
Rangga dan Kinar hidup dengan bahagia tanpa ada yang mengganggu hidup mereka. sebelum kelahiran anak mereka Kinar dan Rangga mulai mencarikan nama yang bagus buat kedua putra mereka.
Malam itu Kinar dan Rangga begitu serius dalam obrolan mereka berdua dengan membahas lahirnya kedua putra mereka di dunia.
Kinar mulai merasakan perutnya sakit dan pinggangnya pun sakit.
"Sayaaanngg"
"Ada apa sayang" tanya Rangga dengan panik
"Perutku sakit" ucap Kinar dengan wajah menahan sakit.
Rangga terlihat khawatir dan takut apabila terjadi sesuatu kepada istrinya. dengan cepat ia memanggil ibunya yang masih menginap di rumahnya sampai Kinar lahiran.
"Mamaaa" teriak Rangga dengan wajah ketakutan.
Nyonya Tika yang mendengar seseorang memanggilnya ia bangun dari tidurnya dengan langsung duduk. nyonya Tika mengucek matanya sambil mendengarkan suara yang memanggilnya dengan jelas.
"Mamaaaa" panggil Rangga lagi.
Nyonya Tika bergegas pergi ke kamar Rangga ketika mendengar Rangga berteriak memanggilnya.
"Ada apa Rangga?" tanya nyonya Tika dengan menghapiri mereka.
"Kinar ma"
"Ada apa dengan istrimu?"
"Kinar sakit perut ma"
Nyonya Tika melihat wajah menantunya terlihat pucat menahan sakit perutnya. nyonya Tika menyuruh Rangga untuk membawanya pergi ke rumah sakit. Untunglah Kinar selama dirinya hamil, ia tinggal di kamar di bawah bukan di kamarnya yang di lantai dua jadi sangatlah gampang menggendongnya ke mobil.
"Cepat Rangga" ucap nyonya Tika terlihat panik
Rangga melajukan mobilnya di atas rata-rata dan sesekali menatap istrinya dari kaca spion dalam mobil.
__ADS_1
Mereka telah sampai di rumah sakit dengan para dokter sudah menunggu di depan rumah sakit dengan kereta buat Kinar(author gak tau namanya apa yang sering di pakai buat menjemput pasien yang darurat).
Kinar di dorong oleh beberapa perawat dan ibunya, sedangkan Rangga terus memegang tangan istrinya sepanjang jalan menuju ke ruangan persalinan.
Dokter mengatakan kalau Kinar akan melahirkan bayi kembar, mereka takut terjadi apa-apa dengan kinar. sehingga mereka memutuskan harus mengoperasinya namun Kinar mengatakan kalau dirinya ingin lahiran secara normal.
"Sayang"
"Gak sayang, aku gak mau di oprasi. aku ingin merasakan mereka keluar dari rahimku. aku ingin merasakan sakitnya dengan sadar" ucap Kinar dengan wajah yang terlihat pucat dan berkeringat.
Rangga mengiyakan permintaan istrinya tapi dengan syarat Kinar harus berjuang dan tidak menyerah apapun yang terjadi. ia akan menemani Kinar sampai bayi-bayi mereka lahir dengan selamat dan juga kinar.
Dokter mulai menyiapkan alat darurat untuk membantu Kinar ketika ia kehilangan keseimbangan dalam melahirkan kedua anaknya.
Rangga terus mengenggam tangan Kinar dan terus menyemangatinya agar terus berjuang, sedangkan Kinar menarik nafasnya. Kinar melakukannya berulang-ulang kali sampai dokter mengatakan bahwa sedikit lagi bayinya akan keluar.
Rangga mengusap keringat istrinya dengan mata berkaca-kaca melihat perjuangan istrinya.
"Kamu pasti bisa sayang, demi buah hati kita berdua" ucap Rangga mengenggam erat tangan Kinar.
Dengan mendengar suara tangisan, Rangga mencium kening istrinya penuh bahagia. air mata Rangga jatuh tepat di wajah istrinya. sedangkan Kinar ikut tersenyum mendengar tangisan putra-putranya walaupun saat ini kondisinya terlihat lemah tapi ia masih bisa tersenyum ketika mendengar tangisan kedua putranya.
Keluarga pun tersenyum bahagia mendengar tangisan bayi. Lia dan Ria saling berpelukan begitupun mertua dan ibunya.
Rangga pergi melihat kedua putranya sekaligus ia adzankan. putra pertamanya terdiam ketika mendengar suara Rangga. berbeda dengan putra keduanya yang terus menangis dengan suara keras.
Setelah Rangga Adzankan kedua putranya, ia pergi menemani Kinar yang saat ini menahan sakit karna dokter harus menjahit **** * nya yang robek saat proses lahiran. Kinar mengenggam dengan erat tangan Rangga.
