Sebagai Wanita Pengganti

Sebagai Wanita Pengganti
Bab 91


__ADS_3

Rangga mencengkram jas dokter yang di pakai oleh dokter Arka.


"Apa maksud kamu Kinar tidak hamil"


"Maaf kan saya tuan, kinar tidaklah hamil ada gejala yang mengganggu dalam perutnya, dan itu belum tau pasti apa yang ada di dalam perutnya" jelas dokter Arka


Bu Yati menangis sesegukan takut jika keluarga Rangga akan mengusir putrinya dan menyuruh Rangga untuk menceraikan Kinar.


Bu Yati mengenggam erat tangan suaminya, apa yang ia pikirkan akhirnya terungkap semua dan keluarga Rangga menolak Kinar sebagai menantu mereka dan menyuruh Rangga menceraikannya.


Rangga yang belum percaya dengan apa yang dokter Arka katakan, ia meminta agar dokter Arka salah dalam pemeriksan dan menyuruhnya agar memeriksanya kembali.


"Aku mohon dokter, ini semua tidaklah benar" ucap Rangga dengan wajah sedihnya.


"Maafkan saya tuan, mungkin dengan gangguan penyakit ini peluang Kinar untuk hamil sangatlah kecil, jika memaksakan kemungkinan akan terjadi hal-hal tidak di inginkan" jelas lagi dokter Arka


Rangga menahan dirinya di meja yang berada di ruangan itu, ia terlihat lemas mendengar apa yang dokter Arka katakan.


"Kamu harus memikirkannya matang-matang Rangga, jika Kinar tidak bisa memberikan keturunan padamu kamu harus mengambil keputusan, perusahaan papa dan perusahaan kamu membutuhkan penerus"


"Tapi ma"


"Mama tidak mau dengar alasan apa-apa lagi Rangga, kamu sudah dengar penjelasan dokter Arka peluang Kinar untuk hamil kecil"


"Tapi ma, setidaknya biarkan Kinar bernafas dulu ma. ini di rumah sakit dan Kinar masih terpukul tidak mungkin Rangga meninggalkannya"


"Pokoknya mama tidak mau tau, kamu harus menceraikannya, dan mama sudah menyiapkan calon untukmu"


Rangga menatap Kinar yang terlihat begitu lemas di tempat tidur.


"Sayang kamu tidak perlu mendengarkan apa yang mama katakan"


"Rangga..." teriak nyonya Tika


"Ma, mengertilah"


Kinar menangis melihat Rangga berdebat dengan nyonya Tika perihal dirinya yang tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga Wijaya.

__ADS_1


Bu Yati mendekati Kinar dengan memegang tangan putrinya sambil mengusap kepala putrinya.


"Kamu harus sabar sayang"


"Bu Yati kenapa kamu tidak mengatakan kalau putrimu memiliki penyakit seperti itu, aku sebagai orang tua Rangga tidak terima jika memiliki menantu penyakitan seperti dia"


Bu Yati begitu marah tidak terima dengan ucapan nyonya Tika kepada putrinya, Kinar.


"Hati-hati dengan mulutmu nyonya, aku mengizinkan putriku menikah dengan putramu karna kalian datang meminta Kinar menggantikan wanita yang meninggalkan putra kalian di pernikahannya"


Nyonya Tika tidak terima dengan Bu Yati katakan, sehingga ia memberi pilihan untuk Rangga.


"Rangga lihat mama, kamu pilih istrimu atau mama?"


"Ma, Kinar adalah istri Rangga"


"Kamu pilih siapa Rangga, cepat. kalau kamu pilih dia mama akan bunuh diri sekarang juga" ucap nyonya Tika dengan mengancam mengambil pisau buah yang ada di atas meja


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut melihat nyonya Tika tidak main-main dengan ucapannya. nyonya Tika meletakan pisau itu di lengannya dan siap-siap melukai tangannya kalau Rangga tidak mengambil keputusan saat ini.


Rangga terlihat begitu bingung, nyonya Tika memberikan pilihan sangat sulit untuk Rangga. Rangga menatap wajah kinar yang sudah lembab karna menangis.


Nyonya Tika tersenyum, ia tau kalau putranya masih memilih dia.


"Ayo kita pergi dari sini Rangga, mereka bukan keluarga kita lagi dan mama akan segera mengurus surat perceraian kalian."


