Sebagai Wanita Pengganti

Sebagai Wanita Pengganti
Bab 17


__ADS_3

Rangga terbangun dari tidurnya ia menatap jam yang berada di atas nakas sudah menunjukan pukul 6 pagi, ia melihat kesamping, ke shofa tidak menemukan Kinara istrinya.


Rangga beranjak dari tempat tidur mencari Kinara ke kamar mandi tapi Rangga tetap tidak menemukannya juga, ia terus mencarinya bahkan ia mencari di kamar sebelah namun tak ada juga, lalu ia memutuskan untuk mengambil air minum di dapur dengan wajah yang kesal dan juga khawatir. Rangga membuka lemari es mengambil air putih dan meminumnya, ketika ia hendak menutup pintu lemari es, Rangga terkejut melihat Kinara berdiri di depannya dan mengambil air minum yang berada di tangannya. setelah Kinara meminumnya ia mengembalikan botol air minum itu kepada Rangga lalu Kinara pergi meninggalkan Rangga kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.


Rangga hanya diam saja tak bisa berkata-kata lagi, wanita yang di khawatirkannya tiba-tiba muncul di depannya dengan meminum air di botol yang sama. Sikap Kinara yang berani mengambil air minum di tangan Rangga membuat Rangga tak emosi sedikitpun.


Rangga hanya diam saja , tapi tiba-tiba senyuman kecil terbit di wajah Rangga, ia mengangkat botol minumannya dengan tersenyum entah senyuman bahagia atau apalah itu hanya Rangga yang tau.


"Tunggu, kapan dia kembali dan dia tidur di mana semalam?" ucap Rangga dengan memikirkannya.


Untuk memastikan Rangga pergi mengikuti Kinara dari belakang, Rangga semakin penasaran karna saat ini Kinara bukan pergi ke kamar tidur mereka atau kamar tamu, tapi Rangga merasa penuh dengan kebingungan melihat Kinara masuk ke dalam kamar pembantunya yang bernama Nur.


Setelah Kinara masuk ke dalam kamar, Rangga pergi ke ruang tamu ia duduk sambil memegang botol minuman, lalu ia memanggil Bi Nur pembantunya dan menanyakan kenapa Kinar tidur di kamarnya.


"Bi Nur.."


Bi Nur yang mendengar namanya di panggil ia segera berlari mendekati ke arah suara yang memanggilnya dan itu adalah tuannya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Bi nur dengan wajah ketaktukan karna Nona Kinar tidur di kamarnya.


Rangga langsung menatap Bi Nur. "Jam berapa Kinar pulang semalam?"


"Nona Kinar pulang jam 1 malam tuan" ucap Bi Nur dengan takut-takut


"Terus.."


"Nona Kinar Takut membangunkan tuan yang sedang tidur"


"Lalu"


"Lalu nona Kinar tidur di ruang tamu di depan TV tuan, saya tidak sengaja melihat nona Kinar ketika saya lewat mau mengecek pintu tuan, lalu saya mendekatinya saya memakaikan selimut kepada nona Kinar. tiba-tiba nona Kinar menahan tangan saya sambil memanggil.."ucapan Bi Nur tidak berlanjut karna takut kena marah dari tuannya.


"Teruskan Bi"


"Nona Kinar memanggil-manggil ibunya lalu memeluk saya sambil menangis, ketika nona Kinar sudah tertidur, saya kembali ke kamar saya namun tiba-tiba nona Kinar mengikuti saya dan ketika saya membuka pintu kamar, nona Kinar masuk ke dalam kamar saya dan berkata ia ingin tidur bersama dengan saya tuan, tapi saya sudah melarangnya bahkan saya menyuruh nona Kinar agar tidur di kamar bersama dengan tuan Rangga tapi nona Kinar menolaknya tuan"

__ADS_1


Setelah mengatakan yang sesungguhnya Bi Nur bersujud meminta ampun karna sudah lancang mengajak Nona Kinar. istri dari tuannya tidur bersama dengannya.


"Maafkan saya tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi tuan" ucap Bi Nur dengan memohon ampun


"Berdirilah Bi, lain kali jangan ulangi lagi dan apapun itu bangunkan saya"


"Baik tuan"


Rangga pergi menuju ke kamar Bi Nur, selama hidupnya ia tidak pernah menampakan dirinya di kamar pembantu namun hanya Kinaralah yang membuat Rangga masuk ke dalam kamar pembantunya.


