
"Kamu mau kemana Rangga?" tanya nyonya Tika
Rangga tak menjawab pertanyaan mamanya, ia terus berjalan keluar rumah menuju garasi mobil. Rangga masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mobilnya.
Nyonya Tika pergi mencari suaminya yang sedang berada di ruangan kerjanya.
"Ada apa ma?"
"Pa, apa kita gak terlalu memaksakan Rangga untuk menikah dengan orang yang dia tidak cintai?" ucap nyonya Tika dengan duduk di kursi yang di hadapan suaminya.
"mama tenang saja, terpaksa ataupun tidak papa yakin suatu hari nanti Rangga akan menjaga istrinya dan akan takut kehilangan istrinya"
"Bagaimana bisa papa seyakin itu?"
"Rangga dan Kinar masih butuh waktu untuk menyesuaikan dengan kehidupan berumah tangga dan juga perasaan mereka"
"Tapi pa, mama takut nanti sikap Rangga melukai perasaan menantu kita"
tuan Hans menghentikan aktivitasnya, lalu mengalihkan tatapannya dari berkas yang ia kerjakan ke arah istrinya.
"Percayalah ma, Kinar adalah anak yang kuat dan papa yakin Kinar bisa merubah sikap Rangga menjadi lebih baik suatu saat nanti"
Nyonya Tika tetap begitu khawatir dengan putranya karna ia tau bagaimana sikap putranya itu, yang cuek dan egois.
Tuan Hans menatap istrinya lalu memegang tangan istrinya yang berada di atas meja kerjanya.
"Mama tak perlu khawatir serahkan semua pada Rangga dan Kinar biarkan waktu yang akan mempersatukan mereka"
"iya pa, semoga saja Kinar tetap sabar menghadapi sikap Rangga"
"hmmmm, mereka sudah tidur?" tanya tuan Hans
"mama gak tau pa, tapi kalau kinar mungkin dia sudah istrahat, tapi Rangga pergi keluar pa"
"pergi keluar kemana?"
"Gak tau pa, mama khawatir nanti Rangga kenapa-napa di jalan"
"Biarkan saja dia"
"iya pa, mungkin Rangga butuh waktu untuk menerima semua ini"
"iya, tapi papa gak akan membiarkan jika Rangga terus-terusan memikirkan wanita yang sudah mempermalukan keluarga kita" ucap tuan Hans dengan mengambil handphonenya lalu menghubungi seseorang.
"ikuti kemanapun Rangga pergi"
"Baik tuan"
"Beritahu padaku jika dia masih mencari wanita itu"
__ADS_1
Tuan Hans mengakhiri panggilan telfonnya lalu berbalik menatap sang istri yang sedang berdiri di hadapannya.
"Papa gak akan membiarkan Rangga larut dalam kesedihannya hanya karna wanita itu"
"sabar pa, biarkan Rangga sendiri dulu mungkin Rangga membutuhkan waktu"
"papa tidak akan membiarkan Rangga mencari wanita itu apalagi harus bermohon untuk kembali di pelukannya"
"Maksud papa apa?"
"Tidak perlu mama tau, biarkan papa yang mengurus semuanya"
"Tapi pa"
"Mama istrahat saja, papa mau melanjutkan pekerjaan"
"Tapi paaa"
"mama tenang saja mereka sedang mengikuti Rangga"
Rangga sampai di apartement ia memilih menginap di apartemen dari pada harus tidur bersama dengan Kinara wanita yang ia tidak kenal sama sekali yang tiba-tiba telah menjadi istrinya hari ini.
Rangga menekan sebuah bel yang tertempel di pintu ketika ia menekannya maka akan mengeluarkan bunyi dan bunyi itu akan di dengar oleh pemilik apartemen.
Seorang pria yang mendengar bel segera berjalan kearah pintu namun sebelum ia membuka pintu ia berpikir karna selama ia tinggal di apartemennya tidak pernah ada yang bertamu tapi hari ini bel apartemennya berbunyi.
ketika ia membuka pintu ia terkejut melihat orang yang berdiri di depannya.
"Aku akan menginap di sini malam ini"
"Tapi tuan"
Rangga menatap Frans yang banyak bicara di hadapannya. Rangga benci dengan orang yang selalu membangkang perintahnya.
