Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Pacar pura pura


__ADS_3

Leon mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Pria tampan itu melenguh terbangun dari tidur lelapnya. Saat leon hendak bangkit leon mengeryit merasakan tindihan ringan di perut dan dadanya. Leon tersenyum. Ada alesia yang sedang terlelap dengan memeluknya.


Leon mengangkat tanganya yang bebas dan mendaratkanya dengan mulus di rambut tergerai istri tercintanya.


Tuhan.. Jika aku boleh meminta, aku ingin selamanya bisa menjaga dan menyayangi alesiaku selamanya. Bahkan jika suatu saat ajal memisahkan kami.. Aku berharap tuhan mau menyatukan aku dan alesiaku kembali di kehidupan kekal nanti.


Leon membelai lembut rambut alesia. Leon tidak bisa mungkiri bahwa terkadang rasa takut itu muncul di hatinya. Rasa takut akan kekecewaan alesia jika tau dirinya sudah tidak lagi hilang ingatan.


Kryuuukkk


Leon meringis ketika mendengar suara cacing yang sedang berdemo si perut sixpacknya. Leon meraih hp yang ada di nakas di dekatnya. Leon berdecak, pantas saja perutnya sudah kelaparan. Mereka melewatkan waktu makan siang sampai 1 jam lebih.


Leon meletakan kembali hp nya. Dengan sangat pelan dan lembut leon mencoba membangunkan alesia. Leon tau alesia juga pasti akan kelaparan jika bangun. Apa lagi sekarang wanita itu sedang butuh asupan makanan bergizi lebih banyak dari biasanya.


Alesia terbangun dan langsung bangkit dari dada leon. Wanita itu mengucek ucek kedua matanya seperti anak kecil yang baru bangun dari tidurnya. Dan apa yang alesia lakukan berhasil mengundang tawa pelan leon.


“Hh... Aku laper banget..” Rengek alesia manja.


Leon bangkit dan duduk di samping alesia. Di rapikanya anak rambut alesia yang berantakan dengan sangat penuh kasih sayang.


“Kamu siap siap yah.. Kita cari makan di luar saja.” Senyum leon menatap wajah menggemaskan istrinya.


Bukanya tersenyum dan merasa senang, alesia malah terlihat sendu mendengarnya.


“Tapi.. Aku nggak punya gaun yang cantik untuk aku pakai kak. Semua koleksi gaun yang aku punya sudah tidak ada yang muat.” Katanya sendu.


Leon tertawa pelan.


“Kamu pakai apapun tetap cantik di mata aku kok. Pakai apa saja yang membuat kamu merasa nyaman ale..”


Alesia langsung tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Leon memang tidak pernah protes dengan apa yang di pakainya. Bagi leon selama yang alesia pakai tidak minim dan tidak terbuka itu sudah sangat bagus.


Leon dan alesia segera berangkat setelah bersiap. Beruntung santi sedang pergi bersama pingkan sehingga keduanya tidak perlu mendapat rentetan pertanyaan yang memang tidak akan ada habisnya. Dan ujungnya pasti akan berdebat.


“Kita mau makan dimana?” Tanya leon pada alesia.


Alesia tampak berpikir mendengar pertanyaan suaminya.

__ADS_1


“Eemm.. Dimana yah? Terserah kamu aja deh kak.”


Leon menganggukan kepalanya. Leon kasihan sebenarnya pada bi inah dan asisten rumah tangga yang lainya yang sudah menyiapkan makan siang tapi leon dan alesia malah makan di luar.


“Di restourant dekat sini saja ya..”


“Oke..”


Di tempat lain santi dan pingkan sedang asik memilih baju baju di sebuah tempat perbelanjaan. Sesekali keduanya mengambil dan menempelkan baju yang menjadi pilihan mereka di tubuhnya.


“Pingkan menurut kamu ini bagaimana?” Tanya santi sambil menunjukan sebuah dress berwarna orange di tanganya.


Santi mengeryit. Wanita itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pingkan yang tiba tiba menghilang.


“Pingkan kemana?” Gumamnya bertanya tanya.


