
Dua buah mobil melaju berdampingan di jalanan ramai kota Los Angeles. Mobil sport berwarna hitam dikemudikan oleh Maximo, sementara yang berwarna merah dikemudikan oleh Samantha. Hari ini, keduanya berniat mengumpulkan bukti atas kejadian yang menimpa Maximo. Mereka sudah mengatur siasat untuk menemukan pelakunya. Dua orang ini layaknya raja dan ratu mafia yang akan menangkap musuh mereka.
Maximo akan pergi ke hotel tempat pertemuan dan akan melanjutkannya ke kediaman William. Sementara Samantha, ia akan pergi ke markas Wilson. Di pertigaan jalan, dua orang itu berpisah. Samantha mengambil jalur kiri dan Maximo jalur kanan. Dari kaca spion, pria itu masih memperhatikan arah berlalunya Samantha dengan mobil mewahnya. Bibirnya tersenyum kecil melihat semangat gadis itu.
“Dia wanitaku.” Maximo bergumam bangga seraya mengenakan kacamata hitam yang menyempurnakan penampilannya.
Perjalanan yang di tempuh Samantha cukup jauh. Seorang petugas keamaan mencegat laju kendaraan wanita itu tepat di depan bangunan markas Wilson. Pria bertubuh besar itu mengetuk jendela kaca Samantha dan gadis itu segera menurunkannya.
“Selamat pagi, ada keperluan apa, Nona?” tanya penjaga tersebut.
Samantha melepas kacamata hitamnya tanpa menoleh pada pria tersebut. “Aku mau bertemu dengan Wilson dan Alicia. Tolong sampaikan, aku Samantha,” ucap gadis itu. Sekali lalu ia memakai kembali kacamata hitam yang membuatnya terlihat berkelas.
Laki-laki itu segera menghubungi Wilson melalui telepon yang tersambung dengan earpiecenya. Entah apa yang dibicarakan laki-laki itu. Semuanya hanya berlangsung kurang dari satu menit sampai kemudian pria itu membuka pintu gerbang.
“Silakan, nona.” Pria itu membukakan pintu gerbang lebar-lebar. Samantha menginjak pedal gasnya kuat-kuat dan mobil itu melesat masuk ke dalam bangunan tua tersebut. Samantha memarkirkan mobilnya di basement dan tidak lama Wilson dan Alicia datang menyambutnya.
“Apa kabar Sam?” tanya pria itu dengan gayanya yang gagah, seraya merentangkan tangan. Wajahnya begitu sumeringah melihat kedatangan Samantha.
“Kabarku baik.” Samantha merangkul Wilson dengan akrab, bergantian dengan Alicia.
“Bagaimana kamu bisa ke sini? Apa mafia itu melepaskanmu? Atau kamu kabur dari sangkarnya?” Entah pertanyaan itu sungguh-sungguh atau hanya sebuah ledekan yang diberikan Wilson pada Samantha.
“Dia memberiku izin dengan banyak prasyarat yang berat. Aku yakin, tidak semua orang akan mampu memenuhi syarat itu.” Samantha sedikit berbohong, walau tetap saja ia diberi syarat oleh Maximo.
“Aku percaya padamu, kamu pasti bisa mengatasinya.” Wilson berujar dengan sungguh. "Ayo kita masuk, sudah lama kamu tidak berkunjung, bukan?"
"Ya, aku sangat merindukan tempat ini," timpal Samantha.
Wilson tersenyum kecil, lantas mengajak Samantha menaiki sebuah lift untuk masuk ke area dalam markas Wilson. Suasana di dalam lift terasa canggung, masing-masing saling menaruh perhatian berlebih pada satu sama lain.
“Alicia membuat pasta, kita bisa makan bersama sebelum berbincang hal yang serius,” tiba-tiba saja Wilson menawarkan makanan.
“Nanti saja Wilson, aku ingin segera ke kamar Gerald. Aku sangat merindukannya. Alice, bisakah kamu menemaniku?” Samantha beralasan. Ia juga menunjukkan wajahnya yang sedih.
__ADS_1
“Tentu,” Alicia sepertinya paham dengan keinginan Samantha.
“Baiklah, kita akan bertemu di ruang rapat setelah kamu siap,” ucap Wilson yang segera keluar saat pintu lift terbuka.
Samantha tidak menimpali, ia mengikuti langkah Wilson keluar lift. Hanya saja ia memilih berbelok ke arah kiri, menuju kamar Gerald. Langkah Wilson berhenti sejenak, ia menatap bayangan Samantha yang berjalan menjauh. Bayangannya memantul di pintu kaca yang ada di hadapan Wilson, laki-laki itu tersenyum, mengagumi sosok cantik yang melangkah dengan gemulai di atas high heelsnya.
“Kamu seperti rumput liar, Sam. Meski diinjak kamu selalu tumbuh subur.” Laki-laki itu membatin seraya tersenyum kecil. Lantas ia melanjutkan langkahnya untuk masuk lebih dulu ke ruang rapat dan menunggu Samantha melepas rindunya dengan bayangan Gerald. Hah, laki-laki itu masih saja menjadi saingannya.
Setelah masuk ke kamar Gerald, Samantha segera menutup pintu kamar itu dan menguncinya. “Ada apa, Sam?” Alicia tampak waspada, pasti ada hal penting yang akan wanita ini bicarakan.
“Alice, aku ingin bertanya beberapa hal, aku harap kamu menjawabnya dengan jujur.” Samantha langsung mengultimatum.
