
Malam telah tiba, Kinar bersiap-siap untuk acara rama tamanya, nyonya Tika membayar Mua khusus untuk menantunya. setelah selasai di makeover nyonya Tika menyuruh Kinar agar mengganti pakaiannya.
Nyonya Tika tersenyum ketika melihat menantunya terlihat begitu cantik, nyonya Tika mengajak Kinar agar keluar dari kamar dan bersiap-siap untuk berangkat ke acara kampusnya.
Di ruang keluarga kedua orang tua Kinar, Hans dan juga Rangga sedang menunggu nyonya Tika dan juga Kinar. mereka sudah bersiap-siap hanya tinggal menunggu Kinar dan nyonya Tika saja.
Rangga yang tak sabar lagi ingin melihat Kinar, ia selalu menatap ke arah kamarnya. ketika seseorang keluar, Rangga menatapnya tanpa mengedipkan matanya, namun yang di lihatnya yang keluar dari kamar dan menuruni anak tangga hanyalah mamanya bukan Kinar.
"Koq mama sih, Kinar mana?" tanya Rangga kesal karna yang turun hanyalah mamanya.
"Kinar gak jadi pergi, dia menyuruh kamu agar pergi saja lebih dulu" ucap nyonya Tika dengan menjahili putranya yang terlihat gak sabaran.
"Kinar sakit ma?" tanya Rangga lagi, lalu ia bergegas pergi ke kamar. namun Rangga hanya melangkahkan kakinya dengan dua langkah nyonya Tika langsung menghadangnya.
"Mau kemana kamu?" tanya nyonya Tika dengan mendekati Rangga
"Mau lihat Kinar ma" jawab Rangga
"Gak perlu bentar lagi dia turun"
"Loh tadi kan kata mama Kinar" ucap Rangga dengan menunjuk kamar lalu mengalihkan tatapannya dan telunjuknya ke arah mamanya.
"Jadi mama bohong ke Rangga?"
"Habisnya kamu banyak nanya dari tadi"
"Wajarlah Rangga menanyakannya ma, Kinar kan istri Rangga. kalau Kinar kenapa-napa di kamar gimana"
Nyonya Tika terbengong ketika mendengar perkataan Rangga yang berlebihan.
"Istrimu hanya mengganti pakaian di dalam gak ngapa-ngapain Rangga, astaga" ucap nyonya Tika dengan memukul jidatnya sendiri
Rangga tak memperdulikan mamanya, ia tetap ingin melihat Kinar di kamar.
"Eee kamu gak bisa kesana, kamu tunggu di sini saja Rangga"
"Tapi Rangga mau lihat Kinar ma"
Ketika Rangga mulai naik ke 1 anak tangga, tiba-tiba Kinar turun dengan di dampingi oleh mua yang sudah makeover Kinar.
Rangga yang melihatnya hampir jatuh. dan nyonya Tika tersenyum melihat putranya yang tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Kinar.
__ADS_1
Nyonya Tika mendekati putranya, " Gimana, cantikan menantu mama?" tanya nyonya Tika dengan menyengol Rangga.
Rangga langsung menyadarkan dirinya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Haaa, mama bilang apa tadi?" tanya Rangga kembali dengan pertanyaan nyonya Tika.
"Udah gak jadi" ucap nyonya Tika dengan pergi memegang tangan Kinar agar turun dari tangga bersama-sama.
Rangga masih terbengong melihat Kinar yang tampil berbeda, malam ini Kinar terlihat lebih menawan dan cantik.
"Ngapain kamu bengong di situ, minggir mama dan Kinar mau lewat" ucap nyonya Tika dengan menyuruh agar Rangga menyingkir dari tempat ia berdiri.
Kedua orang tua Kinar mendekatinya, "Kamu terlihat begitu cantik sayang" puji ibu Yati orang tua Kinar.
"Ayah tidak menyangka kalau ayah memiliki bidadari yang begitu cantik di rumah" puji ayah Kinar
"Iya kamu tidak menyadarinya Bram" ucap tuan Hans dengan mendekati Kinar. "Dan saat ini dia telah menjadi milikku Bram" ucap tuan Hans lagi ke Ayah Kinar.
semua orang di ruang keluarga itu tertawa mendengar percakapan ayah Kinar dan juga mertuanya.
Rangga menatap Kinar penuh kagum dengan kecantikan yang di miliki Kinar, Rangga berjalan mendekati Kinar dengan berbisik ke Kinar.
"Kamu begitu cantik malam ini, rasanya aku tidak ingin pergi keluar dari rumah, tapi aku ingin membawamu ke suatu tempat tanpa ada orang lain di sana" ucap Rangga tersenyum dengan menatap sebuah ruangan yaitu kamar tidur mereka berdua.
"Apaan sih kamu, dasar otak mesum"
"Bukan aku yang mesum tapi kamu"
"Lah itu kamu menatap kamar kita maksudnya apa?"
"Gak ada apa-apa, emang aku salah berkencan denganmu di sana?"
"Ga..gak juga tapiii!!!"
"Tapi apa!" Rangga menggunakan semua taktiknya untuk mendapatkan Kinar lagi, mendapatkan perhatian Kinar seperti dulu.
Nyonya Tika langsung memukul pundak Rangga
"Plaakk..."
"Aauuu sakit ma"
__ADS_1
"Ayo sayang kita pergi, nanti kita terlambat" ucap nyonya Tika dengan memegang tangan menantunya.
"Baik ma" ucap Kinar dengan mengikuti nyonya Tika.
Rangga yang mengikuti dari belakang kebingungan, nyonya Tika dan Kinar menuju ke mobil papanya bukan ke mobilnya.
"Bentar ma" ucap Rangga dengan menahan lengan mamanya.
"Ada apa lagi?!"
"Ini kan mobil papa bukan mobil Rangga"
"Iya, ini memang mobil papa kamu"
"Kenapa gak naik mobil Rangga ma"
Nyonya Tika merapikan jas yang di pakai putranya.
"Kamu lupa dengan apa yang kamu katakan dulu?"
"Rangga tidak ingat, biarkan Kinar pergi bersama dengan Rangga di mobil Rangga ma"
"Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kamu tidak ingin pernikahanmu terekspos oleh media, bahkan kamu tidak ingin orang tau Kinar adalah istri kamu" ucap nyonya Tika dengan masuk ke dalam mobil
Rangga yang mendengarkan perkataan mamanya, ia terdiam dan tak banyak bicara lagi.
"Cepat ayo berangkat, ingat kamu tidak boleh terlambat karna kamu sebagai tamu di sana" ucap nyonya Tika dengan mengingatkan putranya. lalu mobil tuan Hans pergi meninggalkan Rangga.
Rangga berjalan menuju ke mobilnya, ia masuk kedalam mobil bersama dengan Frans.
Rangga terus memikirkan apa yang mamanya katakan.
"Tapi kan itu sudah berlalu" ucap Rangga.
"Ada apa tuan?"
Rangga berfikir ada bagusnya jika ia meminta saran ke Frans.
"Menurut kamu apa yang kita ucapkan dulu, itu masih berlaku sekarang gak?"
"Maaf tuan, saya tidak paham dengan arah pembicaraan tuan"
__ADS_1
"Sudahlah percuma ngomong dengan kamu Frans, kamu aja masih sendiri" ucap Rangga dengan meremehkan Frans asistennya sendiri.