Sebagai Wanita Pengganti

Sebagai Wanita Pengganti
Bab 56


__ADS_3

Lia tersadarkan diri, ia melihat-lihat langit-langit kamar. Lia bangun dari tempat tidur sambil memegang kepalanya.


Bi Ratih masuk ke dalam kamar dengan membawakan makanan dan minuman hangat buat Lia.


"Bi Ratih"


"Iya nona"


"Kenapa saya bisa berada di sini?"


"Tadi seseorang membawa anda kemari nona, silahkan makan nona"


"Makasih bi "


Lia mencoba mengingat siapa yang membawanya ke apartment Kinar, namun Lia tidak dapat mengingatnya. ia hanya mengingat ketika dirinya pingsan di jalanan.


Setelah mendapatkan telfon Kinar bergegas datang ke apartmentnya untuk melihat Lia sahabatnya.


"Kamu gak apa-apa Lia ?" tanya Kinar dengan penuh kekhawatiran


"Aku gak apa-apa Kinar"


"Bagus kalau begitu Lia"


"Kamu makanlah, lalu beristirahatlah"


"Baik Kinar"


Setelah selesai makan Lia pergi beristirahat kembali, namun pikirannya terus mengingat apa yang ayahnya lakukan padanya. Lia menangis dalam diam ketika mengingat semuanya.


Kinar menjadi kesal mendengar apa yang orangnya katakan, kalau Lia bertengkar dengan ayahnya bahkan dirinya di usir. Kinar mengepalkan kedua tangannya, rasanya ia ingin menghabisi ibu tiri Lia.


Selama ini setelah kecelakaan perihal Lia di culik, Kinar sudah menjaga kedua sahabatnya dengan beberapa orangnya, menyuruh mereka menjaga kedua sahabatnya dari jarak jauh.


Kinar pernah mendapatkan sebuah telfon yang mengancam jika Kinar harus berhati-hati, karna Kinar mulai mengusik ketenangannya. mendapatkan panggilan itu Kinar merasa dirinya tidak memiliki musuh ataupun lainnya. namun seseorang mulai bermain-main dengan dirinya, dan itu di trima oleh Kinar.


Sampai sekarang Kinar masih mencari tau siapa yang ingin bermain dengannya tapi masih bersembunyi di balik telfon, tidak berani mewujudkan dirinya di hadapan Kinar.


Kinar tidak akan melepaskan masalah Lia, ia berjanji ke dirinya sendiri akan menghukum orang yang mengganggu sahabatnya.


*****


Kinar kembali ke rumahnya, dirinya masuk ke dalam kamar meletakan tasnya. lalu Kinar masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. setelah selasai dirinya keluar.


Kinar mengganti pakaian tidurnya, ketika dirinya keluar dari ruang ganti, tiba-tiba Kinar terkejut melihat sosok suaminya yang sedang berdiri menatapnya.


"Kamu dari mana?" tanya Rangga, dengan mengikuti Kinar sampai ke meja rias.


"Aku ada urusan"


"Urusan? urusan dengan siapa?"


Kinar mulai kesal dengan Rangga yang terus bertanya, bahkan Kinar tidak mengerti dengan sikap suaminya yang telah berubah.


Kinar mengabaikan pertanyaan suaminya, ia naik ke tempat tidur dengan memiringkan tubuhnya sambil memeluk Bantal guling.


Rangga pun ikut tidur, dirinya memeluk Kinar dari belakang. Kinar terkejut melihat Rangga yang memeluknya.


"Kamu dari mana saja?" tanya Rangga dengan lembut sambil memasukkan tangannya ke dalam baju Kinar.


Apa ini, kamu bertanya. bertanya saja tak perlu tangan seperti itu. Kinar

__ADS_1


Kinar menahan tangan Rangga, yang mulai aktif.


"Kenapa? kamu tidak menyukainya?" tanya Rangga dengan membisikannya di telinga milik Kinar.


"Aku ingin istirahat" jawab Kinar.


Tapi Rangga tidak membiarkan Kinar istirahat begitu saja, apa lagi dirinya begitu sangat merindukan istrinya. di kantor Rangga terus mengingat wajah kinar, rasanya ia ingin cepat kembali. tidak melihat Kinar seharian membuatnya seperti setahun. maka malam ini ia tidak akan melepaskan Kinar.


Rangga mulai menciumi daun telinga Kinar, dan mulai menjalar ke leher Kinar.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku ingin membuat junior"


"Junior? "tanya Kinar dengan kebingungan


"Kamu akan tau sebentar lagi." ucap Rangga dengan mulai mengaktifkan tangannya di tubuh Kinar.


Kinar mulai terbuai dengan apa yang Rangga lakukan. Rangga mulai menyentuh sesuatu di bagian dada Kinar. dan dengan lembutnya Rangga mere**snya.