Perawat meletakan kedua putranya di kereta bayi, setelah mereka memakaikan pakaian.
Dokter keluar dari ruang persalinan, ia membuka masker yang ia pakai. dengan tersenyum dokter menjelaskan kepada keluarga Kinar dan Rangga.
"Selamat nona Kinar selamat, dan kedua putranya terlihat sehat" ucap dokter
"Bisakah kami melihatnya?"
__ADS_1
"Silahkan" jawab dokter dengan mempersilahkan keluarga menjenguknya tapi setelah pasien di pindahkan di ruangan VVIP. sesuai pesanan tuan Robert selaku kakek Kinar.
Ruang VVIP yang di lengkapi dengan semua fasilitas, seperti ruangan hotel berbintang yang terlihat begitu mewah.
Semua keluarga begitu bahagia. Kinar dan Rangga mulai memberitahukan nama kedua putra mereka tapi siapa sangka ternyata tuan robert sudah menyiapkan nama untuk kedua putranya yaitu Gavin dan Aditia. awalnya Kinar gak setuju namun ketika ia mendengar nama yang di berikan oleh kakeknya ia mengalah. nama itu terlihat begitu bagus dan itu juga sudah menjadi janji Kinar dengan menyetujui kalau tuan Robert yang akan memberikan nama kepada kedua putra cucunya kelak.
Rangga pun mengalah karna menurut mereka itu pilihan keluarga,demi kedamaian, mereka membiarkan nama itu di pakai untuk kedua putranya.
Malam itu tak ada satupun yang kembali, mereka terus terjaga di ruangan dengan menjaga Kinar dan juga kedua cucu mereka. perhatian dari kedua keluarga membuat Kinar dan Rangga terlihat bahagia. bahkan kakeknya dan juga ayahnya Bram terlihat akrab dan sudah melupakan masalalu mereka.
Tuan Robert sudah memaafkan putra sulungnya yaitu Bram dan menerima Bu Yati sebagai menantunya.
Malam itu Bu Yati dan nyonya Tika berperan menjaga kedua cucu mereka, dan Kinar mereka biarkan untuk istirahat.
Keesokan paginya, nyonya Tika dan bu Yati menyiapkan keperluan Kinar dan kedua cucu mereka. sedangkan para pria pergi bekerja sebagaimana biasa namun berbeda dengan Rangga. ia bersikeras menjaga istrinya dan juga kedua putranya, selama Kinar di rawat selama itu juga ia tidak pergi ke kantornya. Rangga selalu mengerjakan urusan kantornya di rumah sakit.
Setelah beberapa hari tuan Robert dan Anand pergi ke kota C, mereka mendapatkan panggilan darurat yang harus mereka tangani.
Lia dan Ria meluangkan waktu untuk menjenguk sahabat mereka dengan membawakan buah tangan seperti buah-buahan, susu untuk di minum oleh Kinar. semua keperluan Kinar di sediakan karna ia menyusui kedua putranya.
Perhatian Rangga mulai berlebihan kepada sang istri, semua yang di lakukan istrinya Rangga siap siaga membantunya. bahkan Rangga menyuapi Kinar saat makan, saat mandi dan mengganti pakaianpun ia membantunya walaupun menurut Kinar semua ia bisa lakukan namun Rangga melarangnya.
Menurutnya apa yang ia lakukan untuk istrinya, Kinar. tidak seberapa dengan perjuangan Kinar untuk kedua putranya. Rangga berjanji dalam hidupnya akan selalu menjaga Kinar dan memperlakukan Kinar layaknya sebagai ratu dalam hidupnya.
"Sayang, aku bisa melakukannya" ucap Kinar dengan mencoba melarang Rangga membantunya. namun Rangga menolaknya.
"Aku tidak akan mendengarkan apapun yang kamu katakan, yang aku tau kamu adalah wanitaku, ratuku, ibu dari anak-anakku. jadi biarkan aku melakukannya jika kamu melarangku jangan menyesal jika aku akan melakukannya lebih dari ini" Ancam Rangga dengan menggendong istrinya.
"Baiklah sayang, sekarang kamu turunkan aku malu di lihat ibu sama mama" ucap Kinar dengan memohon
Rangga menatap kedua orang tuanya, lalu menatap istrinya.
"Kata ibu dan mama gak apa-apa mereka melihat kita seperti ini"
"Tapi sayang"
__ADS_1
"Sudahlah kamu di larang berbicara sekarang, dan biarkan aku melakukannya dan membantu kamu" ucap Rangga. sedangkan Kinar membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya karna malu di depan kedua orang tuanya.