Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Ada apa dengan Leon?


__ADS_3

Leon memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Rasa kantuk benar benar menguasainya saat itu. Di tambah dengan kepalanya yang terasa pening. Dan apa yang di rasakanya saat ini benar membuat Leon merasa lemah.


“Kak...”


Leon memutar tubuhnya begitu mendengar suara alesia. Seulas senyum Leon ukir untuk istri tercintanya.


Alesia melangkah mendekat pada suaminya kemudian segera memeluknya.


Setelah melepaskan pelukannya alesia mengeryit melihat wajah pucat suaminya. Alesia langsung menempelkan punggung tangannya di kening Leon.


“Ya tuhan kak, kamu demam.”


Dengan wajah panik alesia mengatakannya.


“Aku nggak papa kok sayang. Cuma sedikit ngantuk aja.”


Alesia menggelengkan kepalanya. Leon memang bukan orang yang suka mengeluhkan sesuatu yang di rasakanya.


“Kamu demam kak..”


Leon hanya tersenyum tipis. Leon tidak ingin berkilah. Rasanya memang sangat tidak enak badanya sekarang.


“Ayo istirahat di kamar. Kamu nggak boleh kemana mana siang ini.”


Alesia melingkarkan tangannya di lengan kekar Leon kemudian mengajak pria itu melangkah menuju tangga. Alesia tidak mau mengambil resiko. Suaminya terlihat sangat lemah dan tidak berdaya dengan wajah pucatnya sekarang.


“Tapi Ale...”


“Kak.. Kamu demam. Aku nggak mau kamu kenapa napa. Please kamu ngerti..”


Alesia menyela dengan tatapan khawatir dan tidak teganya pada Leon.


“Kamu istirahat yah..” Pintanya.


Leon tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Leon tidak pernah merasakan lemah seperti saat ini sebelumnya. Tapi sekarang Leon merasakannya dan rasanya benar benar membuat Leon tidak tahan.

__ADS_1


Alesia menuntun Leon menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan leon berada. Setelah sampai di lantai dua alesia segera menuju kamarnya dan membantu Leon berbaring di atas ranjang.


“Sayang..”


“Ssstt.. Kamu diam yah. Aku ambil kompres dulu..” Sela alesia lembut.


Leon menggelengkan kepalanya. Dirinya memang sedang lemah. Tapi alesia sedang hamil dan Leon tidak mau alesia sampai kecapek an karna mengurusnya yang sedang tidak berdaya.


Leon meraih tangan alesia ketika alesia hendak bangkit dari duduknya di ranjang. Dengan lembut leon mencekal lengan alesia yang langsung menoleh padanya.


“Kak..”


“Aku nggak papa. Aku hanya butuh tidur sebentar.” Katanya.


“Tapi..”


“Kamu sedang hamil Ale.. Jangan kecapek an.” Sela Leon lagi.


Leon mengukir senyumnya menatap wajah khawatir istrinya. Leon tau alesia sedang mengkhawatirkannya. Tapi Leon tidak mau jika sampai alesia kecapek an apa lagi kalau sampai kenapa napa karna mengurusnya.


Leon merentangkan kedua tangannya memberi kode agar Alesia mendekat dan masuk ke dalam pelukanya.


Melihat itu alesia terdiam. Leon sedang butuh perawatan darinya sekarang. Leon sedang sakit tapi Leon justru balik mengkhawatirkannya.


“Kak tapi...”


“Ale.. Temani aku tidur siang yah..” Sela Leon dengan penuh kelembutan.


Alesia menghela napas. Dengan berat hati alesia menganggukan kepalanya kemudian mendekat dan berbaring di samping Leon dengan kepala yang bertumpu pada dada bidang suaminya.


Alesia sebenarnya ingin sekali bisa merawat suaminya. Karna selama menjadi istrinya Alesia tidak pernah sekalipun bisa melakukanya. Mereka berdua sama sama selalu sibuk dengan pekerjaanya. Alesia sebagai model dan Leon sebagai pengusaha muda.


Tuhan.. Angkat rasa sakit yang sedang suami hamba rasakan saat ini.. Jangan biarkan suami hamba merasakan sakit itu terlalu lama..


Sekali lagi Alesia menghela napas. Banyak yang ingin Alesia bicarakan dengan Leon sebenarnya. Tapi melihat keadaan suaminya sekarang Alesia benar benar tidak tega. Leon terlihat sangat lemah sekarang.

