
Pingkan mondar mandir di depan teras rumah keluarga sanjaya. Beberapa kali pingkan berdecak merasa jengkel. Pingkan juga terlihat tidak tenang dan sesekali menatap ke arah pintu gerbang.
“Tante kemana sih?” Gumam pingkan kesal sambil menilik waktu di jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
Pingkan merasa harus memberitahu santi segera tentang leon yang mengangkut semua barang barangnya. Karna pingkan sendiri merasa takut tidak bisa mendekati leon lagi kalau sampai leon benar benar keluar dari rumah keluarga sanjaya.
Tin tiiinn
Pingkan menoleh cepat saat mendengar suara klakson mobil santi.
Akhirnya tante pulang juga
Mobil santi masuk dengan kecepatan sedang memasuki halaman luas rumahnya. Setelah santi menghentikan mobilnya pingkan langsung mendekat. Namun pingkan sedikit terkejut begitu mendapati rico turun dari mobil santi.
“Kamu siapa?” Tanya pingkan dengan kedua mata sedikit melebar.
Rico melengos. Pria tampan berponi itu menoleh sebentar pada santi yang juga turun dari mobilnya kemudian berlalu begitu saja menuju motor gedenya.
Pingkan yang merasa bingung dan tidak mengenal rico terus menatap rico yang langsung menaiki motor gedenya dan berlalu begitu saja dengan kecepatan maximal dari kediaman sanjaya.
“Pingkan..”
Panggilan santi membuat pingkan tersadar. Pingkan langsung buru buru mendekat pada santi yang masih berdiri di tempatnya.
“Ya tuhan.. Tante, aku tungguin tante dari siang tau nggak..”
Santi mengeryit.
“Nunggu tante? Emangnya ada apa?” Tanya santi bingung.
“Emangnya tante nggak tau ya? Atau tante sengaja nggak kasih tau aku tentang leon yang pindah dari rumah ini?”
Santi menoleh dengan cepat.
“Apa maksud kamu pingkan?” Tanyanya serius.
Pingkan berdecak. Wanita dengan kemeja putih itu bersrdekap dengan ekspresi kesalnya.
“Tadi siang leon ngangkut semua barang barangnya. Dia bilang mau pindah dari sini.” Jawab pingkan.
“Apa?!”
“Aku disini dari siang tante. Dan aku liat sendiri leon mengangkut semuanya. Bahkan bi inah pun ikut sama leon.” Kata pingkan lagi.
__ADS_1
Santi menggelengkan kepalanya. Santi tidak pernah membayangkan jika leon benar benar pergi dari rumah peninggalan keluarganya.
“Tante bisa cek sendiri kalau nggak percaya.”
Santi langsung berlari masuk ke dalam rumahnya meninggalkan pingkan yang juga langsung berlari menyusulnya masuk ke dalam.
“Bi.. Makasih banget ya udah bantuin saya sama kak leon..” Senyum alesia menatap bi inah yang baru saja selesai membereskan semua barang barang alesia. Seperti menata baju baju dan seluruh barang di dalam kamar alesia dan leon.
“Sama sama nyonya.” Angguk bi inah dengan suara bergetar.
Alesia mengeryit mendengar suara bergetar bi inah.
“Bi..”
“Nyonya sama tuan kenapa pergi dari rumah?” Tanya bi inah menangis.
Alesia menghela nafas. Alesia juga sebenarnya merasa berat meninggalkan kediaman sanjaya. Tapi demi ketenanganya alesia harus melakukanya.
“Bi.. Saya kan sama kak leon sudah punya rumah sendiri jadi sayang kalau nggak di tempatin.” Senyum alesia beralasan. Alesia merasa tidak harus mengatakan yang sebenarnya pada bi inah.
“Nyonya sedang hamil.. Nyonya pasti akan kesepian disini sendirian. Tuan juga kan tidak bisa di rumah terus..”
Alesia tartawa pelan mendengarnya. Bi inah memang satu satunya penghuni kediaman sanjaya yang diam diam selalu mengerti alesia.
“Kan ada mbak sari bi.. Bibi nggak perlu khawatir. Saya sama kak leon juga pasti akan sering berkunjung kesana. Kan tante disana bi..”
Suara gaduh dari luar rumah membuat alesia dan bi inah terlonjak kaget.
“Leon !! Leon !!”
