
Leon mengeryit saat melihat mobil santi terparkir di depan rumahnya. Mendadak rasa khawatir langsung merayapi hati leon. Leon takut jika kedatangan santi ternyata membawa masalah. Apa lagi santi sangat marah padanya dan alesia. Leon juga khawatir jika ternyata kedatangan santi justru berniat untuk marah dan mencaci istrinya. Leon tidak mau alesia sedih juga tertekan kembali karna sikap santi.
Leon buru buru turun dari mobilnya. Leon bahkan berlari saat memasuki rumahnya. Leon mengedarkan pandanganya begitu sampai di dalam rumah. Dalam diam leon mencoba mencari keberadaan istrinya. Mulai dari ruang keluarga, ruang bersantai, meja makan, bahkan sampai dapur dan taman samping rumah. Namun leon tidak menemukan siapapun disana termasuk mbak sari.
“Alesia !! Alesia !!”
Leon berlari menaiki anak tangga dengan terus berteriak memanggil nama istrinya. Leon benar benar tidak bisa tenang sekarang. Tantenya berada di rumahnya.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya leon langsung masuk. Namun langkahnya terhenti. Leon terdiam menatap santi yang sedang menyuapi alesia yang terbaring di atas ranjang.
Leon mematung di tempatnya. Melihat santi yang begitu telaten menyuapi alesia yang jelas sangat di bencinya merupakan sesuatu yang sangat langka.
“Lain kali jangan gegabah. Kamu tidak sendiri. Untuk apa repot repot membersihkan rumah kalau sudah ada asisten rumah tangga.” Dumel santi.
“Tapi kan tante..”
“Jangan protes atau saya pukul kamu.” Sela santi galak.
“Dan satu lagi. Kalau mau milih pria jadi suami itu harus suami yang dewasa. Yang pengertian. Yang bisa manjain kamu. Juga bisa selalu ada buat kamu. Bukan pria yang selalu sibuk di luar tanpa kabar.”
Leon mengangkat sebelah alisnya mendengar sindiran santi. Leon tau santi mengatakanya sebagai sindiran untuk dirinya. Tapi leon tidak merasa seperti yang santi sindirkan. Leon tidak pernah tidak ada kabar. Leon juga selalu berusaha ada untuk alesia.
Apa maksudnya?
Santi melirik leon yang terdiam dan berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu kemudian kembali menyuapkan makanan pada alesia yang dengan senang hati menerimanya. Santi memang galak. Tapi toh nyatanya santi perduli padanya. Pikir alesia.
“Eemm.. Tante..”
Leon mendekat ke ranjang dan duduk di tepinya. Entah apa yang terjadi sehingga tiba tiba santi datang juga istrinya yang tampak lemah berbaring di atas ranjang.
“Kamu gimana sih leon, istri kamu lagi sakit tapi kamu malah sibuk di luar sana.”
Leon menatap alesia. Padahal pagi sebelum leon berangkat alesia tampak baik baik saja dan sama sekali tidak mengeluhkan apapun.
Leon kemudian meraih tangan alesia dan menggeggamnya lembut.
__ADS_1
“Bagian mana yang sakit?”
Leon sebenarnya bingung. Kalau memang alesia sakit kenapa alesia tidak menghubunginya. Dan kenapa tiba tiba santi bisa datang.
“Aku nggak papa kak..” Jawab alesia tersenyum.
“Tadi alesia telpon tante nggak tau pake nomor siapa. Dia nangis katanya sakit perut. Dan karna tante orang yang baik. Tante datang kesini.” Kata santi.
“Sepertinya alesia mengalami kram pada perutnya.” Lanjut santi.
Leon hanya diam. Di lihat dari ekspresi alesia sepertinya apa yang santi katakan tidak benar sama sekali. Bukan menganggap santi berbohong. Hanya sepertinya santi memang salah mengerti dengan keadaan alesia sekarang.
“Kamu kurangi aktivitas kamu di luar sana. Pentingin istri kamu.”
Alesia benar benar merasa tersentuh. Padahal apa yang alesia katakan hanya sebuah kebohongan. Tapi santi bisa begitu serius menanggapinya bahkan sampai menyindir leon. Dari situ alesia tau bahwa santi memang benar benar orang yang baik. Dan santi diam diam juga perduli dan menyayanginya.
