
Dalam perjalanan menuju kediaman impianya dan leon alesia terus saja menangis dalam diam. Alesia tidak bisa memungkiri rasa tidak teganya meninggalkan santi sendirian di dalam kediaman sanjaya.
Tuhan... Kenapa rasanya dada ini sangat sesak..
Hampir 1 jam perjalanan akhirnya mobil leon sampai di depan gerbang rumah yang di belinya. Leon membunyikan klakson mobilnya membuat seorang asisten rumah tangga disana langsung lari tergopoh gopoh dari dalam rumah untuk membukakan gerbang tinggi menjulang warna hitam tersebut.
Setelah pintu gerbang di buka leon kembali melajukan pelan mobilnya dan menghentikanya tepat di depan taman kecil yang ada di depan rumah megah berlantai 2 itu.
Leon menolehkan kepalanya. Pria itu menatap sendu pada alesia yang terus menangis dalam diam. Padahal dari dulu alesia sendiri sangat menginginkan pergi dari kediaman sanjaya dan menempati rumah yang leon beli.
“Kita sudah sampai.” Kata leon lembut.
Alesia langsung mengedarkan pandanganya ke sekitar. Wanita itu terkejut begitu mendapati mobil suaminya sudah ada di halaman luas kediamanya yang tidak pernah sekalipun mereka tempati.
Bagaimana mungkin?
“Kamu jangan nangis lagi yah..”
Alesia menatap tidak percaya pada leon yang tersenyum lembut padanya. Rasanya sangat aneh. Alesia tidak menunjukan arah jalan menuju rumah itu, tapi leon bisa sampai tanpa bertanya apa lagi salah alamat.
“Kamu kenapa sih? Kok natap aku gitu banget.” Bingung leon mengeryit.
“Kakak.. Bagaimana mungkin kamu tau alamat rumah kita? Kamu sudah mengingat semuanya?”
Deg
Untuk kesekian kalinya leon kembali melakukan kesalahan. Leon lupa dengan sandiwaranya. Harusnya leon pura pura tidak tau. Bukan malah bersikap seakan tau segalanya.
“Eemm.. Ak aku...”
Kata kata leon menggantung. Sejujurnya sekarang perasaanya mulai tidak tenang. Alesia pasti bertanya tanya bahkan mungkin merasa curiga karna leon bisa dengan mudah tau rumah impian mereka yang seharusnya tidak leon ingat saat ini.
“Aku..”
Ucapan leon kembali terhenti saat tiba tiba alesia meraih dan menggenggam tangan besarnya erat.
“Aku seneng banget kalau kakak sudah mengingat semua tentang kita..” Katanya penuh harap.
__ADS_1
Leon menelan ludahnya. Leon memang sudah kembali mengingat segalanya. Tapi leon terpaksa harus terus berpura pura tidak mengingat apapun demi hubungan alesia dan santi yang mulai kembali memburuk. Awalnya leon bersandiwara karna melihat hubungan alesia dan santi yang mulai membaik. Apa lagi santi bahkan sampai membela alesia dan mengajak alesia pergi dari rumah saat leon meragukan kehamilan alesia. Tapi sekarang semuanya kembali seperti semula. Santi kembali bertingkah galak bahkan lebih keterlaluan dari sebelumnya.
Apa sandiwara yang sedang aku lakukan memang tidak perlu lagi?
Alesia terus menatap leon yang diam. Alesia sangat berharap leon memang sudah mengingat kembali semua tentangnya juga tentang santi.
“Kak.. Aku berharap banget kakak cepat mengingat kembali semua tentang kita.. Dan itu..”
“Alesia..” Sela leon pelan.
Jeda sejenak. Leon tau setiap usaha tidak akan menghianati hasil.
“Aku tau alamat rumah kita dari surat surat rumah ini yang memang ada di laci meja kerja aku di rumah.” Lanjut leon.
Senyum di bibir alesia seketika sirna. Genggaman tanganya pada tangan besar leon melemah.
“Jadi kamu..”
Tidak mau membuat istrinya kembali menangis leon pun langsung meraih tangan alesia dan menggenggamnya erat namun tetap dengan kelembutan. Leon bahkan menggunakan kedua tanganya untuk menggenggam tangan alesia.
