Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Masih terbayang


__ADS_3

Santi tidak bisa memejamkan kedua matanya sampai larut malam. Entah kenapa hatinya terus merasa berbunga bunga. Rico begitu sangat perhatian bahkan sampai rela menjemputnya dan hujan hujanan menggunakan motor besarnya menuju kantornya. Benar benar sangat romantis menurut santi.


Rico... Kamu begitu baik padaku.. Kamu perhatian dan selalu ada untuk aku..


Santi menghela napas. Rasanya benar benar sangat membahagiakan. Hatinya terasa sangat lapang. Semua yang santi pandang bahkan terlihat indah meskipun hanya sebuah kursi biasa yang santi pandang.


Santi kemudian melirik switer rajut pemberian rico. Wanita cantik itu berpikir mungkin rico tidak menyadari saat dirinya mengenakan switer tersebut.


Santi kembali mengingat saat dirinya meminta kembali switer tersebut pada bi inah. Santi mati matian menahan malu saat itu. Bagaimana tidak, santi meminta kembali barang yang sebelumnya sudah santi berikan pada bi inah dengan entengnya. Tapi santi tidak bodoh, supaya rico tidak curiga bahkan mengetahui bahwa santi menerima pemberianya, santi terlebih dulu membeli switer yang persis sama dengan switer yang di berikan oleh rico untuk kemudian di berikanya pada bi inah.


“Pokonya kalau rico kesini lagi kamu pake switernya ya inah. Dan ingat kamu nggak boleh bilang sama siapa siapa kalau saya minta lagi switer ini dan menggantinya dengan yang lain.”


“Baik nyonya. Terimakasih sebelumnya nyonya untuk switer barunya.”


Santi merasakan pipinya memanas sampai merembet ke kedua telinganya. Santi benar benar merasa malu mengingatnya. Santi merasa seperti remaja labil yang malu malu kucing dan pura pura jual mahal pada rico.


Ya tuhan.. Apa mungkin aku juga mencintainya? Tapi bagaimana mungkin? Rico, dia hanya anak kecil. Dia bahkan tidak tau apa apa tentang aku dan bramono. Dan juga, rico tidak pantas untukku.. Dia terlalu muda, bahkan mungkin lebih muda dari leon.


Santi merasa bimbang. Satu sisi santi merasa nyaman bersama rico. Tapi di sisi lainya santi merasa takut bahwa rico akan sama seperti bramono. Hanya mencintai dan menyayanginya di awal.


Nggak nggak santi. Kamu nggak boleh lemah. Kamu nggak boleh dengan begitu gampang tertipu oleh kebaikan rico. Itu mungkin hanya kedoknya saja. Kamu tidak tau bagaimana dan seperti apa rico yang sebenarnya.


Deringan hp yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya membuat santi menoleh. Santi menghela nafas kemudian segera meraih hp miliknya dan bangkit dari posisi tengkurapnya di atas ranjang.


“Siapa sih malam malam begini masih nelpon. Nggak tau waktu banget.” Dumel santi.


Santi tersenyum ketika mendapati nama rico tertera di layar hpnya.


Dia menelponku malam malam begini? Untuk apa?


Meskipun merasa gembira karna rico menelponya namun santi juga bertanya tanya untuk apa rico menelponya.


“Angkat nggak ya?”


Santi bimbang antara mengangkat atau mematikan saja telpon dari rico.


“Tapi kalau di matiin nggak tega juga. Di angkat harus menghina dia.”

__ADS_1


Santi menghela nafas.


“Oke, angkat saja.”


Santi kemudian mengangkat telpon dari rico. Santi akan mencoba untuk mengeluarkan kata kata pedasnya berharap rico mau berhenti mengganggunya.


“Ada apa lagi?” Tanya santi langsung tanpa lebih dulu mengatakan halo.


“Emm...Nggak papa tante. Tante belum tidur yah?”


Santi mengulum senyumnya. Pertanyaan macam apa itu? Benar benar seperti ABG yang sedang PDKT.


“Memangnya kenapa? Saya banyak kerjaan. Mau ngomong apa? langsung saja tidak usah banyak basa basi.”


Rico tertawa pelan di seberang telpon.


