
Sejak kedatangan Rico Leon terus saja mendiamkan alesia. Leon bahkan tidur dengan posisi memunggungi alesia. Hingga pagi tiba Leon tetap saja diam dan enggan menatap pada alesia. Leon juga tidak meminta bantuan alesia saat mengenakan dasinya.
“Kamu mau sarapan apa kak? Nasi goreng atau sandwich?”
“Nggak usah. Aku bisa sarapan di luar.” Jawab Leon datar.
Alesia terdiam. Leon salah faham karna alesia melarangnya menghina Rico semalam.
“Kak..”
“Apa?”
Alesia terdiam. Leon benar benar marah padanya kali ini.
“Kamu masih marah sama aku?”
Leon memejamkan sesaat kedua matanya. Di liriknya alesia sejenak.
“Wajarkan kalau aku marah?”
“Kak aku...”
“Kamu membela pria lain dan menyalahkanku alesia. Apa itu tidak keterlaluan menurut kamu?”
Alesia menggelengkan kepalanya. Nada bicara Leon bahkan begitu penuh penekanan juga datar. Padahal biasanya Leon tidak marah selama itu tapi sekarang dari malam sampai pagi Leon terus marah.
“Kak.. Aku nggak bela Rico. Aku cuma nggak mau kamu keterlaluan sama Rico. Rico orang yang baik kak..”
“Baik kamu bilang? Hanya karna dia memberikan 2 setel baju bayi kamu bilang dia baik? Apa lagi memberikanya seperti orang yang sedang meneror. Aku nggak habis pikir sama kamu alesia.”
“Kak.. Rico udah bilang soal paket itu sama aku.. Tapi aku belum sempat bilang sama kamu.. Aku lupa kak..”
“Sudahlah. Nggak penting. Aku berangkat.”
Leon meraih tas kerja juga kunci mobilnya kemudian berlalu keluar begitu saja meninggalkan alesia yang masih ingin menjelaskan semuanya.
Ya tuhan.. Kak Leon...
__ADS_1
Alesia memejamkan kedua matanya. Dulu Leon selalu mengerti dirinya. Tapi sekarang hanya karna Rico datang dan meminta maaf tentang paket itu Leon sangat marah bahkan sampai mendiamkannya.
Sementara Leon, pria itu melangkah cepat menuruni anak tangga. Leon benar benar merasa sangat kesal karna alesia bahkan membela Rico di depannya. Padahal saat paket yang mengatas namakanya itu datang alesia terlihat sangat kebingungan juga ketakutan. Tapi setelah tau paket itu dari Rico alesia tidak langsung memberitahunya. Alesia diam dan tidak mengatakan apapun padanya. Dan Leon menganggap itu adalah bentuk dari cara alesia melindungi Rico dari amukanya.
Kamu membuatku kecewa alesia.. Kamu menutupinya demi melindungi Rico.
Leon menyuruh agar pak satpam segera membukakan pintu gerbang untuknya. Dan setelah pintu gerbang pak satpam buka, Leon segera tancap gas meninggalkan kediamanya menuju kantor.
Tidak butuh waktu lama Leon sampai di parkiran kantor. Kebetulan jalanan masih sangat lenggang pagi ini sehingga Leon bisa lebih leluasa mengatur kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai di kantor.
“Pagi pak..”
Leon hanya mengangguk saat seorang karyawan menyapanya. Tanpa berniat membalas sapaan karyawannya Leon langsung melangkah menuju lift untuk naik ke lantai dimana ruangannya berada.
Kenapa rasanya sangat tidak enak seperti ini.. Apa aku cemburu karna alesia membela Rico semalam?
Leon masuk ke dalam ruanganya dan terkejut begitu mendapati ada bramono disana.
“Anda..”
“Selamat pagi Leon Sanjaya..” Sapa bramono menatap Leon.
Rahang Leon mengeras. Leon sedang sangat kesal dan sekarang bertambah kesal lagi karna kehadiran bramono di ruanganya.
“Sekertaris saya belum datang. Dan anda masuk ke ruangan saya tanpa izin. Benar benar tidak punya etika dan sopan santun.” Sindir Leon.
