
Leon menatap bingung hamparan rumput hijau di depanya. Padahal Leon sedang bersama alesia tadi. Tapi tiba tiba begitu membuka mata leon sudah berada di tempat asing itu. Tempat indah dengan hamparan rumput hijau dan pemandangan indah yang mengelilinginya.
“Aku dimana?”
Leon memutar tubuhnya. Tempat itu benar benar sangat asing baginya. Leon merasa tidak pernah datang ke tempat itu dan baru kali ini menginjakan kaki disana. Entah lewat darimana dan menaiki apa leon sendiri tidak tau.
“Hay leon..”
Leon mengeryit mendengar suara cempreng seorang dari belakangnya. Berlahan leon membalikan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya leon ketika melihat ibu le sudah berada di depanya.
“Ya tuhan.. Ibu le..” Lirih leon.
Aneh memang. Leon memanggil ibu pada seorang gadis kecil yang masih terlihat sangat polos.
Leon menatap dari atas sampai bawah penampilan gadis di depanya. Gadis itu mengenakan dress berwarna putih tulang yang panjangnya sampai lutut dan kedua kaki yang tidak menggunakan sepatu atau sandal.
“Kamu bisa panggil aku ibu le..” Katanya tersenyum manis.
Leon masih diam. Berhadapan langsung dengan ibu le sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh leon. Apa lagi ibu le sudah meninggal. Rasanya sangat mustahil.
“Oh iya leon, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Ini tentang alesia.” Katanya.
Leon mengeryit.
“Apa itu?” Tanyanya penasaran.
“Ayo ikut aku. Kita bicara disana saja.”
Leon mengikuti arah tunjuk ibu le yang mengarah pada kursi panjang berwarna putih yang berada tepat di bawah sebuah pohon yang cukup rimbun.
“Ayo..”
Ibu le melangkah lebih dulu meninggalkan leon yang masih mematung di tempatnya. Percaya tidak percaya leon bertemu dengan ibu mertuanya yang masih sangat remaja. Sosok ibu le memang manis, imut, juga cantik. Tidak jauh berbeda dengan istrinya, alesia. Tapi mempunyai ibu mertua yang masih berusia 15 tahun benar benar seperti sebuah lelucon. Tapi apa daya, karna itu memang kenyataanya.
“Leon, sini !” Seru ibu le.
Ibu le berseru dan melambaikan tanganya membuat lamunan leon buyar. Leon segera melangkah cepat menghampiri ibu le yang sudah duduk manis di kursi panjang di bawah pohon rimbun tersebut.
“Duduk..” Senyum ibu le dengan nada memerintah.
Leon mengangguk dan segera mendudukan dirinya di kursi panjang di samping ibu le. Duduk sejajar dengan ibu le rasanya seperti sedang duduk dengan anak kecil.
__ADS_1
“Aku tau kamu sedang memikirkan tentang ayahnya alesia bukan?”
Leon masih tetap diam. Pertanyaan ibu le memang benar. Sejak obrolanya dengan bunda yati leon tidak bisa melupakan tentang siapa pria itu. Pria yang adalah ayah kandung alesia.
“Kamu tau leon, kamu sebenarnya kenal dan pernah bertemu dengan ayahnya alesia. Tapi kamu tidak menyadarinya. Kamu bahkan bertemu dengan ayahnya alesia jauh sebelum kamu bertemu dengan alesia.”
Leon mengangkat sebelah alisnya.
“Siapa dia bu..?”
Ibu le hanya tersenyum. Gadis yang tingginya di bawah bahu leon itu kemudian bangkit dari duduknya.
“Aku percaya kamu pria yang baik leon. Kamu bisa menjaga alesia dan melindunginya.”
“Bu..”
“Jaga alesia baik baik.”
Ibu le menoleh dan tersenyum sangat manis pada leon sebelumnya akhirnya pergi menjauh dari leon.
“Ibu !! Bu tunggu bu !!”
Leon berusaha mengejar namun berlahan tubuh kecil ibu le menghilang dari pandangan matanya.
Alesia terbangun dari tidurnya saat mendengar teriakan leon. Alesia menoleh dan langsung bangkit dari berbaringnya ketika mendapati leon yang gelisah dalam tidurnya dengan keringat yang membasahi wajah sampai lehernya.