Rangga menggendong Kinar keluar dari kamar Bi Nur, dengan menuju ke kamarnya. sepajang menuju ke kamar. Rangga menggendong Kinar, Rangga terus menatap Kinar yang sedang tidur.


Bi Nur yang melihat tuannya banyak berubah karna adanya Kinar, ia bersyukur gadis kecil itu bisa membawa perubahan untuk tuannya walaupun belum sepenuhnya berubah.


Rangga membaringkan Kinar ke tempat tidur, sedangkan Kinar hanya menggeliat saja lalu melanjutkan tidurnya, Rangga yang melihatnya tersenyum rasanya ia ingin menggigit Kinar namun seperti awalnya ia masih teguh dengan imejnya dan masih gengsi untuk terang-terangan pada Kinar.


Rangga memegang dadanya lalu berdiri "aku harus pergi dari sini" ucap Rangga dengan pergi keluar dari kamar, ia membuka pintu kamarnya lalu menutupnya " Kenapa gadis gila itu terlihat sangat menggemaskan saat tidur" ucap Rangga dengan tangannya masih memegang gagang pintu kamar. Rangga menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya keluar.


Rangga menuju ke dapur untuk memasak sarapan pagi untuk Kinar. Rangga melihat ada Bi Nur yang sedang menyiapkan bahan-bahan masakan, Rangga mendekati Bi Nur.


Bi Nur yang melihat kedatangan tuannya terkejut.


"Saya mau mmmm"


"Apa yang tuan butuhkan biar saya akan siapkan"


"Gak usah Bi, saya mau membuat sarapan pagi"


"Biar saya saja tuan, itu sudah menjadi tanggung jawab saya"


Rangga menatap Bi Nur dengan tatapan seorang majikan "Biarkan saya yang akan membuatkan sarapan pagi ini, Bi Nur silahkan mengerjakan yang lainnya"


"Baik tuan" ucap Bi Nur dengan meninggalkan Rangga di dapur sendirian, Bi Nur pergi ke belakang untuk mengerjakan yang lain.?


Rangga mengambil tabletnya, ia membuka internet untuk mencari bahan-bahan yang akan ia masak dan juga cara kerjanya.

__ADS_1


Rangga memasaknya berulang-ulang karna setiap masakannya selalu gosong dan tidak enak, terakhir masakannya hampir hangus namun Rangga tidak membuangnya ia terus menatap masakannya itu, Rangga ragu menyajikan makanan masakannya untuk Kinar. Rangga memanggil Bi Nur.


"Bi Nur.." panggil Rangga


"iya tuan"


"Siapkan sarapan pagi" ucap Rangga, namun sebelum Rangga melangkah jauh ia berbalik dan mengatakan jika makanan yang ia masak tidak perlu di sajikan untuk sarapan pagi.


"Bi, buang saja masakan yang saya masak tadi dan tidak perlu di sajikan"


"Baik tuan"


Bi Nur menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat dapur begitu berantakan dan beberapa makanan yang tidak bisa di makan karna hangus sudah berada di dalam tempat sampah, walaupun yang satunya tidak terlalu gosong tetap saja Bi Nur harus membuangnya atas perintah tuannya.


Kinar tiba-tiba muncul di belakang Bi Nur dan itu membuat Bi Nur terkejut.


"Eh Nona Kinar bikin kaget Bibi saja"


"Apa itu Bi? koq warnanya aneh" tunjuk Kinar ke telur mata sapi yang di goreng oleh Rangga.


"Oh itu telur goreng"


Kinar mendekati makanan itu dengan menatapnya "koq bisa warna begini Bi?" ucap Kinar dengan terus menatap telur goreng itu.


"itu di masak sama tuan Rangga untuk non Kinar, tapi hangus dan tuan Rangga menyuruh Bibi membuangnya karna itu tidak layak di makan karna sudah hangus" jelas Bi Nur pada Kinar. istri Rangga majikannya.


"Ya sudah bi, letakan saja di meja makan nanti Kinar sarapan dengan telur yang di masak oleh Rangga"


"Tapi non Kinar, nanti kalau tuan Rangga melihatnya nanti tuan Rangga marah"


"Biar Kinar yang akan menghadapi Rangga. Bibi tenang saja ya, Rangga gak akan memarahi Bibi. Kinar janji" ucap Kinar dengan menyakinkan Bi Nur.


"Baik non Kinar"


"Ya sudah Bi, Kinar pergi mandi dulu sekaligus mau siap-siap"

__ADS_1


"iya non"


Kinar pergi meninggalkan Bi Nur yang membersihkan dapur dan menyiapkan sarapan di meja makan.


__ADS_2