Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Tanda maaf


__ADS_3

Alesia tidak bisa menutup kedua matanya. Leon belum benar benar memaafkanya. Leon juga masih tidur dengan posisi memunggunginya.


Aku kangen pelukan kamu kak..


Alesia ingin sekali mengatakan apa yang ada di pikiranya saat ini. Tapi alesia bingung harus memulainya darimana. Sikap diam leon membuat alesia merasa serba salah.


Alesia menyentuh dadanya sendiri. Ada rasa sesak yang memenuhi dadanya sehingga napas alesia terasa sedikit tersengal.


Bantu hamba tuhan.. Luluhkan hati suami hamba


Tidak berbeda dengan alesia leon pun masih terus terjaga. Padahal besok pagi leon ada rapat bersama para clientnya. Tapi sampai malam larut leon belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Leon khawatir sebenarnya, takut besok pagi dirinya bangun telat atau bahkan tidak berkonsentrasi karna masalahnya dengan alesia.


Leon menghela napas pelan. Leon sudah memaafkan alesia, karna leon juga sadar dirinya salah dalam bersikap pada orang lain. Leon tidak bisa menyalahkan siapapun termasuk slesia. Tapi rico, bagi leon pria itu tetap salah karna mengirim paket dengan nama alesia. Benar benar seperti orang yang sedang meneror.


“Kak...”


Panggilan pelan alesia membuat leon menahan napas. Leon tidak mau melontarkan kata pedas lagi pada alesia. Alesia pasti akan sangat tersakiti.


“Aku tau kamu belum tidur.” Sambung alesia.


Leon memejamkan kedua matanya. Saat ini hati dan pikiranya masih belum bisa di ajak berkompromi. Dan menurut leon lebih baik menghindar dari pada harus berdebat dengan istrinya sendiri.


“Besok aku ada rapat pagi. Aku mau tidur.”


Alesia menelan ludahnya. Entah apa lagi yang harus alesia lakukan supaya leon mau berhenti mendiamkanya, memaafkanya kemudian bersikap manis padanya seperti biasa.


“Aku ingin mengatakan sesuatu kak.. Ini tentang kita.”


Leon mengeryit. Penasaran sebenarnya tapi leon enggan bertanya dan memilih diam menunggu alesia melanjutkan ucapanya.


“Dulu kita pernah berjanji untuk selalu saling mengingatkan satu sama lain.”


Leon ingat dan terus mengingat itu. Mereka berdua memang pernah saling berjanji. Tepatnya saat malam pertama sebelum mereka benar benar menyatukan cinta yang sesungguhnya.


“Kamu bilang mau ingetin aku kalau aku salah, begitu juga sebaliknya. Aku ingetin kamu saat kamu membuat kesalahan.”

__ADS_1


Leon bukan pria yang bodoh. Leon tau kemana arah pembicaraan alesia.


“Apa yang aku lakukan semalam adalah cara aku mengingatkan kamu kak. Aku berusaha menepati janji kita bersama. Meskipun mungkin memang caraku salah. Tapi niatku baik. Aku tidak mau suamiku yang terkenal dengan kebaikan dan kedermawananya melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang bisa mencoreng nama baik kakak..”


Alesia menarik napas kemudian menghembuskanya pelan. Leon masih tetap anteng memunggunginya.


“Kak.. Bukanya kamu pernah bilang sama aku bahwa sesuatu yang tidak bisa di tarik kembali adalah ucapan. Jika ucapan itu sudah menyakiti seseorang maka tidak akan mudah untuk mengobatinya. Tidak mudah juga untuk kita mendapatkan maaf dari orang tersebut.”


Ya, leon juga masih sangat mengingatnya. Itu adalah cara leon membimbing istrinya agar alesia tidak lupa karna pamor dan harta yang di milikinya saat itu. Leon sengaja mengatakanya agar alesia tidak sombong meski sudah berhasil sebagai seorang model yang sukses dan terkenal.


Leon kembali membuka kedua matanya kemudian berlahan memutar tubuhnya menghadap pada alesia yang ternyata sedang menangis dalam diam.


“Aku sayang kak sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku juga nggak mau kamu jadi orang yang angkuh dan sombong.”


