
Sesampainya di rumah sakit, seorang dokter memeriksa keadaan Lia. dan membungkus tangan Lia dengan perban
Kinar berdiri tepat di hadapan dokter yang sedang memeriksa sahabatnya.
"Bagaimana keadaan sahabatku dok?"
"Kamu bisa ikut aku ke ruangan ku Kinar"
Kinar menngikuti dokter yang memeriksa Lia ke ruangannya.
"Apa yang terjadi dengan sahabatmu Kinar?"
"Aku gak bisa menjelaskannya karna aku belum tau pasti dan belum mendapatkan bukti dari semua ini"
"Baiklah, Lia gak apa-apa Kinar hanya saja kepalanya terkena pukulan, tapi tidak mengakibatkan sesuatu yang fatal, sehingga Lia masih bisa selamat" kata dokter muda yang bernama Arka, yang memeriksa Lia.
"Terima kasih dokter"
"Kamu tidak perlu berterima kasih, karna semua ini sudah tanggung jawabku sebagai dokter"
Ketika Kinar hendak keluar dari ruangan dokter Arka, tiba-tiba dokter Arka memanggilnya.
"Kinar.." panggil dokter Arka
Kinar yang mendengar dirinya di panggil ia menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya ke arah dokter Arka
"Ini obat yang harus kamu tebus di apotik, obat ini akan membantu memulihkan Lia"
"Terima kasih dokter"
Kinar pergi ke apotik untuk menebus obat yang di berikan oleh dokter Arka. dalam perjalanannya menuju ke apotik beberapa perawat membicarakan Kinar. namun Kinar mengabaikan apa yang mereka ucapkan.
Selesai menebus obat, Kinar kembali ke ruangan Lia di rawat,. Kinar duduk menatap Lia yang belum sadar.
Kinar yang terlihat tetap tenang dengan melihat keadaan Lia yang terbaring di rumah sakit. Kinar berjanji tidak akan membiarkan orang yang sudah mengganggu sahabatnya.
Salah satu pria yang berotot mendekati Kinar.
"Nona, ada kabar bahwa ketiga pria itu tidak mau mengatakan siapa orang yang menyuruh mereka"
Kinar yang mendengar apa yang di katakan pria itu bergegas berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Kalian jaga Lia baik-baik, jangan biarkan ada yang masuk kecuali dokter"
"Baik nona"
Lia pergi mengendarai mobilnya menuju ke arah tempat tiga pria itu di sekap, 45 menit Kinar sampai di tempat tujuannya.
Sesampainya di sana Kinar di sambut oleh beberapa pria berotot
"Mereka tetap tidak mau memberitahukan?"
"Iya nona" jawab salah satu pengawalnya.
Teriak ketiga pria itu terdengar di telinga Kinar. ia masuk ke dalam ruang bawah tanah, ia melihat ketiga pria itu di siksa namun ketiga pria itu tetap tidak memberitahu mereka siapa yang menyuruh mereka melakukannya.
Salah satu pria itu menatap Kinar sambil tersenyum
"Percuma kalian menyiksa kami, sampai matipun kami tidak akan memberitahu kalian" ucap salah satu pria itu.
Kinar tertawa terbahak-bahak ketika mendengar apa yang pria itu katakan.
"Sungguh luar biasa kesetiaan kalian kepada majikan kalian, setelah melihat ini apakah kalian masih akan setia dan rela mati demi orang itu"
Salah satu pengawal Kinar mendekatinya dengan memberikan sebuah foto.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Yang ingin aku lakukan yaitu Seperti apa yang kalian lakukan kepada sahabatku Lia, maka aku akan melakukannya seperti itu ke keluarga kalian" ucap Kinar dengan melemparkan sebuah foto kepada ketiga pria itu.
Ketiga pria itu terkejut ketika melihat foto istri, anak, ibu dan adik mereka.
"Lepaskan aku" ucap salah satu pria dengan mencoba melepaskan tangannya yang terikat
"Bagaimana? apa kalian masih tetap tidak mau membuka mulut kalian?"
Ketiga pria itu saling menatap satu sama lain tanpa berbicara.
"Okey baiklah, kalau itu yang kalian inginkan"
Kinar mengambil handphone nya, ia menghubungi salah satu pengawalnya yang berada di rumah ketiga pria itu.
Kinar menghidupkan speaker handphonenya dan di perdengarkan ke mereka suara wanita yang berteriak dan anak kecil yang sedang menangis.
__ADS_1
Ketiga pria itu tetap bersikeras pada pendirian mereka, sehingga membuat Kinar menghidupkan Videocallnya dengan keluarga ketiga pria itu.
Ketiga pria itu berteriak dan memberontak ketika melihat istri, ibu dan adik mereka yang sedang duduk dengan di sodorkan senjata di kepala mereka.
"Kami tidak tau siapa yang menyuruh kami, mereka memerintahkan kami melalui telfon dan membayar kami dengan cara di transfer kerekening langsung" ucap salah satu pria itu
"Yang memerintahkan kalian siapa?" tanya Kinar
"Kami tidak tau, tapi yang memerintahkan kami adalah seorang pria, pria itu hanya memberikan kita perintah lewat telfon saja"
"Sial.." ucap Kinar dengan melemparkan pisau yang di tangannya, hampir mengenai salah satu ketiga pria itu.
Kinar pergi meninggal tempat itu setelah melemparkan pisau.
Kinar kembali ke rumah sakit untuk menjaga Lia di rumah sakit.
*******
Pukul 1 malam Rangga begitu gelisah melihat Kinar yang belum kembali juga, Rangga merasa khawatir ke Kinar karna selama menikah dengannya Kinar tidak seperti ini.
Rangga mencoba menghubungi Kinar namun panggilan Rangga tak mendapatkan jawaban dari Kinar.
Rangga mondar mandir di ruang tamu sambil terus melihat keluar untuk mengetahui Kinar sudah datang atau belum.
Berly yang melihat Rangga begitu gelisah membuatnya senang karna ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil hati Rangga kembali.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Berly dengan memegang lengan Rangga.
"Aku gak apa-apa" jawab Rangga dengan menatap Berly
Berly menarik Rangga untuk duduk, ketika Rangga sudah duduk Berly mencoba meraba-raba dada bidang Rangga.
Namun apa yang Berly ingin tidak sesuai dengan apa yang ia rencanakan, karna Rangga melepaskan tangan Berly dari dadanya.
"Sayang koq kamu seperti itu?" tanya Berly dengan melihat Rangga yang sudah berdiri dari duduknya
Rangga menutup kedua matanya dengan mengatur pernafasannya, ketika pernafasannya sudah stabil Rangga membuka matanya dan menatap Berly.
"Pergilah istirahat, malam ini biarkan aku sendiri" ucap Rangga dengan pergi meninggalkan Berly.
Di ruang kerja Rangga menghubungi Frans asistennya, ia meminta bantuan Frans agar mencari tau keberadaan Kinar saat ini.
__ADS_1
30 menit Frans menghubungi Rangga kembali dengan memberitahukan kalau Kinar saat ini berada di RUMAH SAKIT MEKAR.
Rangga yang mendengar apa yang di katakan Frans, ia bergegas keluar pergi ke garasi mobil yang ada di rumahnya. untuk mengambil mobil yang akan ia pakai menuju ke RUMAH SAKIT MEKAR.