Rangga membalikkan tubuh Kinar agar menghadap dirinya, ia memegang danggu milik Kinar dan dengan lembutnya ia mencium bibir Kinar dan **********. kinarpun membalasnya.


Malam itu menjadi ciuman panas untuk mereka berdua, tapi tiba-tiba Rangga mulai menggila, Kinar menahan tubuh Rangga.


"Ada apa?" tanya Rangga dengan mengangkat wajahnya


"Aku ingin bertanya padamu"


"Setelah aku menyelesaikan membuat junior"


"Gak, sekarang aku ingin bertanya"


Rangga turun dari atas tubuh Kinar, kesamping Kinar.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Rangga dengan cepat agar dirinya bisa melanjutkan pekerjaannya.


"Apa kamu yang membuatkan stempel ini waktu kita menikah beberapa bulan lalu?" tanya Kinar dengan menunjuk tanda merah di dadanya yang baru saja Rangga buat.


Rangga terbatuk mendengar pertanyaan istrinya


"Aku gak ingat" ucap Rangga dengan mengela perbuatannya.


"Sudahlah, itu tidak penting" kata Rangga lagi dengan memulai kembali sesuatu yang tertunda tadi


"Kalau bukan kamu yang melakukannya lalu siapa, jelas-jelas itu sama dengan apa yang kamu lakukan semalam"


"Aku gak tau"


"Ya sudah nanti aku akan cari tau siapa yang melakukannya, atau jangan-jangan"


Rangga mengangkat wajahnya menatap Kinar ketika dirinya sudah membuatkan stempel kepemilikan di bagian dada istrinya.


"Jangan-jangan apa?" tanya Rangga penasaran


"Sudahlah"


"Jawab jangan-jangan apa"


"Aku berfikir jangan-jangan itu adalah kerjaan Anand" ucap Kinar dengan mulai membuat Rangga kesal, karna Rangga tidak mengaku dengan perbuatannya.


Rangga menghentikan aksinya, dirinya mulai kesal mendengar ucapan Kinar.

__ADS_1


"Besok aku akan menanyakannya ke Anand, atau malam ini saja aku menanyakannya dengan menelfonnya," ucap Kinar dengan berpura-pura bangun mengambil handphonenya.


Rangga yang kesal meraih tubuh Kinar agar tetap pada posisinya, ia menahan agar Kinar tidak menghubungi Laki-laki yang bernama Anand itu.


"Tidak perlu kamu menanyakan padanya"


"Kenapa?"


"Bukan dia yang melakukannya"


"Tapi aku harus menanyakannya Rangga"


"dia tidak akan menjawabnya"


"Setidaknya aku harus menanyakannya padanya"


"Aku bilang gak perlu, ya gak perlu"


"Koq kamu marah Rangga"


"Karna aku yang melakukannya, aku yang membuat stempel kepemilikan itu"


"Tapi kata kamu"


"Aku berbohong padamu"


"Sudahlah pasti bukan kamu"


Karna kesal Rangga membuat stempel kepemilikan di leher dan dada Kinar.


"Aku membuatnya seperti itu, puas"


Dasar suami, apa susahnya si mengaku, di panasin dulu baru mengaku


"Kenapa kamu melakukannya saat itu?"


"Aku tidak tau" ucap Rangga dengan mengalihkan tatapannya dari Kinar.


"Benarkah? kamu tidak tau alasanmu melakukannya?" tanya Kinar


"Tidurlah, kamu pasti capek" ucap Rangga


Namun Kinar menggantungkan kedua tangan ke leher Rangga.


"Benarkah kamu menyuruhku untuk istirahat"


"Hmmm"


Kinar menciumi bibir suaminya dengan lembut, ketika Rangga membalasnya Kinar melepaskan bibirnya dari bibir suaminya.


"Apa kamu benar-benar memancingku?"


"Menurutmu" jawab Kinar dengan tersenyum


Rangga tidak bisa mengendalikan hasratnya, ia langsung menciumi bibir istrinya, dengan menyusuri wajah, leher bahkan dada Kinar dengan menciuminya.


Kinar mengeluarkan suara desahan ketika Rangga, membuatkan stempel kepemilikan di bagian leher dan dadanya. Rangga mulai menelusuri tempat sensitif milik Kinar


Malam itu menjadi malam terpanas bagi suami istri yang sedang di mabuk cinta, seluruh manusia sedang tertidur pulas, tapi mereka masih melaksanakan tugas mereka di malam hari yang tak satu orangpun tau pekerjaan apa yang mereka lakukan.


Rangga dan Kinar menyelesaikan pekerjaan mereka tepat pukul 3 dini hari. keduanya terlihat begitu kelelahan sehingga membuat mereka tertidur.

__ADS_1


__ADS_2