Alesia menahan nafas sejenak. Banyak hal yang membuat alesia kadang berpikir sebenarnya leon sudah mengingat semuanya. Mulai dari leon yang mengatakan tentang rumah impian mereka sampai leon yang sering memanggilnya dengan sebutan ale.
“Kak.. Jujur aku berpikir kamu sedang berbohong sekarang. Tidak, maksud aku akhir akhir ini.”
Jantung leon berdetak dengan cepat. Wanita memang makhluk yang paling peka dengan pikiran panjangnya.
“Begitu banyak hal yang kadang membuat aku bingung. Kamu memanggilku ale.. Itu panggilan sayang kamu buat aku semenjak kita berpacaran dulu. Dan lagi, kamu sebut rumah ini adalah rumah impian kita. Itu benar benar sama persis dengan apa yang kamu katakan dulu.”
Leon menelan ludahnya. Pria itu benar benar lupa atau mungkin memang leon yang tidak bisa membatasi dirinya untuk menjaga rahasianya sendiri.
“Kakak.. Aku bisa memaklumi sebuah kebohongan. Tapi jika itu orang lain yang melakukanya. Tapi jika kamu yang berbohong aku tidak bisa bahkan tidak berani membayangkanya.”
Ya tuhan.. Apa maksud ucapanya ini?
Alesia kemudian tersenyum. Wanita itu melepaskan pelan genggaman kedua tangan leon. Alesia berganti mengurung kedua tangan besar leon dengan kedua tangan kecilnya.
“Tapi aku selalu yakin kamu pria yang baik. Kamu bukan pembohong. Dan aku percaya kamu nggak akan ngecewain aku.”
__ADS_1
Leon tidak bisa berkata kata. Ucapan yang keluar dari bibir istrinya seperti tamparan keras untuknya. Dan kini rasa takut leon semakin bertambah besar. Alesia begitu percaya padanya. Dan alesia begitu sangat mengandalkanya.
“Aku selalu percaya sama kamu kak.” Senyum alesia kemudian mencium kedua tangan leon.
Maaf.. Maafkan aku alesia.. Aku mungkin akan mengecewakan kamu.. Tapi aku lakukan ini demi kamu dan tante.. Aku nggak bisa memilih antara kalian berdua. Kalian wanita yang sangat penting di hidup aku..
“Kamu kenapa sih kak? Kok malah bengong gitu?”
Leon mengerjapkan kedua matanya mendengar pertanyaan alesia. Leon kemudian tersenyum tipis. Hatinya benar benar tidak tenang sekarang.
“Eemm.. Kita masuk yuk?” Ajaknya.
Alesia menganggukan kepalanya. Alesia melepas seatbelnya kemudian turun bersamaan dengan leon.
Alesia menghela nafas menatap bangunan mewah di depanya. Rumah itu memang tidak semewah kediaman sanjaya. Desainya yang elegan dan simple sangat pas sekali di hati alesia yang memang bukan wanita royal.
“Berapa lama rumah ini kosong?” Tanya leon yang sudah berdiri di depan alesia.
Pura pura tentu saja itu yang sedang leon lakukan.
Alesia menoleh kemudian tersenyum. Bukanya menjawab pertanyaan leon wanita itu malah mengecup sekilas pipi tirus leon.
Leon menoleh. Alesia menciumnya begitu tiba tiba. Hal yang sangat jarang alesia lakukan padanya.
“Aku seneng kamu bisa memahami aku kak. Jika suatu saat kamu bisa mengingat semuanya tolong tetap seperti ini ya..”
Lagi dan lagi perasaan bersalah itu semakin besar di hati leon. Ucapan alesia yang tersirat jelas tentang harapan dan permintaan itu membuat leon tidak bisa berkata kata.
“Aku tidak meminta kamu menghakimi tante. Aku cuma mau kamu mengerti dan memahami aku. Itu saja sudah sangat cukup untuk aku.” Lanjut alesia.
Apakah semuanya akan baik baik saja nanti? Apa kamu bisa mengerti atau bahkan kamu akan kecewa dan pergi?
“Kak..”
“Ah iya.. Itu pasti. Aku akan lakukan semua yang terbaik untuk istri aku.” Senyum leon berusaha bersikap biasa.
“Ya udah yuk masuk?”
__ADS_1