
Berubah pikiran dan sedikit berubah sikap, hal itu yang saat ini terjadi pada Samantha. Setelah pembicaraan tadi pagi, kepercayaan Samantha terhadap Maximo memang bertambah. Ada banyak hal yang membuat Samantha mulai penasaran pada sosok Maximo yang duduk dihadapannya.
Di suasana pagi yang cerah, ia dan Maximo menikmati sarapannya di taman belakang sambil memandangi riakan air kolam. Ada pancake yang sudah dibuatkan Nora untuk sarapannya bersama Maximo. Sementara pria itu memilih sarapan dengan cereal dan susu.
Setelah menghabiskan satu potongan pancake, tiba-tiba Samantha menaruh garpu dan pisaunya begitu saja. Ia terdiam beberapa saat sambil memandangi Maximo.
“Kenapa?” Maximo yang tingkag kesadarannya tinggi kalau ia sedang diperhatikan, menoleh pada gadis itu.
“Tidak apa-apa,” sahut Samantha sambil menelan salivanya kasar-kasar.
“Lalu?” Maximo salah tingkah karena Samantha memperhatikan bibirnya yang sedang mengunyah makanan. Ia mengusap bibirnya dengan tissue khawatir ada sisa makanan disana. Tetapi Samantha tetap tidak bergeming. Sesekali ia juga memandangi mangkuk cereal yang sedang diaduk Maximo.
“Tidak, silakan lanjutkan.” Gadis itu mengusap tengkuknya, terlihat gelisah.
Maximo menyuapkan kembali makanannya sambil melirik Samantha. Ia melihat gadis itu membuka sedikit mulutnya.
“Kamu mau?” Maximo urung memasukkan sendok cereal itu ke mulutnya.
“Apa itu sangat enak?” Samantha pura-pura bertanya sambil menopang dagunya dengan tangan kiri. Ia benar-benar memperhatikan Maximo yang sedang makan.
Maximo tidak menimpali, ia mengarahkan sendoknya ke mulut Samantha.
“Cobalah,” ujarnya saat sendok Maximo hanya ditatap oleh Samantha dan gadis itu masih menelan salivanya kasar-kasar.
“Baiklah, kalau kamu memaksa.” Masih saja ia berceloteh gengsi sebelum membuka mulutnya. Ia mengunyah makanan itu dan Maximo tersenyum kecil melihat ekspresi Samantha yang sepertinya menyukai makanannya.
“Ekhm!” Paul berdehem. “Nora, buatkan cereal untuk nona Samantha.” Ia memberi perintah pada Nora.
“Tidak, aku tidak mau. Aku mau yang ini saja.” Tangan Samantha langsung terangkat memberi penolakan.
“Tapi nona, sebaiknya Anda makan terpisah dengan tuan besar." Paul tidak terima. Baginya tidak sopan Samantha mengganggu sarapan tuan besarnya dengan cara seperti ini.
“Apa kamu merasa terganggu?” Samantha menjeda kalimat Paul dengan bertanya pada Maximo.
“Tidak,” sahut Maximo seraya tersenyum. Ia menyuapi kembali Samantha dan gadis itu dengan lahap menyambutnya.
“Tuan,” Paul berusaha menahan.
“Pergilah untuk sarapan, tinggalkan aku dan Samantha berdua saja,” pinta Maximo tanpa bisa ditolak.
Paul menoleh Samantha sejenak dan gadis itu melambaikan jemari lentiknya pada Paul. “Hush, hush, hush!” Ia juga mengibas-ngibaskan tangannya pada Paul agar menjauh.
__ADS_1
"Biasanya tuan besar sangat tidak suka sesi makannya diganggu. Kamu ingat Nora, saat tuan besar menembak seorang pengawal karena mengganggunysa saat makan malam? Dia sangat marah padahal pengawal itu hanya ingin menyampaikan pesan dari tuan William."
