
“Tuan! Tuan!” Nora berlari dengan cepat menghampiri Maximo yang berada di meja makan. Tanpa rasa takut wanita itu mengusik bayangan Samantha yang sedang bermesraan dengan tuan besarnya.
“Tuan, tolong lihat ini sebentar.” Nora segera memberikan benda pipih yang sudah tidak menyala lagi itu pada Maximo. Tangannya gemetar hebat dengan wajah yang panik.
Maximo segera mengambil benda itu dari tangan Nora. “Dari mana kamu mendapatkan ini?” Laki-laki itu menatap Nora penuh selidik. Ia mencoba menyalakannya, tetapi sudah mati.
“Saya menemukannya di laci meja rias nona Samantha. Tadi saya lihat benda itu masih menyala. Ada titik merah yang bergerak ke sana ke sini juga ada lampu yang menyala-nyala di sini.” Nora menunjuk lampu indikator yang sudah padam.
Tanpa menunggu lama, Maximo segera berlari ke kamarnya dengan membawa benda pipih itu. Ia mencari alat pengisi daya untuk pelacak ini.
“Cepat cari alat pengisi dayanya!” Maximo berseru dengan keras. Para penjaga segera mencari alat pengisi daya benda tersebut. Paul ikut sibuk, mencarinya di kamar Samantha, lalu di ruang kerja Maximo, tetapi tetap tidak ada.
“Ini tuan?” Alicia mendapatkannya dari kolong tempat tidur Samantha.
Maximo segera merebutnya. Ia menghubungkan pengisi daya itu dengan sumber listrik. Ia sangat gelisah menunggu benda itu menyala. Tangannya yang mengepal ia gigiti dengan kesal.
__ADS_1
“AKH! LAMA SEKALI!!!” Laki-laki itu benar-benar tidak sabar. Ia ingin tahu siapa yang menggunakan alat pelacak ini. Apa mungkin Samantha?
Dua menit rasanya sewindu, itu yang dirasakan Maximo saat ini. Baterai baru terisi sekitar empat persen, tetapi Maximo tetap berusaha menyalakan benda tersebut. Harap-harap cemas menunggu dan akhirnya benda itu menyala.
Tulisan ‘Searching’ sudah menjadi musuh Maximo karena tampilannya sangat lama. Rasanya Maximo ingin menghancurkan benda ini kalau saja ia tidak sadar sedang ia perlukan. Layarpun mulai menyala, menujukkan sebuah denah lokasi dengan banyak garis besar dan kecil yang mendominasi. Beruntung Maximo sudah mematikan alat pengacak sinyal di rumah ini sejak sebulan lalu, sehingga ia masih bisa melihat arah pergerakan titik merah dari sesuatu yang ditempeli pelacak ini.
“San Gabriel!” seru Maximo saat ia sudah yakin dengan titik tersebut. “Kita akan ke sana!” imbuh laki-laki itu.
“Segera bersiap, perjalanan kita sekitar 8.45 mil ke arah timur.” Paul memberi perintah pada seorang pengawal. Ia juga mengambil pakaian Maximo dan memakaikannya pada tuan besarnya.
“Baik tuan.” Paul hanya bisa patuh. Ia memilihkan pakaian berbahan dasar kaos warna navy, warna favorit nona mudanya. Ia juga memilihkan mantel yang tebal untuk Maximo, agar tuannya tidak kedinginan. Sebuah syal juga ia pilihkan untuk tuan besarnya.
Maximo sudah terlihat gagah. Ia memandangi dirinya di cermin. Wajahnya memang tidak seperti biasanya, ada banyak rambut halus yang menutupi wajahnya. Tetapi tidak ada waktu untuk membersihkannya. Ia sangat yakin kalau Samantha akan menerima seperti apapun penampilannya.
“Berikan parfumku Paul,” pinta Maximo seraya menengadahkan tangannya.
__ADS_1
“Silakan, tuan.” Paul segera memberikannya. Maximo menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuhnya sampai seisi kamarnya wangi parfum yang menyengat. Laki-laki ini sangat siap untuk bertemu dengan wanitanya. Sebuah topi menyempurnakan penampilan tampan dan gagahnya.
Setelah semuanya rapi, Maximo segera turun. Ia mengantongi beberapa pucuk senjata yang ia siapkan jika ia terpaksa harus membunuh seseorang. Ia berjalan dengan tegas menuju mobilnya dan membanting pintu dengan kasar setelah ia berada di dalam.
Sepanjang perjalanan Maximo terus memperhatikan radarnya. Object sasarannya terus bergerak, apa mungkin karena Samantha masih hidup. Hah, hati Maximo berbunga-bunga. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang membuatnya benar-benar gila.
“Tuan, kita sudah memasuki kawasan San Gabriel,” ujar Paul.
Maximo segera turun di pusat kota San Gabriel. Sebuah daerah dengan dikelilingi pegunungan dan cuaca yang cukup hangat membuat Maximo semakin bersemangat. Sambil berjalan, ia mengikuti arah yang ditunjukkan radar. Titik merah itu semakin dekat saat ia melewati sebuah café. Tanpa rasa ragu Maximo pun masuk. Ia melihat sekitaran café yang cukup luas. Ada area indoor dan outdoor.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” sapa seorang pelayan café.
Tetapi Maximo tidak menimpalinya. Ia terus berkeliling di tempat itu hingga kemudian ia melihat seorang wanita sedang berjalan di hadapannya, membelakanginya. Tubuhnya lebih kurus dari Samantha, tetapi tingginya sama. Rambutnya bergelombang dan kecoklatan. Apa dia Samantha?
Tanpa berpikir panjang, Maximo menarik tangan wanita itu dan membawanya ke sebuah sudut sambil membekap mulutnya, agar tidak berteriak karena kaget.
__ADS_1
****