Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Diskusi


__ADS_3

“Kamu beneran nggak sibuk? Aku nggak ganggu kerjaan kamu kan kak?”


Leon yang sedang mengemudikan mobilnya tersenyum mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh alesia.


“Pertanyaan apa itu sayang? Kamu kaya sama siapa aja. Apapun aku lakukan buat kamu. Jadi nggak usah mikir yang aneh aneh. Oke?”


Alesia tertawa pelan. Alesia tau bagaimana sibuknya leon setiap harinya. Maka dari itu alesia menanyakanya langsung. Alesia tidak mau menyita waktu kerja leon hanya untuk menemaninya menemui bunda yati siang ini.


“Tapi.. Aku boleh tau nggak kenapa tiba tiba kamu minta temenin ke panti? Padahal biasanya kamu pergi sendiri sama pak no. Ini kok tumben banget lagi manja minta di temenin suami tampan..”


Alesia tersenyum merasa geli dengan kalimat suami tampan yang di lontarkan leon di akhir katanya.


“Kamu kok amnesia sedikit bisa jadi narsis sih kak..”


Leon tersenyum. Entahlah, leon sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri. Dalam sandiwaranya leon bisa begitu frontal menjadi dirinya sendiri.


“Jadi sebenernya aku mau ada yang mau di bicarain sama bunda kak.. Ini tentang rasya yang menerima cek dari orang bernama bram dengan nilai yang cukup banyak.”


Leon mengeryit.


“Bram? Maksudnya tuan bramono?”


Alesia terdiam. Nama bram dan bramono memang sama di awal. Tapi dari kemarin alesia tidak pernah berpikir sampai kesitu.


“Bukan deh kayanya kak.. Rasya mengatakan si om bram itu temenya. Begitu kata bunda yati.”


“Terus dimana masalahnya?” Tanya leon bingung. Karna menurut leon wajar jika panti asuhan menerima sumbangan dari orang orang yang memang sudah cukup dalam segala hal tentang materi.


“Ya yang jadi masalah itu cara orang itu kak. Biasanya orang yang mau memberikan santunan itu selalu datang sendiri secara langsung untuk menemui bunda.. Tapi dia enggak. Dia menitipkan cek itu pada rasya. Aneh nggak sih?”


Leon mengangguk anggukan kepalanya.


“Ya udah positif thinking aja, mungkin orang itu masih sibuk dan belum ada waktu buat datang.”


“Aku juga berpikir begitu kak. Tapi bunda sepertinya sangat khawatir dan tidak tenang. Ya kakak tau sendirilah jaman sekarang kejahatan itu bermacam caranya.”


“Iya juga sih...”


Alesia tersenyum kemudian mengalihkan pandanganya ke jalanan yang mereka sedang lewati. Pikiran alesia tiba tiba berpusat pada nama bram dan bramono yang memang sama.


Apa mungkin memang dia orangnya? Tapi untuk apa? Dan apa maksudnya? Bagaimana dia bisa mengenal rasya?


Mobil leon sampai tepat di halaman luas panti asuhan dimana banyak sekali anak kecil yang sedang bermain. Leon tersenyum menatap anak anak yang tampak riang tanpa beban. Mereka tertawa lepas begitu bahagia bersama sama.

__ADS_1


“Kak.. Aku duluan yah..”


Leon menoleh pada istrinya.


“Bareng aja sayang.” Katanya.


“Loh, terus mainan yang kamu beliin buat mereka gimana?” Tanya alesia bingung.


Alesia pikir leon ingin membagikan langsung berbagai mainan yang memang sudah dia beli saat dalam perjalanan pulang dari perusahaan menuju rumah untuk menjemputnya.


“Nanti aja kita bagiin sama sama. Aku juga pengin tau bagaimana yang sebenarnya.” Senyum leon menjawab.


“Ya sudah. Yuk?”


Leon dan alesia turun bersamaan dari mobil. Mereka tersenyum saat anak anak yang sedang bermain itu langsung menoleh dan menyambut riang kedatanganya.


