Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Putri le


__ADS_3

Bramono menatap gedung sekolah SMP nusa bangsa. Senyumnya mengembang di bibir tipisnya. Bramono tidak pernah bisa melupakan masa masa indah berujung kehancuranya di sekolah itu. Masa dimana dirinya mulai mengenal dan merasakan indahnya mencintai. Juga masa dimana dirinya harus berjuang melawan egonya dengan menerima keadaan yang tidak semestinya. Masa dimana bramono belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang sangat tidak di harapkanya.


Bramono keluar dan turun dari mobil mewahnya. Pria dengan kemeja putih tulang itu membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


“Le.. Aku ingin kembali ke masa remaja kita dulu..” Gumamnya.


Bramono menghela napas. Bramono sudah mengikhlaskan semuanya. Tapi bramono tidak akan bisa melupakan segalanya yaitu kebersamaanya dengan kekasih dan cinta pertamanya. Alesia le.


“Jangan lari kamu roy !”


Bramono menolehkan kepalanya saat mendengar pekikan dari koridor sekolah itu. Sekolah dimana bramono juga pernah menjadi siswa disana. Dan sekolah dimana bramono merasakan cinta dan sakit secara ber iringan.


Bramono tersenyum menatap 2 remaja laki laki yang sedang berkejaran. Mereka tampak tersenyum tanpa beban. Meskipun memang salah satu di antara keduanya ada yang sesekali memekik dengan nada kesal tapi bramono juga tau masa itu adalah masa dimana mereka berdua sedang menikmati masa masa remajanya. Masa yang tidak akan pernah bisa terulang kembali seumur hidup mereka.


“Om bram..”


Bramono memutar tubuhnya ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


“Kamu..”


“Om ngapain disini?” Tanya rasya yang memang belum pulang karna ada pelajaran tambahan.


Bramono tersenyum.


“Saya hanya sedang mengunjungi kawan lama. Boleh tunjukan dimana ruang kepala sekolahnya?”


“Tentu saja..” Angguk rasya tersenyum.


“Ayo om..”


Bramono mengangguk. Gedung sekolah itu sudah banyak berubah. Lebih luas dan juga lebih tinggi. Ruang kepala sekolah yang dulu pun kini sudah menjadi aula yang begitu luas.


“Tentang cek itu, bunda yati tidak mau menerimanya om. Tapi saya minta untuk bunda yati menyimpanya.”


Bramono mengangkat sebelah alisnya di belakang rasya.


“Kenapa memangnya?”


“Bunda yati bilang tidak mau menerima apapun dari orang yang tidak di kenalnya om.” Jawab rasya.


Bramono menghela napas. Mungkin jika sekarang dirinya menampakan diri di depan bunda yati, bunda yati tidak akan mengenalinya. Tapi jika bramono menyebutkan namanya bramono yakin bunda yati akan kembali mengingatnya.


“Ya. Saya bisa mengerti.”

__ADS_1


Rasya berhenti melangkah ketika sampai tepat di depan sebuah pintu dimana di atasnya terdapat papan kecil panjang bertuliskan ruang kepala sekolah.


“Ini ruang kepala sekolahnya om.” Senyum rasya menoleh menatap bramono.


“Ya. Terimakasih.” Angguk bramono.


“Kalau begitu saya permisi om.”


“Ya..”


Setelah rasya berlalu dari hadapanya bramono menghela napas. Bramono ingin sekali berbicara langsung dengan bunda yati. Bramono juga ingin menanyakan dimana makam ibu le. Tapi bramono masih tidak siap. Rasanya le seperti masih ada jika bramono menginjakan kedua kakinya di panti asuhan tersebut.


Bramono mengangkat tanganya dan mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Bramono ingin bertanya sesuatu pada kepala sekolah tentang alesia le. Kekasih masa lalunya.


“Masuk !”


Bramono membuka pelan pintu ruang kepala sekolah. Senyumnya mengembang ketika melihat teman dekat dari kekasih masa lalunya duduk dengan anteng di meka kerjanya.


“Kamu..”


Wanita dengan kaca mata berlensa bening itu tampak terkejut ketika mendapati bramono berdiri di depan pintu ruanganya.


“Apa kabar rahma?” Tanya bramono tanpa basa basi.