"Baik tuan, saya akan merapikan tempat tidur tuan" ucap Frans dengan segera menuju ke kamar tamu yang akan ia siapkan untuk tuannya.
Rangga duduk di shofa di ruang tamu sambil menatap sebuah kertas yang di pegangnya yaitu surat yang di tinggalkan oleh tunangannya ketika hari pernikahan mereka sudah dekat.
Frans yang sudah selesai merapikan kamar untuk tuannya berjalan keluar menuju ke arah Rangga. namun ketika ia melihat wajah tuannya dan surat yang tuannya pegang, Frans mengepalkan kedua tangannya ia tidak terima ketika tuannya di perlakukan seperti itu.
"Tuan kamar tidurnya sudah siap"
"Hmmm"
"Saya akan mencarinya tuan"
"tidak perlu mencarinya biarkan saja, ini adalah pilihan aura" ucap Rangga dengan meminum kopi yang di sediakan Frans untuk tuannya
"Baik tuan"
__ADS_1
Setelah beberapa menit Rangga masuk ke dalam kamar, ia berbaring di atas tempat tidur sambil memejamkan matanya namun apa yang terjadi wajah aura terus menari di pikiran Rangga sehingga membuat emosi Rangga mudah marah karna sikap aura yang meninggalkannya.
Kinara bangun dari tidurnya karna pagi ini ia ada jam kuliah, Kinara mengucek-ngucek matanya dan melihat di sekelilingnya untuk mencari Rangga namun ia tak menemukannya.
"Apa dia tidur di luar? aaa bodoh kenapa aku harus memikirkannya pulang ataupun tidur di luar itu bukan urusanku seharusnya aku bahagia karna ia tidak pulang dan aku bisa tidur sepuasnya" ucap Kinara penuh bahagia lalu ia beranjak dari tempat tidur menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap berangkat ke kampus. ketika ia keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk sarapan ia terkejut tuan Hans dan nyonya Tika sudah berada di meja makan.
Kinara berdiri 2 meter dari meja makan, ia bingung apa yang harus ia lakukan, jika ia langsung pergi apa kata mertuanya itu. lamunan Kinara terhenti ketika nyonya Tika memanggilnya.
"Sayang kemarilah kita sarapan bersama-sama" panggil nyonya Tika
"iya Tante, maksud saya mama" ucap Kinar dengan terkejut lalu berjalan mendekati mereka dan duduk di depan nyonya Tika
"Tuhkan panggil Tante lagi"
"Maaf ma"
"Gak apa-apa sayang, ayo makan nanti kamu terlambat ke kampus"
"Baik ma"
Sarapan pagi itu membuat Kinara tak nyaman di mana ia berada di antara orang-orang yang gak dekat dengan dia, yang setiap pagi selalu manja dengan kedua orang tuanya tapi kali ini berbeda karna ia sudah berumah tangga dan tinggal bersama dengan mertuanya. Kinara begitu canggung sampai akhirnya Kinar memutuskan hanya makan sedikit saja.
"Kamu sudah selesai nak?"
"iya ma, Kinar sudah kenyang"
" Biarkan supir yang akan mengantar kamu ke kampus"
"Gak usah ma, Kinar bisa naik ojol"
"Kenapa harus naik ojol, di rumah ini kan banyak mobil sayang"
"Kinar lebih suka naik ojol ma, biar gak terhalang dengan kemacetan saat ke kampus"
"Baiklah kalau kamu gak mau di antar, tapi kamu harus hati-hati yaa sayang"
"iya ma"
Kinar mencium tangan mertuanya nyonya Tika dan tuan Hans, ketika ia akan melangkahkan kakinya untuk pergi tuan Hans memanggilnya.
"Kinara.."
"iya pa" ucap Kinar dengan berbalik ke arah mertuanya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Rangga, tenang saja Rangga semalam menginap di rumah asistennya.
"Baik pa"
"Sabar ya sayang, Rangga orangnya baik koq dan mama yakin suatu saat nanti kamu akan jadi ratu di hatinya" ucap nyonya Tika
__ADS_1
Kinar tak banyak bicara ia hanya tersenyum
"Kinar berangkat dulu pa, ma" ucap Kinar dengan berlalu pergi dan tak perlu menunggu lama ojol sudah menunggu di depan rumahnya.