
Jam sudah menunjukan pukul 7 namun Rangga tak kunjung datang, ibu Rangga selalu menghubunginya tapi Rangga tak meresponnya, ibunya Rangga beralih menelfon Frans.
Frans yang mendengar telfonnya berdering ia segera melaporkan ke Rangga. "Tuan, ibu anda sedang menelfon"
"Gak usah di angkat"
"Tapi tuan"
"Terserah kamu saja mau jawab atau tidak"
Frans menjawab panggilan dari ibu Rangga, karna ia memikirkan kalau saat ini ia adalah asisten Rangga, tapi orang tua Rangga sangat berpengaruh dengan pekerjaannya, sehingga ia memutuskan menjawabnya.
"Hallo nyonya"
"Rangga mana ?"
"Tuan Rangga"
"berikan telfonnya pada Rangga"
"Maaf tuan, nyonya ingin berbicara dengan tuan" ucap Frans dengan memberikan handphone pada Rangga, tuannya.
"Cepat pulang, papa kamu sedang menunggu untuk berangkat ke rumah sahabat papamu"
"Rangga masih banyak pekerjaan ma"
__ADS_1
"Mama gak mau mendengarkan alasanmu, cepat pulang" ucap mamanya dengan mengakhiri telfon nya. Rangga menggenggam handphone itu lalu ia segera berdiri dan pergi pulang kerumahnya sesuai permintaan mamanya.
Dalam perjalanan pulang Rangga mengalihkan pandangannya keluar ia melihat setiap gedung yang mereka lewati, dengan tatapan tak terbacakan ia tak bergeming sedikitpun.
Frans terus menatap tuannya itu lewat kaca spion mobil yang ada di dalam mobil, ia melihat ada kesedihan di wajah tuannya namun ia tak berani ikut campur dengan urusan pribadi tuannya, sebelum tuannya sendiri yang memberinya perintah.
Rangga telah sampai di rumahnya, frans membukakan pintu untuk tuannya dan mengikutinya masuk ke dalam.
"Bersiap-siaplah kita akan makan malam bersama dengan calon istrimu" ucap mamanya Rangga
"Rangga gak ikut, mama sama papa saja yang kesana"
"Rangga.., kamu harus ikut" ucap Hans papanya Rangga.
Rangga tak menanggapinya, ia hanya diam saja tak banyak bicara.
"Rangga tidak ingin pergi ma"
"Rangga kamu harus ikut, sekarang kita harus berangkat ma"
"Baik pa.. "
Rangga terpaksa ikut karna ia tak tega melihat mamanya menangis hanya karna sikapnya.
35 menit telah sampai di kediaman milik Bram sahabat papanya Rangga. mereka di sambut oleh kedua orang tua Kinar.
__ADS_1
Kini mereka melakukan makan malam bersama tanpa harus mengeluarkan suara. setelah selesainya makan malam mereka saling mengobrol di ruang tamu. sehingga pengenalanpun di mulai.
Tuan Hans selaku orang tua Rangga memperkenal putranya pada sahabatnya Bram.
"Kenalin Bram, ini adalah putraku"
"Putramu begitu sempurna Hans" puji Bram pada putra sahabatnya itu
Bram pun tak mau kalah dari sahabatnya sehingga ia memperkenalkan putri semata wayangnya pada sahabatnya "Kenalin Hans, dia adalah putriku" ucap Bram dengan penuh kebanggaan
"Putrimu begitu cantik Bram, tidak salah aku memilihnya sebagai menantuku"
Mereka memuji putra putri mereka sendiri, sedangkan Rangga tak bergeming sedikitpun ia diam saja bahkan tak menatap wajah kinar.
Kinar tersenyum mendengar apa yang mereka bicarakan dan sesekali ia melirik ke arah Rangga. "kenapa wajahnya seperti itu sih gak ada senyum-senyumnya sedikitpun, seharusnya kamu tetap tersenyum walaupun kamu gak menyukai ini, dasar orang kaya" batin Kinar ketika melihat wajah Rangga tanpa ekspresi sedikitpun.
"calon menantuku ternyata cantik ya"
"Siapa dulu dong yang milih papa"
"iya pa, mama tau kalau soal beginian papa emang jagonya"
"Tante dan om bisa saja" ucap Kinar dengan tersenyum malu
"gak usah panggil Tante dan om, panggil mama sama papa saja ya sayang biar enak dengernya"
__ADS_1
"baik ma, pa" ucap Kinar dengan menatap ayah dan ibunya.
Ibu dan ayah Kinar bahagia melihat Kinar berada pada keluarga yang tepat dengan menyayanginya seperti mereka menyayangi kinar.