__ADS_1


Alesia memeluk perut rata suaminya. Melihat suaminya dalam keadaan lemah alesia merasa sangat sedih. Leon selalu terlihat kuat selama ini. Leon tidak pernah sekalipun terlihat lemah selama alesia bersamanya.


Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan kak? Apa ada beban berat yang kamu tanggung sendiri dan aku tidak tau?


Alesia mulai bertanya tanya. Selama ini alesia tidak pernah memikirkan apapun tentang suaminya. Yang Alesia tau hanya mereka saling percaya, saling setia, juga saling memiliki. Alesia tidak pernah menanyakan apapun tentang sesuatu yang di hadapi suaminya.


Apa aku kurang perhatian sama kamu kak? Apa aku jahat selama ini karna tidak pernah menjadi istri yang kamu inginkan?


Tanpa sadar alesia meneteskan air matanya. Alesia merasa sangat bersalah karna tidak pernah bisa melayani Leon dengan baik. Alesia tidak pernah meluangkan waktunya untuk mengurus semua keperluan Leon selama mereka menikah. Alesia selalu sibuk dengan profesinya sebagai model. Alesia selalu sibuk pergi kesana kemari bahkan sampai keluar kota dengan waktu yang cukup lama.


Tidak mau air matanya membasahi dada suaminya alesia segera mengusapnya. Alesia tidak mau Leon tau bahwa dirinya menangis. Alesia tidak mau Leon justru menyalahkan dirinya sendiri. Karna semuanya bukan salah Leon. Semua salahnya yang selalu menuruti egonya sendiri sampai tanpa sadar alesia mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.


“Ale.. Aku sayang sama kamu.. Aku cinta sama kamu.. Aku melakukan semua ini untuk kamu.. Demi kamu..”


Alesia mengangkat kepalanya mendengar itu. Senyumnya mengembang melihat Leon yang ternyata mengigau. Entah sejak kapan suaminya itu terlelap. Tapi itu lebih baik menurut alesia. Leon butuh banyak istirahat karna aktivitasnya yang begitu padat. Namun alesia merasa salut dengan suaminya. Di tengah kesibukannya Leon selalu meluangkan waktunya meskipun hanya sekedar menemaninya makan siang di rumah.


“Aku juga sayang dan cinta banget sama kamu kak.. Aku bahkan tidak berani membayangkan bagaimana aku tanpa kamu..” Lirih alesia.


Alesia mengusap keringat yang membasahi kening juga wajah tampan suaminya. Suhu badan Leon sangat tinggi.


“Aku harus segera mengompres kamu..” Gumam alesia.


Dengan sangat hati hati alesia bangkit kemudian turun dari ranjang. Alesia tidak bisa diam saja sementara suaminya sedang demam tinggi. Alesia bukan tidak mau mendengarkan suaminya. Tapi keadaan leon saat ini benar benar tidak bisa di biarkan. Leon butuh penanganan cepat agar demamnya turun.


Alesia melangkah keluar dari kamarnya. Dengan hati hati Alesia menuruni anak tangga mengingat ada kehidupan di dalam rahimnya. Alesia tidak mau sesuatu yang buruk sampai menimpa calon buah hatinya. Dirinya dan leon sudah cukup lama menanti dan alesia tidak mau penantiannya selama ini sia sia. Alesia harus bisa menjaganya dengan baik dalam keadaan apapun.


“Nyonya makan siangnya sudah siap..”


Alesia tersenyum ketika berpapasan dengan Mbak Sari yang sepertinya memang hendak menemuinya.


“Mbak.. Kak Leon sedang demam. Tolong Mbak siapin aja ya terus bawa ke kamar saya. Biar saya dan kak Leon makan di atas saja.” Kata alesia dengan senyuman di bibirnya.


“Tuan sedang demam? Apa tuan baik baik saja nyonya?”


Alesia menganggukan kepalanya. Kondisi Leon sangat mengkhawatirkan baginya. Tapi alesia mencoba menutupinya dari Mbak Sari. Alesia yakin harapannya bisa menjadi sebuah do'a juga jawaban atas baik baiknya Leon bisa menjadi kesembuhan bagi Leon sendiri.

__ADS_1


“Makasih ya mbak.”


__ADS_2