Sambil berceloteh terpaksa Paulpun pergi bersama Nora juga pengawal lainnya. Ia membiarkan Maximo berdua saja dengan Samantha. Meski demikian, ia tetap memperhatikan Maximo dan Samantha dari kejauhan.
"Iya, aku ingat. Mungkin karena pengawal itu bukan nona Samantha," timpal Nora. Ia ikut memandangi Samantha dari kejauhan.
"Iya, masalahnya terletak pada dia nona Samantha atau bukan." Sekarang Paul paham.
Merasa begitu diawasi oleh Paul, Samantha kembali berceloteh.
“Sepertinya Paul sangat mencintaimu, dia selalu bersikap sinis saat aku ada didekatmu. melarangku ini dan itu. Apa kalian,”
“Jangan berpikir sembarangan. Makan saja." Maximo menjeda kalimat Samantha yang mulai melantur. Ia juga mengusap kepala Samantha dan mengacak rambutnya.
“Apa tidak masalah kalau aku memintanya jauh-jauh darimu?” Samantha mulai menggoda Maximo.
“Kalau dia pergi, lalu siapa yang menemaniku?” Maximo balik bertanya dan tetap menyuapi Samantha. Perutnya sudah kenyang melihat Samantha yang lahap makan dari tangannya.
“Tentu saja ada aku. Ajari aku menggunakan senjata, dengan begitu kita bisa kemana-mana berdua.” Samantha mengedipkan matanya pada Maximo.
“Bukan untuk menembakku?” Maximo balas menggoda. Ia mendekatkan wajahnya pada Samantha. Setelah pembicaraan tadi pagi, entah mengapa Samantha begitu suka menggodanya.
“Aku lebih suka menusuk, bukan menembak untuk melenyapkan nyawa seseorang.” Samantha berbicara dengan jarak sangat dekat. Ia juga mengoleskan sisa selai di pisau ke pipi dan dagu Maximo. Bercampur dengan jambangnya yang tercukur rapi.
“Kenapa? Apa itu lebih menyenangkan untukmu?” Maximo tidak terlihat takut sama sekali. Ia menanggapi sikap Samantha sebagai sebuah rayuan, bukan ancaman.
“Yaa, aku suka melihat mata yang membulat dan menatapku penuh kesakitan.” Samantha tersenyum sinis dan Paul semakin ketar-ketir ditempatnya. Mana mungkin ia diam saja melihat tuannya mendapatkan ancaman.
“Sudah berapa pria yang kamu tusuk?” Maximo masih terus bertanya.
“Emm, sepertinya kamu akan menjadi orang beruntung satu-satunya dan akan mendapat tiket nomor satu.” Suara Samantha terdengar berbisik. Hal tidak terduga dilakukan Samantha yaitu saat Ia menjilat sisa selai yang mengotori pipi dan dagu Maximo. Maximo memejamkan matanya, menikmati tarian lidah Samantha dipipi dan dagunya. Lantas gadis itu mengingit sedikit ujung bibir bawah Maximo, membuat Maximo membuka matanya.
“Ups!” cetus gadis itu yang lalu terkekeh. “Aku merasa ini bukan waktu yang tepat,” imbuhnya. Ia menarik tubuhnya menjauh lalu mengambil alih cereal dan sendok dari tangan Maximo.
“Lain kali, lebih waspadalah, karena aku bisa merebut apapun darimu,” lanjutnya yang mulai menikmati cereal milik Maximo dengan tangannya sendiri.
Maximo hanya terkekeh. Ia menjilat bibirnya yang masih menyisakan aroma strawberry dari bibir Samantha. Paul pun menghela napasnya lega saat ternyata Samantha mulai menjauh dari tuannya.
“Kamu pandai membuat waspadaku teralihkan. Dan aku suka saat kamu melakukannya, tanpa konfrontasi dan tanpa bujuk rayu yang memuakan. Aku suka ketegangan, itu membuatmu terlihat manis.” Malah komentar itu yang kemudian Maximo lontarkan. Samantha selalu membuat hidupnya lebih berwarna dari hari ke hari.