Leon menelan ludahnya. Berlahan tanganya terangkat dan mendarat dengan lembut di pipi basah alesia.


“Jangan menangis. Aku juga minta maaf.. Tidak seharusnya aku diamkan kamu sayang.. Aku cuma ngerasa malu aja..”


Alesia menggelengkan kepalanya. Niatnya memang benar. Tapi alesia tidak bisa memungkiri jika ternyata caranya salah dan membuat suaminya marah.


Alesia tidak bisa melanjutkan ucapanya saat isak tangisnya menyela. Alesia merasa bersalah pada leon. Alesia sadar caranya mengingatkan leon salah.


“Sudah.. Nggak usah nangis yah.. Aku juga salah.. Aku minta maaf sayang. Aku sayang dan cinta sama kamu...”


Leon tersenyum kemudian meraih tubuh alesia dan memeluknya erat. Leon sungguh sangat merindukan moment itu. Moment dimana dirinya memeluk dan mendekap penuh sayang tubuh istrinya.


Alesia memejamkan kedua matanya. Pelukan hangat dan erat leon membuat alesia merasa nyaman dan akhirnya berlahan isak tangisnya mereda sampai akhirnya kantuk menyerangnya. Alesia terlelap dengan damai dalam pelukan hangat leon setelah mendapat maaf dari suaminya itu.


-----


Paginya


Leon menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. Pria tampan itu sedang mencari sosok cantik istrinya yang memang sudah tidak ada di sampingnya semenjak leon membuka mata. Alesia bahkan tidak kunjung masuk kembali ke kamarnya sampai leon selesai membersihkan diri dan mengenakan kemeja serta dasi warna hitamnya.


“Kemana dia?” Gumam leon.

__ADS_1


Leon melangkah menuju meja makan dengan langkah lebar. Senyumnya mengembang ketika mendapati istrinya yang terlihat begitu manis dengan dress orange selutut yang di kenakanya. Rambut panjangnya yang biasanya di gerai pagi ini alesia cepol tinggi memperlihatkan tengkuk putih bersihnya.


Leon mendekat pada alesia yang sedang menata makanan di atas meja makan. Semerbak wangi manis vanilla langsung masuk ke dalam indra penciuman leon begitu sampai tepat di belakang alesia yang sepertinya tidak menyadari kehadiranya.


Leon langsung melingkarkan kedua tanganya di perut alesia mesra. Dan itu sukses membuat alesia terkejut.


“Kak kamu..”


“Kamu lagi ngapain hem?” Tanya leon sambil menikmati aroma manis vanilla yang menguar dari tubuh istrinya.


Alesia tersenyum. Lega rasanya karna hubunganya dan leon kembali hangat dan tidak lagi dingin seperti kemarin.


“Aku abis masakin sarapan buat kamu. Nasi goreng kari dengan telur ceplok. Teh manis hangatnya juga sudah aku buatin.” Jawabnya.


Leon mengecup singkat tengkuk istrinya kemudian melepaskan pelukanya.


“Ini kamu yang masak?” Tanya leon tidak percaya.


Alesia memang bisa memasak. Tapi untuk memasak masakan yang sulit rasanya sangat mustahil.


“Iya.. Aku yang masak. Tapi di bantuin sama mbak sari. Hehehe..” Tawa alesia menjawab.


Leon ikut tertawa kemudian mendudukkan dirinya di kursi paling ujung di meja makan.


“Aku jadi penasaran sama rasanya. Enak nggak yah?”


“Ya pasti enak dong. Ini sengaja aku buatin buat kamu. Aku bangun sebelum subuh buat masak ini. Anggap saja sebagai tanda maaf dari aku buat kamu kak..”


Leon tersenyum mendengarnya. Alesia tidak sepenuhnya salah menurut leon.


“Aku ambilin ya kak..”


“Iya sayang..” Angguk leon menjawab.


Leon menghela napas pelan. Di tatapnya alesia yang sedang mengambilkan nasi goreng untuknya.

__ADS_1


Aku begitu marah hanya karna kamu menegurku di depan rico.. Lalu bagaimana dengan kamu sayang? Apa kamu juga akan sangat marah kalau tau aku membohongi kamu.. Apa kamu bisa memaafkanku nanti?


__ADS_2