Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Semuanya terungkap Part 2


__ADS_3

Santi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali santi melirik alesia yang terus menangis dalam dekapan rico. Tidak ada rasa benci ataupun cemburu. Yang ada hanya rasa iba melihat alesia yang tampak sangat terluka dan kecewa karna leon, keponakanya.


Leon.. Maafkan tante. Tante tidak bermaksud menghancurkan kamu..


Air mata santi kembali menetes namun dengan cepat santi menghapusnya.


Sementara di depan rumahnya leon masih tetap mematung. Leon melihat bagaimana alesia menangis di gendongan rico. Dari situ leon bisa merasakan betapa sakit dan kecewanya alesia padanya.


“Hu hu hu hu.. Kamu jahat kak.. Kamu jahat.. Huhuhu..”


Alesia terus menangis dan memukuli rico yang mendekapnya. Alesia benar benar merasa kecewa pada suaminya sendiri. Orang yang selama ini selalu alesia anggap malaikat. Orang yang paling alesia percaya dari siapapun.


“Sabar al.. Kamu tenang.. Semuanya bisa di bicarakan dengan baik baik.. Percaya sama aku..”


Rico berucap lirih namun masih bisa dengan jelas di dengar oleh santi yang sedang mengemudikan mobil.


Santi menahan napasnya beberapa detik kemudian menghembuskanya. Menurut santi alesia terlalu berlebihan. Namun santi juga tidak bisa mengelak, di bohongi memang sakit. Apa lagi di bohongi oleh orang yang sangat di percaya.


“Kak leon keterlaluan co.. Dia jahat.. Huhuhu..”


Alesia wanita yang tangguh dan sabar. Alesia wanita yang bisa menahan segala sesuatu yang di rasakanya. Tapi kali ini alesia sepertinya tidak bisa menahan rasa kecewa dan sakit hatinya sampai alesia menangis begitu keras bahkan sampai berani berteriak pada leon di depan santi juga rico. Alesia benar benar mengesampingkan segalanya karna rasa sakit dan kecewanya pada leon.


“Ya tuhan.. Alesia !! Alesia bangun Alesia !!”


Pekikan rico membuat Santi menghentikan mobilnya secara mendadak. Santi langsung menoleh kebelakang dan menemukan alesia sudah tidak sadarkan diri dalam pelukan Rico.


“Apa yang terjadi Co?”


“Saya tidak tau tante. Alesia pingsan.”


“Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang.”


Rico mengangguk. Rico kemudian menyuruh agar santi yang menjaga Alesia sedang dirinya mengemudikan mobil santi untuk menuju rumah sakit terdekat.


Setelah sampai di rumah sakit, Alesia langsung mendapatkan penanganan dari dokter. Santi juga langsung menghubungi Leon.


------


Di tempat lain pramono baru saja mengakui segalanya. Pramono mengakui segala yang di perbuatnya pada Alesia le di masa lalu pada bramono. Pramono mengakui bahwa dirinya yang menodai Alesia le (ibu le) sampai hamil dan melahirkan Alesia. Dan apa yang pramono akui berhasil mengundang amarah bramono. Bramono memukuli saudara kembarnya sampai hampir pingsan. Darah bercecer di lantai juga kepalan tangan Bramono.


“Kau setan !! Iblis !! Mati saja kau !!”

__ADS_1


Seperti orang kesetanan bramono terus memukuli kakak kembarnya. Bramono tidak perduli sekarang jika sampai pramono mati karnanya. Kesalahan pramono sangat fatal. Pramono sudah menghancurkan hidupnya. Menjauhkanya dari cinta pertamanya kemudian menghancurkan kehidupan rumah tangganya dengan santi dulu.


“Maafkan aku..”


Pramono berucap lirih dengan ringisan di mulutnya yang penuh darah. Pukulan bramono benar benar sangat keras.


“Aku tidak menyangka pram.. Kamu menghancurkan hidupku. Kamu menghancurkan hidup semua orang yang aku sayangi. Saudara macam apa kamu ini hah?!”


Bramono berteriak marah kemudian menendang perut pramono sampai kakak kembarnya itu menutup mata tidak sadarkan diri. Sedangkan bramono, pria itu menangis meraung merasa sangat marah pada kakaknya sendiri.


-------


Alesia perlahan mulai membuka kedua matanya. Genggaman erat Leon langsung dapat Alesia rasakan.


