
Alesia berencana mengajak leon untuk mengunjungi beberapa tempat yang dulu menjadi tempat favorite mereka berdua. Semua itu alesia lakukan demi bisa mengingatkan kembali pada leon tentang hubungan manis mereka yang memang sudah terjalin indah bahkan sebelum mereka sah menjadi pasangan suami istri.
Semangat alesia. Tidak ada usaha menghianati hasil.
“Kamu kenapa?” Tanya leon menatap sekilas pada alesia yang terus diam di sampingnya yang sedang mengemudi.
“Eh, nggak kok kak. Aku nggak papa..”
Alesia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya di banding dengan leon yang dulu alesia lebih menyukai leon yang sekarang. Meskipun memang tetap mencintai tapi leon yang dulu tidak setegas leon yang sekarang. Alesia melirik leon yang semakin terlihat tampan.
Apa mungkin karna kak leon tidak mengingat pengorbanan tante sampai dia membelaku? Apa mungkin semua ini akan berubah dan kembali seperti sedia kala kalau kak leon mengingat semuanya?
Alesia tersentak saat tiba tiba jari leon menoel ujung hidung mancungnya. Alesia kemudian menoleh dengan bibir mengerucut.
“Kamu lagi mikirin apa sih? Kenapa bengong terus?”
Leon tertawa menatap wajah menggemaskan istrinya. Selama ini alesia jarang sekali mengekspresikan dirinya seperti sekarang di depanya. Mungkin memang karna leon yang kurang memperhatikan atau karna mereka berdua yang sama sama memiliki aktivitas di luar yang menyita waktunya untuk bersama.
“Kamu ngagetin tau.” Rajuk alesia.
“Iya maaf.. Lagian di tanyain dari tadi malah bengong. Kita mau kemana nih?”
Alesia mengeryit. Alesia tidak menyadari jika mobil yang leon kemudikan sudah berhenti.
“Loh, sudah berhenti?” Tanya alesia seperti orang bodoh.
“Heh.. Dari tadi juga berhenti sayang.. Aku panggilin kamu aku tanya kita mau kemana tapi kamu malah asik ngelamun. Makanya aku toel hidung kamu.”
Alesia meringis. Karna terlalu larut dengan pemikiranya sehingga alesia tidak menyadari bahkan sama sekali tidak mendengarkan panggilan leon.
“Emangnya kamu mikirin apa sih? Aku kok jadi penasaran?” Tanya leon menatap alesia dengan kedua mata menyipit penuh selidik.
Alesia terdiam. Alesia juga terus bertanya tanya apakah sikap perduli leon yang sepenuhnya padanya akan berubah atau terus berlanjut meskipun leon sudah mengingat semuanya.
“Tentang kamu.” Jawab alesia lirih.
Leon mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
“Aku?”
“Ya kak. Aku terus bertanya apakah jika suatu hari ingatan kamu sepenuhnya kembali kamu akan terus seperti ini? Karna yang aku tau jasa tante begitu besar sama kamu.”
Kali ini leon yang diam. Sampai saat ini alesia memang belum tau tentang ingatan leon yang sudah kembali. Dan semua itu tentu saja karna leon yang tidak pernah berterus terang. Leon sengaja menyembunyikan kesembuhanya pada alesia dan santi.
“Kamu nggak pernah membela aku sepenuhnya sebelumnya kak. Kamu selalu meminta aku untuk mengerti, untuk sabar tanpa ingin tau apa yang aku rasakan. Aku takut kamu kembali lagi seperti itu.”
Leon menelan ludahnya. Alesia sedang menumpahkan rasa sakitnya secara tidak langsung pada leon. Dan leon ikut merasa sakit mendengar curahan hati istrinya.
Ya tuhan.. Aku menyakitinya secara tidak langsung. Aku mematahkan hatinya terus menerus selama 2 tahun pernikahan kami..
“Kak.. Kalau boleh aku meminta sama tuhan.. Aku ingin ingatan kamu cepat pulih sepenuhnya. Tapi aku tidak ingin kamu kembali seperti dulu..”