“Ya tuhan..” Kedua mata alesia terbelalak mendengar teriakan santi dari luar rumahnya.
“Itu nyonya santi nyonya..”
Alesia mengangguk. Santi pasti datang dengan amarah menggebu gebu. Apa lagi santi sampai berteriak begitu keras memanggil nama leon.
“Ada apa ini?”
Leon yang sedari tadi sedang berada di dalam ruang kerjanya langsung keluar. Pria itu melangkah menghampiri alesia dan bi inah yang berdiri berdampingan di bawah tangga.
“Kak.. Itu suara tante.. Tante pasti marah banget.”
Leon menahan nafas sejenak. Leon memang belum memberitahu tentang keniatanya untuk pindah dan keluar dari kediaman sanjaya pada santi. Leon juga sengaja menonaktifkan hp nya agar tidak ada gangguan dari siapapun termasuk santi. Tapi leon yakin pingkan pasti sudah memberitahu pada santi. Bisa juga pingkan menambah nambah kata agar santi semakin tersulut emosi.
__ADS_1
“Kamu disini aja ya.. Aku yang temuin tante..” Kata leon tenang.
“Kak tapi..”
“Bi, tolong jaga alesia. Jangan biarkan alesia keluar.” Sela leon kemudian langsung berlalu menjauh dari alesia dan bi inah.
Ya tuhan.. Kenapa semuanya terasa begitu sulit..
Leon menggulung lengan kemeja panjangnya sampai siku. Kalau memang benar pingkan yang membuat santi semakin tersulut emosi leon tidak akan memaafkan pingkan.
Leon keluar dari rumahnya dan mendekat pada santi dan pingkan yang berdiri sejajar. Leon bisa melihat dengan jelas tantenya sangat marah. Tatapanya begitu tajam dengan kedua tangan terkepal di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
“Tante..”
PLAKKK
Satu tamparan keras langsung mendarat di pipi leon begitu leon sampai tepat di depan santi dan pingkan. Dan apa yang santi lakukan pada leon membuat pingkan terkejut dan menutup mulutnya tidak percaya.
“Begini kamu membalas jasa tante? Begini kamu membalas semua pengorbanan tante?”
Leon menelan ludahnya mendengar pertanyaan santi. Tamparan keras itu membuat pipi leon terasa perih juga panas. Namun suara bergetar santi lebih membuat hati leon terasa perih seperti di iris iris.
Leon menatap santi yang melayangkan tatapan tajam padanya. Leon melihat dengan jelas air mata yang menggenangi kelopak mata santi.
“Tante aku..”
“Tante yang membesarkan kamu leon. Tante yang berkorban banyak untuk kamu. Tante yang ngurus kamu. Dan tante juga yang memastikan semua yang terbaik untuk kamu dari dulu. Bukan alesia.” Sela santi dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.
“Kenapa leon? Kenapa hanya karna alesia kamu tega ninggalin tante?”
Leon tidak tau harus menjawab apa. Santi terlihat sangat terluka dan itu karnanya.
“Kamu dari kecil sama tante leon. Kamu segalanya buat tante. Cuma kamu keluarga tante satu satunya yang tante punya..”
Air mata santi mulai berlomba lomba menetes membasahi pipinya. Santi benar benar tidak bisa menyembunyikan kesakitanya karna leon yang berniat meninggalkanya.
“Tante.. Aku minta maaf..” Lirih leon.
Santi menggelengkan kepalanya. Santi tidak perduli meskipun ada pingkan di sampingnya. Santi juga tidak perduli jika pingkan menganggapnya lemah. Karna jauh dari keponakan satu satunya adalah hal yang paling di takutkan oleh santi selama ini.
Leon meraih tubuh bergetar santi dan memeluknya erat. Jika saja santi tidak bersikap seenaknya pada alesia mungkin leon tidak akan meninggalkan kediaman sanjaya.
“Kenapa leon? Kenapa kamu tega sama tante? Hiks hiks..” Santi terisak dalam pelukan leon. Santi membalas erat pelukan leon tidak rela jika harus berjauhan dari leon yang memang dari kecil dia urus dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Pingkan yang sedari tadi berdiri di samping santi hanya bisa diam. Pingkan tidak tau harus bagaimana. Santi terlihat lemah dan rapuh dalam pelukan leon.
Apa apaan ini? Harusnya tante santi marah bukan malah cengeng seperti ini.