Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Berbicara dengan bramono


__ADS_3

Sejak melihat photo ibunya dan bramono di dalam map berwarna biru itu alesia tidak pernah bisa berhenti memikirkanya. Apa lagi setelah mengetahui alasan suaminya yang menurut alesia tidak tepat. Rasanya sangat tidak mungkin. Karna jika leon hanya ingin tau leon pasti akan bertanya langsung padanya bukan mencari taunya sendiri bahkan sampai mencari tau detail orang yang pernah dekat dengan ibunya dulu.


Kenapa aku merasa kak leon seperti sedang menyembunyikan sesuatu?


Alesia tidak tau harus percaya atau tidak pada leon. Tapi alasan leon benar benar sulit untuk alesia terima. Apa yang leon lakukan terlalu berlebihan jika hanya ingin tau tentang ibunya.


Alesia memejamkan kedua matanya. Alesia tidak ingin berprasangka buruk pada siapapun apa lagi pada suaminya sendiri. Tapi alesia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Alesia merasa ada sesuatu yang leon sembunyikan darinya.


“Ibu.. Apa mungkin tuan bramono tau siapa ayahku?”


Alesia meneteskan air matanya. Sesak rasanya mengetahui ibunya sangat menderita saat mengandungnya. Ibunya berjuang sendiri antara hidup dan mati saat melahirkanya tanpa suami yang seharusnya setia dan mendampingi juga menguatkanya.


“Aku nggak bisa bu.. Aku nggak bisa menerima ayah begitu saja. Aku juga nggak bisa memaafkan begitu saja apa yang sudah ayah lakukan pada ibu.. Dan apa pantas aku memanggilnya ayah sedang dia saja tidak menikahi ibu?”


Alesia menangis meratapi nasibnya yang besar tanpa sosok ayah dan ibu. Meskipun memang ada bunda yati yang menyayangi dan tulus membesarkanya tapi rasanya tetap berbeda. Alesia ingin merasakan belaian penuh cinta dari sosok yang sudah berjuang menghadirkanya ke dunia. Alesia ingin mengucapkan kata terimakasihnya pada ibunya karna sudah berjuang seorang diri mengandungnya. Dan alesia juga ingin membalas jasa besar ibunya.


Kedua bahu alesia bergetar. Alesia tidak sanggup menahan isak tangisnya. Alesia tidak sanggup menahan luka patah hatinya hidup tanpa kedua orang tuanya. Alesia juga tidak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya sang ibu yang bertahan dan berjuang sendiri demi memberinya kesempatan untuk bisa berpijak di dunia. Semuanya terasa sangat menyakitkan bagi alesia.


“Tuhan.. Aku tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya pelukan ibu.. Aku juga tidak pernah merasakan bagaimana bangganya mempunyai ibu sendiri. Ibu yang hanya milikku. Tapi tuhan, aku bisa membayangkan bagaimana sakitnya ibu saat mengandungku...”


Jeda sejenak. Alesia menggelengkan kepalanya. Suasana sunyi kamarnya dan leon membuat isak tangis alesia memenuhi ruangan luas itu.


“Tuhan.. Aku mohon.. Aku meminta padamu.. Berikan ibuku tempat yang paling indah.. Tempat yang selalu bisa membuat ibuku bahagia.. Balaskan jasanya padaku dengan semua keindahan yang ibuku inginkan tuhan.. Damaikan hidupnya di keabadian..”


Alesia memejamkan kedua matanya. Alesia sadar dirinya hanya bisa meminta dan memohon pada sang pemberi kehidupan karna sang ibu sudah tidak lagi berada di dunia yang sama dengan dunianya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat alesia menoleh. Alesia bisa menebak yang berada di balik pintu kamarnya pasti mbak sari. Karna kalau leon pasti sudah langsung membukanya.


Alesia bangkit dari ranjang kemudian melangkah pelan menuju pintu sembari mengusap air mata yang membasahi kedua pipi chuby nya.


“Ada apa mbak?” Tanya alesia langsung begitu membuka pintu.


Mbak sari terdiam sesaat. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang tentu saja bisa di baca oleh alesia.


“Eh itu nyonya.. Anu.. Itu..”


Mbak sari tampak kebingungan sendiri. Bukan karna siapa yang datang. Tapi karna melihat wajah memerah dan mata sembab alesia.