Kinar menangis sesegukan dengan menahan tangga Rangga agar tidak meninggalkannya.


"Jangan tinggalkan aku sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu" ucap Kinar dengan menangis


"Maafkan aku Kinar" ucap Rangga dengan melepaskan tangan Kinar yang menahannya.


"Hiks..hiks.. Rangga jangan tinggalkan aku" teriak Kinar dengan terjatuh dari tempat tidur ke lantai


Bu Yati kaget melihat putrinya terjatuh, ia berlari dengan memeluk Kinar yang tengah menangis.


"Maafkan ibu, maafkan ibu semua ini salah ibu" ucap bu Yati dengan memeluk Kinar.

__ADS_1


Bram terkejut mendengar istrinya yang menangis di sampingnya, entah apa yang terjadi dengan istrinya. ia memeluk istrinya.


"Kinar akan baik-baik saja Bu, semua akan baik-baik saja"


"Selamat ya tuan, istri Anda sedang hamil dengan usia kandungan 2 Minggu, tapi di lihat dari kondisi kandungannya baik-baik saja, hanya untuk nyonya Kinar agar beristrahat dengan baik jangan dulu melakukan aktifitas yang bisa membuat nyonya kecapean"


Bu Yati yang mendengar Kinar hamil ia tersenyum dengan air matanya menetes di pipinya. ternyata apa yang Bu Yati pikirkan tidaklah benar, Kinar Alhamdulillah tidak memiliki penyakit yang seperti dirinya miliki. dan semua yang terjadi hanyalah khayalan Bu Yati ketika sampai terjadi ia memikirkan nasib putrinya, Kinar.


"Apa dokter, istri saya hamil?" tanya Rangga yang masih belum percaya


"Iya tuan, istri tuan sekarang sedang hamil"


Rangga menatap dokter kandungan yang memeriksa istrinya setelah dokter Arka mengatakannya. Rangga mengalihkan pandangannya ke arah istrinya.


"Kamu dengar sayang dokter bilang apa?" tanya Rangga dengan memegang kedua pipi Kinar sambil tersenyum bahagia.


"Iya sayang aku dengar" jawab Kinar dengan menangis bahagia karna kabar dirinya yang akan menjadi seorang ibu


Rangga menempelkan dahinya dengan dahi milik Kinar. "Terima kasih sayang" ucap Rangga dengan mencium bibir sang istri


Nyonya Tikapun begitu bahagia mendengar kabar bahwa menantunya tengah mengandung dan dirinya akan menjadi seorang nenek.


"Pa, kita akan menjadi nenek dan kakek" ucap nyonya Tika dengan tersenyum sambil memeluk lengan suaminya, tuan Hans."


"Iya ma, papa begitu bahagia, rumah kita akan menjadi ramai lagi dengan suara tawa dan tangisan anak kecil."


Begitupun yang dilakukan Bu Yati dan juga Bram.


"Akhirnya Bu, kita akan menjadi kakek dan nenek untuk cucuk pertama kita"


"Iya mas, ibu begitu bahagia" ucap Bu Yati dengan memeluk lengan suaminya sambil menangis bahagia.


Rangga memeluk Kinar yang sedang duduk di atas tempat tidur, ia menciumi seluruh wajah istrinya Tanpa henti karna rasa bahagianya yang akan menjadi seorang ayah.


"Makasih sayang, aku akan selalu mencintaimu, menjagamu dan juga anak kita" ucap Rangga dengan mencium dahi istrinya lalu mencium perut istrinya yang masih rata.


Hari ini di rumah sakit mekar, di ruang VVIP semua keluarga begitu bahagia dengan kabar Kinar tengah sedang mengandung anak pertama dari pernikahannya dan suaminya, Rangga.

__ADS_1


Bu Yati yang awalnya ketakutan sekarang iya tertawa bahagia dengan membayangkan betapa lucu cucunya bersama dengan nyonya Tika.


Keluarga Wijaya begitu bahagia akhirnya penerus untuk perusahaan Wijaya akan lahir walaupun saat ini masih berumur sangatlah mudah tapi mereka begitu bahagia dan berharap cucu mereka dalam keadaan sehat dengan bergantinya hari, Minggu, dan bulan, sampai cucuk mereka akan lahir kedunia ini.


__ADS_2