“Kabar saya baik tuan. Silahkan duduk.”


Ibu rahma berusaha bersikap biasa seperti pada wali murid pada umumnya.


“Terimakasih.”


Bramono melangkah mendekat dan duduk di kursi yang berada di depan meja kerja ibu rahma. Bramono hanya ingin bertanya tentang alesia le pada rahma. Memang sudah terlambat. Tapi bramono tetap ingin tau siapa sebenarnya ayah dari anak yang di kandung le dulu.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya ibu rahma berusaha bersikap biasa saja.


Bramono tertawa pelan mendengarnya. Ibu rahma memang tidak dekat denganya dulu. Tentu saja, karna yang bramono dekati hanya le saja. Tidak ada yang lain.


“Bramono, panggil saja saya bramono. Kita teman lama rahma.”


Ibu rahma menghela napas kemudian menganggukan kepalanya.


“Baiklah bramono. Apa yang bisa saya bantu.”


Bramono terdiam sesaat. Bramono sebenarnya ragu tapi bramono benar benar tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranya selama ini. Le dulu menolak menikah denganya. Le bahkan sampai menamparnya dan enggan bertemu lagi denganya setelah di keluarkan dari sekolah karna kehamilanya.

__ADS_1


“Tentang le.. Saya masih sangat penasaran siapa sebenarnya ayah dari bayi yang di kandungnya dulu..”


Wanita berkaca mata itu menghela napas lagi. Le tidak pernah menceritakan apapun padanya. Le adalah sosok yang sangat tertutup. Le memang teman yang sangat baik. Pendengar yang bijak juga teman yang tidak sungkan menolong siapapun yang membutuhkan bantuanya.


“Le tidak pernah menceritakan apapun pada saya bram. Dia begitu tertutup. Dulu saya pernah beberapa kali berkunjung ke panti asuhan. Saya membujuknya untuk menceritakan siapa ayah dari anak dalam kandunganya, tapi le tidak pernah mau mengatakanya. Le hanya mengatakan bahwa akan ada sosok yang bisa menguak semuanya kelak. Yaitu yang mencintai putrinya nanti.”


Bramono mengeryit.


“Tapi sayangnya le meninggal begitu juga dengan bayi yang di lahirkanya bukan?”


Ibu rahma terkejut.


“Tidak. Bayi itu tidak meninggal. Bayi itu hidup dan sudah menikah sekarang.” Tolak ibu rahma.


“Tapi bunda yati mengatakan le meninggal dengan bayinya. Bunda yati bahkan menolak menunjukan dimana makam le pada saya.”


“Lalu siapa leon sanjaya?”


Kedua mata bramono melebar. Leon sanjaya adalah leon. Keponakan dari mantan istrinya santi sanjaya.


“Beberapa hari yang lalu ada seorang pria tampan datang kesini. Dia menanyakan tentang le juga anda. Dia mengaku sebagai menantu dari le.. Suami dari alesiana. Model terkenal yang sekarang sudah berhenti dari profesinya.”


“Apa?!”


Bramono menggelengkan kapalanya. Semuanya benar benar sangat mengejutkanya.


“Apa itu artinya alesia adalah anak le?” Tanya bramono lirih.


“Ya.”


Bramono tidak menyangka. Sosok alesia memang membuatnya tidak bisa berkutik. Senyumanya benar benar sangat mirip dengan senyuman le.


Dalam perjalanan pulang bramono terus memikirkan tentang alesia yang ternyata adalah putri dari kekasih di masa lalunya. Kekasih pertama yang menjauh darinya tanpa kata perpisahan.


“Alesia.. Aku pikir hanya kebetulan saja namanya sama. Tapi ternyata..”


“Ya tuhan..”


Bramono masih tidak percaya dengan fakta yang ada. Alesia adalah putri dari alesia le yang saat itu bunda yati katakan ikut meninggal bersama le.


“Leon.. Aku yakin dia juga tau tentang ini.. Aku harus menemuinya. Aku harus tau yang sebenarnya.”


Bramono menambah kecepatan laju mobilnya. Pria itu bertekad akan mencari tau semua tentang alesia putri dari kekasih pertamanya yaitu ibu le.

__ADS_1


__ADS_2