“Ya tuhan.. Kakak..”
Alesia menepuk pelan pipi leon dan memanggilnya untuk menyadarkan leon.
“Kakak.. Kakak bangun.. Kak..”
Leon refleks bangkit terduduk. Napas pria itu tersengal seperti orang yang baru selesai maraton. Leon mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut ruangan.
Ya tuhan.. Hanya mimpi..
“Kakak kenapa?”
Leon menoleh dan mendapati alesia yang menatapnya khawatir. Dan ucapan ibu le terngiang kembali di telinga leon dengan begitu sangat jelas.
Ibu le percaya padaku..
__ADS_1
“Minum dulu kak..”
Alesia menyodorkan segelas air putih yang langsung di terima oleh leon. Alesia sangat penasaran mimpi apa yang di alami suaminya sampai leon berteriak dan susah di bangunkan.
Setelah menenggak sampai habis segelas air putih yang di berikan oleh alesia leon menghela nafas. Semuanya benar benar seperti sebuah kenyataan. Ibu le menemuinya dan mengajaknya berbicara. Ibu le bahkan seperti ingin menunjukan tentang siapa ayah alesia sebenarnya.
“Kakak mimpi apa sih sampe teriak teriak gituh?”
Pertanyaan alesia berhasil menarik perhatian leon. Leon menatap wajah cantik alesia. Wajah yang sekilas mirip dengan wajah ibu le. Hanya saja kedua mata ibu le sedikit sipit sedang alesia bermata belo.
“Sini sayang..”
Leon merentangkan kedua tanganya dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Pesan ibu le benar benar membuat leon semakin yakin bahwa leon memang di ciptakan untuk menjadi pelindung alesia.
“Aku janji akan terus menjaga dan melindungi kamu bagaimanapun caranya.” Lirih leon.
Alesia yang berada dalam dekapan leon semakin merasa bingung. Pikiranya terus bertanya tanya tentang mimpi apa yang baru saja di alami oleh suaminya.
Mungkin kak leon bermimpi bertemu dengan ibunya al.. Jangan berpikiran buruk..
Leon mengusap lembut rambut alesia. Leon juga mencium puncak kepala alesia beberapa kali sembari terus memikirkan setiap kata yang keluar dari bibir ibu le. Leon yakin mimpinya bukan hanya sekedar bunga tidur. Mimpinya adalah sebuah petunjuk tentang siapa sebenarnya ayah kandung istrinya.
Seorang yang pernah aku temui jauh sebelum aku mengenal alesia.. Siapa?
Leon menelan ludahnya. Sosok kecil gadis berusia 15 tahun yang tidak lain adalah ibu le itu benar benar sangat nyata. Ibu le tersenyum dan mengajaknya nengobrol di sebuah tempat yang bahkan leon sendiri tidak tau dimana.
“Kakak..” Panggil alesia dengan nada merengek.
“Ya..” Saut leon semakin mengeratkan dekapanya pada tubuh alesia.
“Aku ngantuk..”
Leon tertawa pelan. Alesia pasti terbangun karna teriakanya tadi.
“Baiklah, maaf aku mengganggu tidur kamu. Kita tidur lagi..”
Leon membaringkan tubuhnya kembali dengan alesia yang terus berada di dekapanya. Tanganya terus aktif mengusap punggung alesia mengantarkan alesia kembali menyelami mimpi indahnya.
Ibu.. Apa itu benar benar ibu.. Apa benar ibu datang menemuiku?
Leon tidak bisa lagi memejamkan kedua matanya. Mimpinya bertemu dan mengobrol langsung dengan ibu le benar benar seperti nyata. Semuanya terekam jelas di memori leon. Dari tempat dengan pemandangan yang begitu indah sampai semilir angin yang menerpa kulit leon. Semuanya terasa nyata bukan seperti mimpi.
__ADS_1
Aku janji bu.. Aku akan menjaga dan melindungi alesia dengan segala kekuatan yang aku miliki. Apapun yang terjadi aku akan terus ada di samping alesia bu.. Aku janji...