gelojak perasaan yang sejak semalam ia tahan. Busa sabun masih menyelimuti tubuhnya dan ia bersihkan sedikit demi sedikit dari ujung kepala hingga ujung kaki. Napasnya ia buat teratur, sesekali ia meniupkan bulir air saat membuang napas lalu menahan napasnya lagi saat ia perlu menjaga kadar okigen didalam dadanya.
__ADS_1
“Sepertinya sangat segar.” Tiba-tiba saja seseorang ikut masuk ke kamar mandi.
“Astaga, Samantha! Apa yang kamu lakukan?” Maximo segera menarik handuk yang ada dirak dan menutupi bagian bawah tubuhnya.
“Bokongmu cukup indah!’ Samantha menepuk bokong Maximo lalu lewat begitu saja menuju closet. Ia duduk untuk buang air kecil sambil memandangi tubuh atletis Maximo. Rambut Samantha masih berantakan, tetapi penampilannya yang alami dan senyumnya yang menggoda membuat Maximo harus memalingkan wajahnya dari gadis itu. Ia tidak boleh gagal lagi mengendalikan dirinya.
“Kamu tau kalau aku bisa melewati batas!” Maximo memilih keluar dari bilik kamar mandinya dan segera mengambil baju. Bilik kamar mandinya memang hanya ruang kaca transparan dan ditutupi oleh tirai yang bisa dibuka dan ditutup kapan saja.
“Baguslah. Itu artinya aku menang.” Jawaban Samantha memang selalu berhasil menyudutkan Maximo.
Maximo segera berpakaian, menyisir rambutnya. Samar ia melihat Samantha membuka tirainya membuat ia bisa melihat Samantha yang berada didalam sangkarnya. Gadis itu berdiri dibawah shower, sengaja mengguyur tubuhnya yang masih memakian gaun tidur berbahan satin, membuat gadis itu terlihat sangat s3ksi. Lihat juga lekukan tubuhnya yang tergambar begitu jelas. Apa dia benar-benar sedang menguji kesabaran Maximo?
“Apa tanda itu yang dicari oleh semua orang? Tiga dua empat dua.” Samantha masih terus berbicara. Akhirnya ia bisa melihat kode angka di bagian tubuh Maximo yang selalu tersembunyi.
“Jaga mulutmu, jangan mengucapkan kode itu sembarangan!” Maximo terlihat meradang. Ia tidak menyangka kalau Samantha memperhatikan tubuhnya sampai ke bagian itu.
“Masuklah, kalau kamu ingin membalasku.” Samantha sengaja melepas pakaiannya dan menunjukkan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun dihadapan Maximo.
“Mana yang lebih penting, kode itu, atau aku?” Gadis itu membuat sebuah penawaran.
“Sebaiknya kamu membunuhku Max, karena mulutku ini sangat lancang dan bisa mengatakan kode itu pada siapapun. Terkecuali, kamu menjawab beberapa pertanyaanku.” Wanita itu masih melanjutkan mandinya sambil terus bernegosiasi. Menyabuni tubuhnya juga memberi shampoo di rambutnya sambil menunggu jawaban Maximo.
“Katakan!” Maximo menatap dirinya di cermin sambil duduk ditepian tempat tidur dan membelakangi Samantha. Meski begitu bayangan samantha masih terlihat diruangan kaca yang berembun.
Samantha tidak lantas menimpali, rupanya Maximo memilih bernegosiasi dibanding harus membunuh dirinya. Tetapi entahlah kalau ternyata pertanyaan Samantha membuat Maximo harus menodongkan senjatanya pada gadis cantik yang sudah menguasai hati dan pikirannya.
Diambilnya kimono mandi yang tergantung dan ia kenakan. Tidak lupa ia mengencangkan tali pengikat dipinggangnya dan sedikit menyisir rambutnya hingga rapi, ditempat Maximo tadi.
“Di rumah ini aku hanya melihat fotomu saat dewasa. Apa kamu memiliki foto saat kamu masih kecil?” Samantha memulai pertanyaannya. Ia berjalan dengan gemulai menghampiri Maximo lalu duduk dipangkuan laki-laki itu sambil menyilangkan kakinya. Kimononya sedikit terangkat dan menunjukkan kulit pahanya yang putih dan bersih.
Maximo menatap Samantha dengan waspada, tetapi ia membiarkan Samantha duduk dipangkuannya, tepatnya dipaha kanannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apa pentingnya untukmu?” Maximo balik bertanya.
“Aahhh, Maximo sayang, aku tidak suka mendapat jawaban dengan pertanyaan lagi.” Samantha mengalungkan tangannya dileher Maximo lalu menyentuhkan hidungnya dihidung Maximo seraya tersenyum sinis.