Alesia menatap leon dengan genangan air mata di kedua kelopak mata indahnya. Alesia benar benar takut dan sepertinya tidak akan sanggup jika leon kembali mematuhi semua apa yang santi katakan. Bukan tidak ingin suaminya hormat pada tante yang sudah sangat berjasa. Alesia hanya ingin leon bisa memposisikan dirinya dengan sebenar benarnya. Sebagai suami yang baik untuk alesia dan keponakan yang baik untuk santi.
Leon memejamkan sejenak kedua matanya kemudian membukanya kembali. Meskipun berat namun leon tetap menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman manis untuk istrinya.
Leon mengulurkan tanganya dan membelai lembut pipi chuby alesia.
“Dengar baik baik. Jika aku ingat semuanya nanti semua yang kita lalui ini tidak akan aku lupakan. Aku akan mengingat semuanya sayang. Aku akan tetap seperti ini. Tetap menjadi leon yang kamu mau untuk selamanya.”
Alesia tersenyum. Saat itu air matanya lolos dari kedua matanya dan menganak sungai di kedua pipi chuby nya.
“Jangan nangis dong. Kamu mau aku beliin apa? Rumah baru, baju baru, Mobil baru, Atau mau aku beliin pulau?”
Alesia tertawa mendengar candaan suaminya. Semuanya sudah alesia miliki. Harta dan suami yang baik dan begitu sangat perhatian.
Alesia meraih tangan besar leon yang berada di pipinya. Alesia menggelengkan pelan kepalanya.
“Semua yang aku punya sudah lebih dari cukup kak. Di tambah aku punya suami yang super duper baik kaya kamu. Aku bersyukur banget.”
Leon tersenyum berusaha menutupi kebimbangan hatinya. Alesia terus mengatakan sesuatu yang seakan menamparnya dengan keras.
“Jadi gimana? Beli yang mana?” Tanya leon.
Alesia tampak berpikir. Awalnya alesia ingin mengajak leon ke restourant tempat biasa mereka makan siang bersama saat alesia masih menjadi model. Namun tiba tiba alesia berubah pikiran. Alesia terbayang dengan kuah pedas bakso yang jarang sekali bisa alesia santap.
__ADS_1
“Eemm.. Bagaimana kalau kamu belikan aku bakso sekalian sama gerobaknya? Terus kamu yang jadi penjualnya. Gimana?”
Sebelah alis leon terangkat. Alesia sudah tidak lagi melow dengan pemikiranya.
“Boleh boleh aja sih.. Cuma yang aku takutin tuh nanti kamu cemburu..”
“Cemburu? Cemburu kenapa?” Tanya alesia bingung.
“Ya iya, kan jarang jarang tuh ada penjual bakso ganteng kaya aku. Nanti yang ada cewek cewek yang mendekat itu bukan mau beli baksonya. Tapi ngajuin diri buat jadi istri ke 2 aku. Gimana hayoo?”
Kedua mata alesia membulat mendengarnya. Namun sedetik kemudian tawa alesia meledak membuat leon bingung.
“Kok malah ketawa?” Bingung leon.
“Ya nggak mungkin aja kak. Aku tau kamu orangnya gimana.”
Leon tersenyum. Leon memang tidak terlalu suka dekat dengan wanita asing yang tidak di kenalnya. Pingkan contohnya.
“Emangnya aku gimana sih dulu?”
Bohong lagi, tentu saja. Leon juga tau bagaimana dirinya sendiri. Leon memang tidak terlalu suka dekat dengan lawan jenisnya kecuali orang yang leon suka. Seperti pada alesia dulu contohnya.
“Kamu itu...”
Alesia tampak berpikir. Lagi, seulas senyum terukir di bibirnya. Alesia memusatkan perhatianya pada leon yang tampak penasaran menunggu jawabanya.
“Kamu itu dulu cupu kak, bertompel, terus cengeng, udah gitu jelek banget. Pipinya banyak jerawatnya. Pokonya nggak banget deh.”
“Masa sih. Terus kenapa kamu mau jadi istri aku?”
“Ya karna.. Eemm.. Karna apa ya?”
Leon tertawa geli. Semua yang alesia katakan tentu saja tidak benar. Leon sudah tampan dari lahir. Leon tau itu.
“Karna apa? Hem?” Tanya leon mendekatkan dirinya pada alesia.
Alesia tersenyum kemudian mengalungkan kedua tanganya pada tengkuk leon.
__ADS_1
“Ya karna kamu memang jodoh akulah kakak...” Jawabnya.