“Sudah, saya ada janji.”
Saat santi hendak menaruh piring yang di pegangnya, tiba tiba mbak sari datang dan mengetuk pintu yang memang tidak di tutup oleh leon.
“Ada apa mbak?” Tanya leon menoleh.
Mendengar itu kedua mata santi membulat. Sebelumnya santi memang ada janji dengan rico. Dan sebelum pergi tadi santi sempat berpesan pada bi inah untuk mengatakan bahwa santi ada di rumah alesia jika rico datang.
“Eemm.. Oke.. Saya juga sudah mau pergi. Kamu disini aja leon, temani alesia.” Kata santi cepat.
Santi menaruh piring yang sudah kosong di atas nakas kemudian meraih tas kecilnya. Santi juga tidak lupa mengambil kunci mobilnya kemudian berlalu keluar dari kamar leon dan alesia.
“Ale.. Sebentar..”
Leon bangkit dari duduknya. Pria tampan itu buru buru melangkah menyusul santi yang keluar begitu saja dari kamarnya. Leon tidak ingin menyia nyiakan kesempatan tersebut. Leon ingin meminta maaf pada santi karna sudah membuatnya kecewa.
“Tante tunggu.”
Santi menghentikan langkahnya tepat di depan tangga. Wanita itu menghela nafas kemudian membalikan tubuhnya menatap jengah pada leon.
__ADS_1
“Apa lagi?” Tanyanya.
Leon terdiam sesaat. Leon tau santi diam diam juga menyayangi istrinya.
“Aku minta maaf untuk semua yang aku lakuin yang membuat tante kecewa. Dan aku juga mau berterimakasih karna tante sudah mau membantu alesia hari ini.”
“Hhh.. Sudahlah. Yang penting kamu jaga istri kamu. Tante pulang.”
Leon hendak membuka kembali mulutnya untuk berkata sesuatu tetapi santi sudah lebih dulu berlari menuruni anak tangga meninggalkanya. Leon menghela nafas kemudian tersenyum. Leon yakin meskipun merasa kecewa tapi santi masih perduli dan sayang padanya.
Setelah santi tidak lagi terlihat leon pun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menemani alesia.
Leon masuk ke dalam kamarnya dan menatap alesia yang diam dan berbaring di atas ranjang. Leon melangkah mendekat kemudian naik ke atas ranjang dan langsung memeluk tubuh alesia dari samping.
“Kak..”
“Apa ada sesuatu yang aku tidak tau?”
Alesia meringis. Leon pasti bisa membaca kebohonganya kali ini.
“Maaf.. Aku bohong sama tante.” Kata alesia jujur.
Leon tersenyum. Leon tidak marah. Toh karna kebohongan alesia juga akhirnya leon bisa bertatap muka langsung dengan santi. Dan lagi berkat kebohongan alesia pula leon menjadi semakin yakin bahwa santi memang mempunyai kasih sayang untuk alesia. Kasih sayang yang memang tidak pernah terlihat.
“Apa yang kamu katakan sampai tante datang kesini?”
Alesia melepaskan diri dari pelukan leon. Alesia menatap leon penuh sesal. Leon mungkin marah karna alesia berani membohongi santi.
“Aku menelpon tante dan bilang sakit perut. Aku juga nggak nyangka banget tante benar benar dateng.”
Alesia menghela nafas. Niat awalnya adalah ingin menanyakan langsung pada santi tentang siapa bramono. Tapi alesia lupa dengan niatnya karna terlena dengan kebaikan santi padanya.
Leon tertawa pelan. Leon menangkup kedua pipi chuby alesia kemudian mengecup lembut kening alesia.
“Kamu tau, itu artinya tante juga sayang sama kamu. Tante hanya belum bisa melawan egonya sendiri. Tante perduli dan tidak mau kamu kenapa napa.”
__ADS_1
Kali ini alesia tidak bisa menyangkal. Ucapan suaminya benar. Santi datang dengan wajah khawatir dan langsung mencari keberadaanya. Santi bahkan sampai membentak mbak sari yang memang tidak tau menau tentang rencana alesia.
Tante.. Terimakasih