Maximo harus menelan salivanya kasar-kasar, tubuh Samantha yang masih berair ini benar-benar menguji kesabarannya. Lihat lelehan air sisa mandi yang mengalir dari kepala, melewati lehernya yang jenjang lalu bermuara disela dadanya yang berisi. Iblis ditubuhnya seperti bangkit ingin menerkam Samantha. Namun ia tidak mau kalah dengan trick Samantha yang sedang berusaha menundukkan egonya.
“Aku punya dua saudara, Michael dan Mirella.” Maximo tertunduk beberapa saat.
“Oh ya, dimana mereka sekarang? Bisakah kamu menatapku saat sedang berbicara denganku?” Samantha sengaja menangkup wajah hangat Maximo dengan tangannya yang dingin dan menolehkannya ke arahnya.
“Jangan main-main denganku Samantha!” Maximo menarik tangan Samantha dan menggenggamnya dengan erat. Ia menatap mata Samantha dengan tajam seolah berusaha mengusir perasaan yang bercampur aduk didadanya. Marah, kesal, benci, sedih dan cinta. Perasaan cinta yang terlalu kuat dan menguasai hatinya.
“Cengkramanmu memang menyakitkan Maximo, tapi itu sudah tidak memberiku rasa sakit. Separuh jiwaku sudah mati, tidak ada artinya kalau kamu menyakitiku.” Samantha berbicara dengan pelan namun penuh penekanan.
Maximo pun melepaskan cengkraman tangannya. Apa yang Samantha katakan, bisa ia buktikan dari sorot matanya yang kesakitan dan penuh kemarahan. Wanita ini memang sudah tidak takut mati. Laki-laki itu memberanikan diri menatap Samantha, ia ingin mengukur seberapa dalam perasaannya sendiri.
“Mereka berdua hilang, saat Cortez bersitegang dengan seorang mafia rusia.” Jawaban Maximo lugas namun penuh kesakitan. Samantha terhenyak mendengar pengakuan tersebut.
“Kami bertiga sama-sama memiliki tanda diarea tersembunyi kami, yang kalau digabungkan, itu akan menjadi kode pembuka brankas yang menyimpan harta kekayaan Cortez yang disembunyikan disuatu negara.” Sampai kalimat ini Maximo terdiam. Ia sangat merindukan kedua saudaranya yang terpisah karena kejadian itu.
“Aku boleh melihat wajah mereka?” Samantha semakin penasaran. Ada yang berbeda pada gadis itu, yaitu nada suaranya yang mulai merendah karena ikut merasakan kesedihan Maximo.
Maximo tidak menimpali. Ia mengangkat tubuh Samantha beberapa saat lalu mendudukan wanita itu ditempatnya. Lantas laki-laki itu beranjak untuk mengambil sesuatu di dalam laci sebelah ranjangnya. Ia membawa sebuah foto mendekat pada Samantha dan kembali duduk disamping gadis itu.
“Aku hanya punya foto ini. Foto usang dihari kami diadopsi oleh Cortez untuk menjadi anak angkatnya. Kami sangat bahagia hari itu, tepat satu bulan sebelum mereka berdua hilang.” Maximo menunjukkan foto yang ada ditangannya pada Samantha dan membuat gadis itu terhenyak. Fotonya sama persis dengan yang ditunjukkan Wilson hanya saja difoto Maximo ada dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Satu anak laki-laki difoto Wilson tidak ada dan entah apa alasannya.
“Aku sudah memberitahumu rahasia terbesarku Sam, aku harap itu bisa menambah kepercayaanmu terhadapku.” Maximo tertunduk lesu kemudian menoleh Samantha yang memandanginya dengan wajah penuh keterkejutan.
Banyak hal yang berdebat dirongga kepala Samantha. Tentang siapa Maximo, siapa saudara-saudaranya dan tentu saja tentang siapa yang sebenarnya membunuh Gerald. Ia mulai berpikir, kalau Wilson mungkin hanya memanfaatkannya untuk masuk ke dalam sangkar Maximo dan mencari kode rahasia itu. Kematian Gerald hanyalah sebuah cambukan agar Samantha mau membantunya.
Lalu siapa yang sebenarnya membunuh Gerald? Ia mulai sangsi jika itu adalah Maximo.
__ADS_1
“Aku mulai mempercayaimu Max, hanya saja aku masih harus pura-pura keras kepala agar kamu mau membantuku mencari siapa pembunuh Gerald. Dengan begitu aku akan benar-benar mempercayaimu,” batin Samantha.
****