Alesia menghela napas. Alesia masih marah dan kecewa pada suaminya.


“Kamu sudah sadar Alesia.. Tunggu sebentar biar aku panggil dokter..”


“Aku mau kakak pergi.”


Leon yang hendak bangkit dari duduknya terdiam. Leon sadar apa yang di lakukanya memang salah. Leon sudah membohongi Alesia.


Leon berusaha tenang. Yang terpenting baginya sekarang adalah kesehatan istri dan calon anak yang sedang di kandungnya.


Dokter datang tidak lama setelah Leon memencet tombol yang ada di samping brankar yang di tempati Alesia. Leon merasa sangat lega begitu dokter menjelaskan tentang keadaan Alesia dan janin dalam kandunganya baik baik saja.


“Aku bisa jelaskan semuanya ale.. Aku..”


“Aku pernah bilang bukan sama kakak, aku akan bahagia asal tidak ada kebohongan di antara kita.” Sela Alesia dengan membuang muka enggan menatap Leon yang ada di samping brankarnya.


Leon menghela napas. Apa yang di lakukanya memang salah.


“Aku sadar aku salah.”


“Kalau begitu silahkan pergi.” Sela Alesia lagi.


Leon memejamkan kedua matanya. Leon bukan pria pengecut yang akan meninggalkan istrinya dalam keadaan tidak baik.


“Aku bisa jelaskan.”


Alesia menelan ludahnya.

__ADS_1


“Aku tidak butuh penjelasan apapun. Sekali pembohong tetap pembohong.”


Leon menggelengkan kepalanya. Kebohonganya memang sudah sangat fatal. Tapi Leon mempunyai maksud melakukanya.


“Aku berbohong karna kamu dan tante.”


Mendengar itu Alesia menoleh. Alesia tertawa pelan. Leon mengatakan berbohong karnanya dan santi. Benar benar sangat menggelikan tapi juga menyakitkan untuk Alesia.


“Aku ingin kalian akur. Aku ingin kalian kompak. Itu saja.”


“Lalu? Kenapa kakak tidak membohongi tante saja? kenapa harus aku? itu artinya kakak lebih perduli pada perasaan tante santi dari pada aku istri kakak sendiri.”


Leon menelan ludahnya. Penjelasanya malah membuat Alesia semakin emosi.


“Sekarang lebih baik kakak pergi. Aku ingin sendiri.”


Leon menghela napas. Mungkin memang untuk sementara mereka tidak dulu bertemu. Tapi Leon tidak akan menyerah. Leon akan terus memberi pengertian pada Alesia tentang alasanya berbohong.


“Baik. Tapi aku tidak menyerah. Aku akan datang lagi.”


Alesia membuang muka lagi. Alesia ingin Leon tetap tinggal sebenarnya. Alesia sakit dan sangat membutuhkan pria itu. Tapi Alesia juga merasa sangat kecewa pada Leon. Leon sudah membohonginya dalam waktu yang cukup lama. Leon membodohinya.


Dari celah pintu ruang rawat Alesia santi mendengarkan semuanya. Wanita dengan dress coklat selutut itu meneteskan air mata mendengar alasan yang Leon lontarkan pada Alesia. Santi mulai sadar bahwa semua masalah yang terjadi karna dirinya. Karna santi tidak pernah mau menerima Alesia. Karna santi juga selalu menghubung hubungkan profesi Alesia dengan masa lalunya.


“Santi.”


Santi tersentak. Dengan cepat santi menoleh. Santi sangat terkejut mendapati Bramono yang sudah berdiri di sampingnya dengan penampilan yang sangat berantakan. Pria itu tidak biasanya terlihat sangat kacau seperti sekarang.


“Kamu.. untuk apa kamu datang kesini?”


Santi berusaha mengabaikan mantan suaminya itu dengan bersikap sinis dan seolah tidak perduli.


“Ada yang harus aku katakan sama kamu. Ini tentang masa lalu kita juga ayah kandung Alesia.”


Santi kembali menatap Bramono.


“Apa maksud kamu?” Tanyanya tidak mengerti.


“Sebaiknya kamu hubungi dulu calon suami kamu agar tidak ada kesalah pahaman nantinya.”


Santi menatap bingung pada Bramono yang terlihat sangat serius. Pria dengan mata sembab serta luka lebam di sudut bibirnya itu membuat santi sangat penasaran. Terlebih ada nama Alesia yang dia sebut.

__ADS_1


__ADS_2