Tidak mau membuang waktu suaminya alesia pun segera mengajak leon untuk menemui bunda yati. Namun saat leon dan alesia melangkah seorang anak kecil yang masih berumur 4 tahun menangis meminta ikut pada leon. Karna tidak tega leon pun akhirnya menggendong anak kecil itu untuk ikut serta denganya dan alesia menuju ruangan bunda yati.


“Udah jangan nangis dong.. Om minta maaf deh.. Tadi om nggak tau kalau bela mau ikut..”


Alesia tersenyum mendengar leon yang sedang menenangkan bela yang di gendongnya. Alesia tidak pernah tau bahwa suaminya adalah pria yang sangat menyukai anak kecil. Alesia baru tau sekarang tepatnya setelah leon mengalami amnesia separuhnya.


Alesia membuka pintu ruangan bunda yati dengan leon yang berada di belakangnya. Disana sudah ada rasya dan bunda yati yang menunggu kedatanganya dan leon.


Alesia segera mendekat pada bunda yati di ikuti leon.


“Loh bela kenapa? Kok nangis?” Tanya bunda yati bingung saat mendapati bela menangis di gendongan leon.


“Oh ini.. Bela nangis karna mau ikut sama saya bunda.. Jadi saya gendong saja kesini. Nggak papa kan?”


Bunda yati menggeleng dengan senyuman di bibirnya. Bela memang balita yang cukup cengeng.


“Harusnya bunda yang minta maaf sama kamu.. Kamu jadi harus gendong bela nak leon..”


“Nggak papa bunda.. Namanya juga anak kecil.” Senyum leon pada bunda yati.


Alesia melirik rasya yang hanya diam dengan menundukan kepalanya. Remaja berusia 15 tahun itu tampak bingung di tempatnya.


Alesia tersenyum kemudian mendekat dan mendudukan dirinya tepat di samping rasya.


“Hy rasya..” Sapa alesia tersenyum manis menatap rasya yang berada di sampingnya.


Rasya mengangkat kepalanya kemudian menoleh menatap alesia yang tersenyum padanya.

__ADS_1


“Kak aku nggak bohong.. Cek itu memang dari temen aku.. Namanya om bram.. Dia kenal bunda juga.. Dia juga bilang pacarnya pernah tinggal di panti ini...”


Rasya menatap alesia dengan tatapan sendu. Remaja itu berusaha menjelaskan apa yang sesungguhnya pada alesia.


Alesia tersenyum kemudian mengusap lembut adiknya.


“Iya.. Kakak percaya kok sama kamu sya.. Tapi kakak boleh tau nggak om bram temen kamu orangnya seperti apa?”


Rasya diam sesaat seperti sedang mengingat bagaimana rupa om bram nya.


“Dia tampan, tinggi, dan berambut cepak.” Jawabnya.


Alesia menatap bunda yati yang hanya diam saja begitu juga dengan leon yang memposisikan dirinya di samping alesia dengan bela yang berada di pangkuanya.


“Dia juga pernah datang ke sekolah kak. Dia meminta rasya untuk mengantarnya ke ruang kepala sekolah.”


Alesia mengeryit.


“Dia salah satu wali murid dari teman kamu?” Tanya alesia.


Rasya menggelengkan kepalanya.


“Kalau tentang itu rasya tidak tau kak. Tapi rasya yakin kak om bram orang yang baik.”


Alesia menatap lagi pada bunda yati kemudian menoleh pada leon.


Apa orang itu memang tuan bramono?


Alesia kemudian merogoh tas jinjingnya dan mencari photo bramono yang pernah diam diam alesia ambil saat bramono sedang berdebat dengan santi di depan rumah sakit.


“Rasya.. Apa om bram yang kamu maksud adalah dia?”


Alesia bertanya sambil memberikan hp nya pada rasya memperlihatkan photo bramono pada remaja tampan itu.


Rasya menatap layar hp alesia dan terkejut. Rasya tidak menyangka jika alesia juga mengenal bramono.


“Kakak mengenalnya juga?” Tanyanya menatap alesia tidak percaya.


Alesia tersenyum.


“Ya, dia juga salah satu rekan bisnis kak leon..” Jawab alesia yang tentu saja berbohong.


Leon membulatkan kedua matanya mendengar itu. Bagaimana mungkin istrinya mengatakan hal yang sangat tidak mungkin itu.

__ADS_1


__ADS_2