“Katakan,” wanita itu duduk dengan tenang di kursi Gerald.
“Aku ingin tau, apa yang Wilson rencanakan saat dia datang ke acara perjamuan itu?” Samantha bertanya dengan cepat. Matanya menatap Alicia dengan tajam.
“Untuk mencari tahu tentang Maximo. Dia ingin melihat Maximo yang sesungguhnya seperti apa.” Alicia menjawab apa adanya.
“Untuk apa? Maksudku, tidak mungkin kalau dia datang hanya untuk melihat Maximo yang sesungguhnya itu seperti apa. Wilson sangat membenci Maximo, bukankah tidak mungkin kalau dia tidak merencanakan apapun?” Samantha mempertegas pertanyaannya.
“Jangan salah paham Alice, kamu harus tahu dulu duduk masalahnya.”
“Okey, katakan!” Alicia jelas menantang.
Samantha berusaha menenangkan dirinya saat berbicara dengan Alicia. Ia duduk di tepian tempat tidur Gerald, berhadapan dengan Alicia.
“Aku pikir, Maximo tidak seperti yang kita pikirkan.” Samantha mengawali kalimatnya dan terlihat Alicia tersenyum malas.
“Kenapa?” Alicia merasa terganggu dengan cara bicara Samantha. “Aku sudah menduga kalau kamu akan mengatakan hal ini. Kamu terlalu lama bersama Maximo, sehingga pikiranmu mulai membenarkan apa yang dilakukan Maximo. Maximo memanipulasi pikiranmu Sam,” Alicia berujar dengan sinis.
“Apa maksudmu? Kali ini kamu yang tidak mempercayai pemikiran objectiveku.” Samantha balas meradang.
“Okey, pikiran objective apa maksudmu? Katakan.” Alicia semakin menantang.
__ADS_1
“Okey, dengarkan aku. Tapi sebelumnya, kosongkan dulu pikiranmu. Kita tidak berada di pihak Wilson atau pun Maximo, ini hanya pemikiran netral kita berdua.” Samantha berusaha menenangkan Alicia.
“Katakan,” hanya itu respon Alicia. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada Samantha.
“Kamu ingat obat yang kamu periksa di lab itu?”
Alicia mengangguk.
“Ya, obat itu adalah salah satu jenis obat dari varian trycyclon yang aku ceritakan. Asal kamu tau, setelah aku dan Maximo meninggalkan tempat pertemuan itu, Maximo mengalami kelumpuhan. Aku memeriksa minuman yang diminum Maximo dan kandungan dari minuman Maximo sama dengan hasil pemeriksaan kimia obat yang ditemukan pada obat-obatan Gerald.”
"Benarkah?" Alicia benar-benar terkejut.
“Ya! Artinya, Maximo dan Gerald sama-sama diracuni dengan obat itu. Bedanya, Gerald meninggal dan Maximo masih bertahan. Jujur, aku mencurigai Wilson, karena dia menyamar sebagai salah satu pelayan di acara itu. Aku berpikir mungkin saja Wilson menaruh obat itu di minuman Maximo. Tapi aku berpikir lagi, kalau Wilson membunuh Maximo, maka dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau, sepenuhnya. Dia akan sulit menghancurkan kerajaan bisnis Maximo yang sesungguhnya.”
Alicia mengangguk paham dengan penjelasan Samantha, ia semakin fokus dengan penjelasan wanita dihadapannya.
“Lalu tentang obat itu, Maximo tidak mengetahui kalau obat itu meracuninya dan Gerald. Dia hanya tau setelah dia mengalami kelumpuhan. Artinya apa? Kemungkinan besar, Maximo tidak menggunakan obat itu untuk meracuni Gerald. Karena kalau dia meracuni Gerald, harusnya dia tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri atau mungkin dia bisa lebih mengantisipasi serangan semacam ini dari musuhnya.”
Samantha menjeda kalimatnya. Ia menatap wajah Alicia yang tampak sedang berpikir keras.
“Maksudmu, apa mungkin Wilson tahu tentang obat itu?” Pikiran Alicia mulai mengerucut.
“Itu dugaanku dan kita harus membuktikannya. Sekarang aku membutuhkan bantuanmu untuk memeriksanya secara langsung.”
“Bagaimana caranya?” Alicia mendekatkan tubuhnya pada Samantha. Ia sangat tertarik untuk membuktikan kecurigaan Samantha terhadap Wilson.
“Ambil ponsel Wilson. Lalu coba cek, apa ada riwayat Wilson menghubungi nomor ini.” Samantha menyerahkan selembar kertas pada Alicia. Gadis itu segera menerimanya.
“Bagaimana caranya?” Alicia kembali berpikir.
“Aku akan mengalihkan perhatian Wilson dan kamu segera memeriksa nomor itu di ponselnya. Selain itu, tolong ambilkan ponsel Gerald untukku. Aku ingin mengambil beberapa data dari sana. Bukankah Wilson selalu menyimpan ponselnya di ruang kerjanya?” Samantha dengan idenya yang cukup cemerlang.
“Kamu benar. Baiklah, ayo kita berbagi tugas. Aku akan mengambil ponsel Wilson dan Gerald dari ruang kerjanya, sementara kamu harus mengalihkan perhatiannya. Bagaimana?” Alicia mengulurkan tangannya dengan semangat.
__ADS_1
“Deal!” Dua wanita itu saling berjabat tangan sebagai tanda sepakat untuk bekerjasama. Mereka benar-benar mengandalkan satu sama lain.
*****