“Ya udah iya ya.. Tante jangan kemaleman ya tidurnya, sudah malam tante. Kerjaanya sambung besok lagi aja.”


“Cuma mau ngomong itu? Nggak penting banget tau kamu. Buang buang waktu saya saja.”


“Memangnya tante mau saya ngomong apa?”


Rico menghela napas di seberang telpon. Rico tidak bisa menuruti kemauan santi yang menyuruhnya untuk menjauh.


“Kalau itu saya tidak bisa tante, maaf.. Tapi..”


“Tapi apa?” Tanya santi tidak sabaran karna rasa penasaranya.


“I love you santi.”


Wajah cantik santi langsung terasa panas mendengar kata manis yang keluar dari bibir rico. Kata manis bermakna ungkapan cinta yang berusaha santi hindari.


“Apaan sih kamu, nggak jelas.” Judes santi kemudian mematikan sambungan telponya.


Santi tersenyum. Bahagia dia rasakan saat ini sampai hatinya terasa meluap luap.


Ya tuhan.. Perasaan apa ini? Apa yang terjadi dengan hatiku? Apa aku juga mencintainya?

__ADS_1


Santi merasakan darahnya berdesir. Jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Santi juga merasakan banyak kupu kupu yang terbang mengelilinginya. Benar sangat indah.


-----


Ceklek


Leon mengangkat wajahnya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Helaan napas pelan keluar dari bibir tipis leon ketika mendapati alesia berdiri disana menatapnya dengan sebuah cangkir di tanganya dimana di atasnya terlihat kepulan asap.


Leon sebenarnya tidak tega mendiamkan istrinya. Tapi apa yang alaesia lakukan dengan membela rico di depanya seperti sebuah penghinaan baginya.


Alesia tersenyum menatap leon yang begitu fokus dengan laptopnya kemudian mendekat dengan langkah pelan ke meja kerja suaminya.


“Kak... Minum dulu tehnya..”


Alesia berkata dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Alesia tau leon masih marah padanya. Leon bahkan tidak mengatakan apapun saat makan malam tadi.


“Ya. Makasih.” Saut leon dengan pandangan terus lurus ke laptopnya.


Alesia menahan napas sejenak kemudian menghembuskan napasnya pelan. Hubunganya dan leon akan terus dingin jika alesia tidak segera meluruskan semuanya.


“Tentang kemarin malam, aku minta maaf.” Mulai alesia.


Leon hanya diam. Leon benar benar tidak bisa melupakan begitu saja rasa kesalnya. Malu juga sebenarnya karna alesia yang sebagai istrinya menegurnya tepat di depan rico. Pria yang jelas jelas bersalah menurut leon.


“Aku tau aku salah. Harusnya aku nggak seperti itu di depan rico.” Lanjut alesia terus menatap leon yang hanya diam.


Alesia diam sejenak. Di diamkan oleh leon rasanya sangat tidak enak. Meskipun alesia juga merasa benar sebenarnya tapi alesia sadar egonya akan bisa menghancurkan segalanya.


“Kak.. Aku nggak mau hubungan kita dingin seperti ini. Aku kangen kamu.. Kangen kamu yang penuh kasih sayang.”


Leon memejamkan kedua matanya. Mendiamkan alesia sehari rasanya seperti hidup seorang diri selama bertahun tahun. Begitu membosankan.


“Jujur, aku malu alesia. Aku malu karna kamu menegurku seperti anak kecil di depan rico. Aku seorang suami. Dimana wibawaku alesia? Dimana letakku sebagai kepala rumah tangga semalam?”


Alesia hanya bisa diam mendengarkan.


“Aku juga sadar setelah aku berpikir, aku keterlaluan dalam berkata. Tapi apa kamu tidak bisa mengingatkan aku setelah rico pergi? Apa harus kamu mengatakanya di depan pria itu? Supaya apa alesia? Supaya rico menghinaku?”

__ADS_1


Alesia menggigit bibir bawahnya. Leon tidak pernah semarah itu padanya. Tapi sekarang leon bahkan seolah sangat terluka dan kecewa karenanya.


Ya tuhan.. Apa aku sesalah itu?


__ADS_2