
"maaf membuat kamu menunggu lama Hans" ucap Bram yang baru saja sampai di sebuah cafe.
"Aku juga belum lama sampai Bram, gimana pekerjaanmu berjalan dengan baik?" tanya Hans pada sahabatnya. Hans mengajak Bram berbasa basi dulu agar ketika ia mengatakan tujuannya bertemu dengannya bram tidak akan terkejut.
"Alhamdulillah baik Hans"
"Aku sudah pesankan minuman buatmu, masih sama seperti dulu kan minumnya?" tanya Hans pada sahabatnya, Bram.
"iya, aku gak ganti-ganti tetap setia di satu saja" jawab Bram dan dengan jawabannya membuat mereka tertawa mengingat masa lalu."waktu itu kan kamu awalnya minum kopi kalau gak salah perut kamu mules ya Hans?" tanya Bram dengan tersenyum
"iya benar, waktu itu aku sensitif sama namanya kopi, tapi itu hanya masa lalu sekarang aku menyukainya Bram"
"Bagus dong, berarti kita sama-sama memiliki hobby yaitu menyukai kopi" ucap Bram dengan tertawa dan di ikuti Hans. mereka tertawa ketika mengingat masa lalu, masa mudah mereka yang begitu penuh dengan kenakalan.
Hans dan Bram mengingat masa mudah mereka dengan menceritakan kembali kisah mereka dulu, setelah begitu lamanya mereka mengobrol kini saatnya inti pertemuan mereka sebenarnya.
Hans mulai membuka pembicaraan mereka dalam pertemuan hari ini "Bram.."
"iya ada apa Hans, apa yang sebenarnya yang ingin kamu katakan ?" tanya Bram pada sahabatnya, Hans.
__ADS_1
"Aku minta tolong padamu kalau hari ini aku dalam masalah"
"Masalah apa? ceritakan saja semoga aku bisa membantumu"
"Tapi kali ini aku benar-benar mengharapkan bantuan darimu Bram, hanya kamu satu-satunya sahabat terdekatku"
Bram terdiam mendengarkan ucapan sahabatnya, selama mereka hidup dalam berkeluarga Hans tidak pernah meminta bantuan pada dirinya, namun hari ini hans mengatakan mengharapkan bantuan darinya. "Bantuan apa Hans, aku akan membantumu semampuku"
"Pernikahan putraku akan di gelar besok Bram"
"trus, apa yang harus aku lakukan padamu Hans?"
Dengan ragu-ragu Hans memberitahukan maksud yang dikatakan Hans. "Aku meminta bantuanmu agar putrimu menikah dengan putraku Bram"
"Maaf Bram permintaanku membuatmu kaget, namun saat ini aku benar-benar dalam masalah"
"Calon menantumu di mana, kenapa tidak menikah dengannya, bukankah kamu mengatakan putramu akan menikah dengan seorang desainer Hans"
"iya benar Bram, namun wanita itu pergi meninggalkan Rangga tiba-tiba ketika hari pernikahan mereka sudah di depan mata"
__ADS_1
"Apa kamu sudah mencarinya atau menghubunginya Hans?"
"Aku sudah mencari dan menghubunginya namun aku tak menemukannya, dan aku tidak ingin kalau masalah ini sampai ke media" ucap Hans ayah dari Rangga."Sekarang yang bisa ku harapkan hanyalah dirimu Bram"
Bram diam mendengarkan apa yang di katakan sahabatnya, menurutnya putrinya masih begitu kecil namun ia juga berfikir selama ini Hans selalu membantunya dari hal kecil hingga hal besar.
"Bagaimana Bram, apa kamu siap mengizinkan putrimu menikah dengan putraku Rangga?"
"iya aku setuju nanti aku akan menanyakan hal ini pada istriku dan juga putriku"
"Baik, terima kasih Bram sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganku hari ini"
"hahahaha, ada apa denganmu Hans, sahabat tetap sahabat sampai kapanpun dan di manapun kita harus saling menghargai dan saling membutuhkan, sudah gak usah berfikiran yang aneh-aneh"
"Terima kasih Bram sudah mau membantuku dalam masalah ini"
"iya, iya, sudahlah Hans sekarang waktunya kita makan"
"jangan lupa besok adalah hari pernikahannya Bram, dan untuk persiapannya gak usah kamu pikirkan, aku yang akan mengurus semuanya"
__ADS_1
Bram menganggukan kepalanya" baik, baik" jawab Bram.
Sebelum kembali ke kantor kedua sahabat itu melanjutkan makannya sambil bercanda.