__ADS_1


“Mbak..”


“Di bawah ada tuan bramono nyonya.”


Alesia langsung terdiam. Bramono adalah salah satu dari bagian masa lalu ibunya.


“Tuan bramono?” Tanya alesia.


“Ya nyonya.” Angguk mbak sari menjawab.


Alesia menghela napas.


“Kalau begitu bilang saja sama dia kak leon belum pulang mbak..”


“Tapi nyonya.. Bukan tuan yang tuan bramono tanyakan. Tapi nyonya.”


“Apa? Saya?”


Alesia terkejut juga khawatir jika bramono ternyata mengetahui siapa dirinya.


“Iya nyonya. Tuan bramono menanyakan nyonya bukan tuan leon seperti biasanya.”


“Kalau begitu katakan saja saya sedang istirahat dan tidak bisa di ganggu.”


Alesia terkejut saat mendengar suara berat bramono. Kedua matanya membulat sempurna mendapati bramono yang dengan lancangnya naik ke lantai 2 rumahnya tanpa izin.


Tidak jauh berbeda dengan alesia mbak saripun terkejut. Mbak sari segera memposisikan dirinya di samping alesia berjaga jaga jika bramono berniat tidak baik pada majikanya.


“Kenapa harus berbohong?”


Alesia menelan ludahnya. Tatapan bramono tidak bisa alesia baca.


“Tuan.. Tidak seharusnya tuan naik tanpa seizin dari saya dan suami saya.” Kata alesia penuh kewaspadaan.


Bramono tertawa pelan.


”Ah ya.. Untuk itu om minta maaf al.. Om hanya merasa bosan menunggu lama.” Katanya.


Alesia menggelengkan kepalanya. Bramono menyebut dirinya om pada alesia.

__ADS_1


“Tuan, saya..”


“Kamu menangis al? Apa leon menyakiti kamu? katakan sama om..”


Alesia mengangkat sebelah alisnya. Ekspresi bramono seperti orang yang benar benar sedang sangat khawatir saat menatapnya.


“Om? Apa maksud tuan?” Tanya alesia.


Bramono langsung bungkam. Di tatapnya mbak sari yang langsung menundukan kepala.


“Kamu panggil saja saya om alesia. Tidak perlu dengan sebutan tuan.” Katanya.


Bramono ingin sekali memberitahu alesia tentang hubungan indahnya dengan ibu le dulu tapi bramono merasa waktunya tidak tepat.


“Memanggil anda om? Memangnya anda siapa sampai saya harus memanggil anda dengan sebutan itu.”


Bramono diam lagi. Tatapanya terlihat terkejut saat alesia menanyakan siapa dirinya sehingga alesia harus memanggilnya om.


“Memangnya leon tidak memberitahu kamu nak?”


Alesia semakin bingung. Sekarang bramono bahkan menyebutnya nak seolah alesia adalah orang yang sangat dekat denganya seperti bagian dari keluarganya sendiri.


“Nak?”


Bramono menghela napas.


“Tidak enak sekali rasanya kalau kita berbicara sambil berdiri seperti ini.”


Alesia melirik mbak sari yang hanya diam di sampingnya. Alesia yakin bramono tidak akan berani berbuat macam macam karna ada mbak sari di sampingnya. Di luar juga ada pak satpam dan pak no yang pasti akan langsung bertindak jika bramono melakukan sesuatu yang buruk pada alesia.


“Baiklah. Kita bicara di bawah.” Kata alesia.


“Itu akan jauh lebih baik.” Senyum bramono membalas.


“Silahkan tuan.”


Bramono menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian melangkah lebih dulu dari alesia dan mbak sari yang mengikutinya dari belakang menuju lantai bawah.


“Nyonya apa sebaiknya kita memberitahu tuan tentang tuan bramono sekarang?” Bisik mbak sari menatap waspada pada bramono yang melangkah di depanya dan alesia.

__ADS_1


Alesia terdiam sesaat. Alesia juga perlu tau tentang siapa bramono sebenarnya. Alesia perlu tau bagaimana bramono bisa mengenal santi dan leon serta menjadi bagian dari masa lalu ibunya.


“Saya rasa tidak perlu mbak. Tapi tolong mbak tetap di samping saya.”


__ADS_2