“Pujianmu tidak akan membuatku lemah, Max. Makanlah, kamu perlu tenaga yang cukup untuk menghadapi kegilaan dan permintaanku,” ujar Samantha yang masih menikmati sarapannya.
__ADS_1
Maximo hanya tersenyum, ia mengambil pisang, mengupas kulitnya lalu memakannya. Saat Samantha menolehnya, ia juga menyuapkan pisang itu pada Samantha. Samantha dengan senang hati menerimanya, mengigitnya dengan menggoda bahkan mengedipkan matanya.
“Hhahahahahaha….” Maximo malah tertawa.
“Ada apa?” Samantha bertanya.
Maximo menggeleng dan masih berusaha menghentikan tawanya yang membuat dadanya sesak karena bersamaan dengan makan pisang. Wajahnya sampai merah dan ia menepuk-nepuk dadanya nyaris tersedak. Paul segera mendekat dan maximo kembali menyuruhnya diam.
Tangan Samantha mengambilkan segelas air untuk Maximo dan memberikannya pada tuan mafia.
“Jangan terlalu bahagia saat bersamaku, karena saat aku pergi, kamu akan sangat kehilangan. Aku khawatir jiwa mafiamu mati.” Samantha berujar dengan sungguh meski terdengar seperti candaan.
Maximo meneguk minumannya sambil memandangi Samantha yang mengatakan kalimat yang tidak enak untuk ia dengar. “Memangnya siapa yang akan membiarkanmu pergi? Aku akan mengurungmu disini sampai kamu sendiri yang meminta untuk menetap disini.” Kalimatnya terdengar tegas.
“Oh ya? Tapi aku bisa menyelinap pergi saat kamu bepergian dan sibuk dengan urusanmu. Burung yang ditawan didalam sangkar emas saja bisa mati ditengah kemewahannya.” Samantha kembali menantang Maximo.
“Aku tidak akan mengurungmu terus menerus. Aku akan membawamu kemanapun aku pergi. Bukankah itu yang kamu inginkan?” Maximo terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Oh ya? Jadi kemana rencana kita hari ini?” Samantha menemukan peluang.
“Suka main golf?” Maximo mendekatkan wajahnya dan mencubit dagu Samantha.
“Ya, tapi aku perlu guru yang hebat untuk mengajariku karena permainanku payah.” Samantha mengendikkan bahunya acuh. Tujuannya memang itu, menempel kemanapun Maximo pergi.
“Kamu berhadapan dengan orang yang tepat.” Maximo berbicara dengan penuh keyakinan.
“Baiklah, pastikan Paul yang akan mengambilkan bolaku kemanapun bola itu terlempar,” pinta Samantha. Ia memang sangat ingin mengerjai pria itu.
“Tentu,” Maximo menyanggupinya.
“Baiklah, aku akan bersiap, sampai ketemu dibawah. Pastikan kamu wangi, karena aku tidak suka laki-laki beraroma bau matahari.” Gadis itu beranjak meninggalkan Maximo yang hanya terkekeh melihat tingkahnya.
Lihat caranya berjalan yang berusaha gemulai tetapi tidak bisa menyembunyikan sisi maskulinnya. Tentu saja, ia seorang atlet taekwondo, mana mungkin bisa berjalan segemulai model. Namun entah mengapa, ini menarik bagi Maximo.
“Anda yakin akan mengajak nona Samantha, tuan?” Paul bertanya dengan ragu.
“Ini kali terakhir kamu mempertanyakan keputusanku, Paul." Timpal Maximo seraya menatap Paul dengan dingin.
Hah, Paul. Harusnya kamu tahu kalau orang jatuh cinta itu tidak bisa diberi masukan dan saran. Selamat berpanas-panasan menjadi Caddy golf.
****
__ADS_1