Santi berdecak pelan. Wanita itu kemudian kembali menggantungkan dress berwarna orange tersebut di tempatnya. Santi terdiam. Bayangan saat leon dan alesia tidur dengan berpelukan kembali membayangi kedua indra penglihatanya. Ya, santi memang sempat masuk ke kamar alesia dan leon. Santi berniat mengajak leon untuk pergi bersama pingkan. Namun melihat leon dan alesia yang terlelap santi menjadi tidak tega. Santi tau leon pasti sangat kelelahan baik pikiran juga tubuhnya. Dan alesia, wanita itu sedang hamil dan tentunya sedang banyak memerlukan waktu istirahat. Meskipun memang alesia tidak melakukan aktivitas berat tapi hormon di awal kehamilan juga dapat mempengaruhi tubuhnya. Seperti merasa cepat lelah dan sebagainya.


Kenapa harus menjadi model alesia? Apa tidak ada profesi lain yang bisa kamu tekuni selain model?


“Tante?”


“Kamu.. Ngapain nyapa saya.”


Santi membuang pandanganya enggan menatap rico. Santi yakin pria bernama rico itu memang mempunyai hubungan yang tidak biasa dengan alesia.


Rico meringis. Niatnya menyapa santi baik. Namun respon wanita itu malah membuatnya merasa malu juga salah tingkah.


“Saya tadi nggak sengaja aja liat tante. Dan karna saya mengenal tante sebagai tantenya alesia saya sapa. Nggak salah kan tante?”


Santi tertawa mendengarnya.


“Kamu pikir dengan kamu menyapa saya terus saya akan menganggap kamu orang baik? Dengar ya, kamu sama alesia itu sama. Sama sama membuat saya merasa muak.”


Rico mengeryit bingung. Rico tidak tau apa yang di maksud oleh santi. Tapi rico tidak bodoh, rico bisa langsung menebak bahwa santi memang tidak menyukai alesia.


“Santi.”

__ADS_1


Santi dan rico kompak menoleh. Santi menghela nafas merasa kesal karna lagi lagi harus bertemu dengan orang orang yang tidak di sukainya. Mulai dari rico dan sekarang bramono.


“Kamu lagi.” Gumam santi malas.


Bramono tersenyum menatap santi. Pria itu tau santi sangat membencinya. Tapi bramono sudah menyesali semua perbuatanya. Dan bramono ingin kembali bersama dengan santi.


“Ini siapa?” Tanya bramono menatap bingung pada rico yang ada di samping santi.


Santi menoleh pada rico yang tampak kebingungan berdiri di antaranya dan bramono. Seulas senyum mengembang di bibir santi tiba tiba.


“Dia rico. Pacar saya.”


Kedua mata rico langsung membulat sempurna mendengarnya. Bagaimana mungkin tiba tiba santi mengakuinya sebagai pacarnya.


“Pacar?” Tanya bramono menyipitkan kedua matanya menatap rico.


“Ee.. Tante.. sa saya..”


“Ya. Kami bahkan baru saja memilih cincin pernikahan.” Jawab santi menyela ucapan gagap rico.


Santi kemudian memeluk pinggang rico mencoba meyakinkan bramono bahwa mereka memang mempunyai hubungan yang serius.


“Jangan gila santi. Dia jauh terlihat lebih muda dari kamu. Kamu pikir saya akan percaya?”


Sedangkan rico, pria dengan rambut berponinya itu tampak kebingungan sendiri. Malu juga karna santi wanita yang umurnya memang jauh lebih tua darinya mengaku sebagai pacar bahkan calon istrinya. Meskipun memang santi masih terlihat muda dan cantik.


“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi tolong jangan ganggu saya lagi. Anggap saja kamu tidak pernah mengenal saya dimanapun kita bertemu. Karna saya nggak mau membuat berondong saya ini cemburu. Permisi.”


Santi melangkah meninggalkan bramono dengan terus memeluk pinggang rico memaksa rico untuk mengikuti langkahnya.


“Tante apa apaan sih?!” Tanya rico pelan namun dengan nada tidak suka.


Santi berhenti melangkah. Wanita itu menolehkan kepalanya kebelakang memastikan bahwa bramono sudah tidak lagi melihatnya dan rico. Setelah yakin bramono tidak lagi melihatnya, santi langsung melepaskan pelukanya di pinggang rico.


“Kamu harus siap saya perlukan kapanpun. Berapapun yang kamu minta saya akan bayar.”


Santi melangkah meninggalkan rico yang terkejut dengan apa yang santi katakan padanya.

__ADS_1


“Maksudnya aku jadi berondong bayaran begitu?”


__ADS_2