Bramono tertawa.
“Baiklah.. Aku minta maaf Leon..”
Leon berdecak. Jika saja sekarang mereka sedang tidak di kantor, Leon sudah menendang keras bramono.
Leon melangkah masuk ke dalam ruanganya dan langsung menuju meja kerjanya enggan menanggapi bramono yang berdiri di depan kaca besar yang mengarah pada pemandangan kota pagi itu.
“Leon.. Tentang alesia.. Apa kamu membohonginya? Kamu pura pura masih tidak mengingatnya?”
Leon menoleh menatap bramono yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
“Ada baiknya anda tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga saya tuan.” Kata Leon dingin.
Bramono menghela napas. Alesia adalah anak dari wanita yang sangat di cintainya. Dan bramono perduli pada alesia. Bramono tidak mau alesia terluka karna siapapun termasuk Leon.
“Kamu pikir aku tidak tau bocah? Kamu mencari tau tentang le bukan? Kamu juga menanyakan tentang aku dan le pada Rahma bukan?”
Kedua tangan Leon mengepal erat.
Bagaimana mungkin dia bisa tau semuanya.
“Asal kamu tau Leon.. Bukan aku yang menodai le.. Aku sendiri juga tidak tau siapa orangnya. Tapi yang pasti aku siap kalau memang alesia membutuhkan seorang ayah. Aku siap menjadi ayahnya. Aku siap menjadi orang tuanya. Karna aku mencintai le dari dulu sampai detik ini.”
Leon melayangkan tatapan tajam penuh amarahnya pada bramono yang mengatakan mencintai ibu mertuanya dari dulu sampai sekarang.
“Kalau anda mencintai ibu mertua saya dari dulu sampai detik ini lalu kenapa anda menikahi Tante saya dulu?”
Bramono terdiam. Saat itu bramono memang sempat jatuh hati pada santi. Namun perasaan itu berlahan pudar bahkan sebelum mereka menikah. Tapi karena bramono tidak mau santi terluka bramono tetap pura pura mencintainya. Bramono tetap mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya pada santi. Sampai sesuatu yang memaksa bramono menyakiti santi tiba. Santi terluka bahkan sampai keguguran karna ulahnya. Santi bahkan menggugat cerai dirinya yang saat itu tidak berdaya dan terus menggores luka pada santi demi melindungi Santi.
“Kenapa anda diam? Anda tidak bisa menjawab? Atau memang anda menikahi Tante saya hanya untuk menyakitinya?”
Bramono memejamkan kedua matanya. Mengatakan semuanya pada Leon juga belum tentu Leon mengerti dan bisa memahaminya.
“Saya tidak seburuk yang kamu kira Leon..” Lirih bramono.
Leon tertawa mendengarnya. Leon kemudian bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkah mendekat pada bramono yang terus berdiri di depan kaca besar di ruangan luas Leon.
Leon menghela napas kemudian memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan berwarna navy nya. Leon berdiri dengan angkuh di samping bramono.
“Anda masih berani menganggap diri anda baik setelah semua dosa yang anda lakukan? Lucu sekali.”
“Saya punya alasan melakukanya leon.”
“Alasan apa? Dan kenapa kemarin kemarin anda mendekati tante saya lagi bahkan sampai mencelakai saya demi bisa mendapatkan tante saya lagi? Apa anda sudah tidak waras?” Tanya Leon dengan penuh penekanan.
Bramono tidak tau harus menjelaskan yang mana dulu. Sampai sekarang pun sebenarnya bramono masih ingin santi kembali padanya. Tapi tidak untuk menyakitinya melainkan untuk menjaganya juga membayar semua luka yang pernah bramono goreskan di hati dan jiwa santi. Tapi untuk sekarang, bramono juga ingin melindungi alesia, putri dari kekasih masa lalunya. Putri dari wanita yang mengenalkan padanya tentang kasih sayang juga cinta.
“Anda juga lancang datang ke rumah saya dan menemui istri saya. Anda bahkan memberitahu siapa anda pada istri saya. Apa maksud dari semua yang anda lakukan sebenarnya tuan bramono?”
__ADS_1