
Leon mengeryit melihat wajah berseri seri alesia. Baru kali ini leon melihat wajah cerah penuh kebahagiaan yang terpancar begitu jelas di wajah cantik alami istrinya.
“Kamu kenapa sih ale? Bahagia banget kayanya.”
Alesia tersenyum.
“Kamu nggak suka liat aku seneng?”
“Ya bukan begitu.. Cuma nggak biasanya aja kamu tebar senyum. Kamu bahkan sendok aja di senyumin loh tadi.”
Alesia tertawa mendengarnya. Leon terlalu melebih lebihkan.
“Apaan sih kamu kak. Nggak begitu juga kali. Berlebihan banget.”
Leon ikut tertawa. Leon senang melihat istrinya yang terlihat sangat berseri seri. Tapi leon juga penasaran dan ingin tau apa yang membuat istrinya begitu sangat bahagia.
“Ya udah makanya ceritain dong sama aku. Jadi aku nggak penasaran terus..”
Alesia mengambilkan lauk untuk leon dan menaruhnya di atas piring yang berada di hadapan leon saat ini. Ya, tidak lama setelah santi pergi leon memang pulang untuk makan siang.
“Tadi tante kesini kak.”
Leon mengangkat sebelah alisnya. Leon tidak percaya jika alesia bahagia hanya karna kedatangan santi. Leon tau bagaimana hubungan tantenya dan alesia.
“Karna itu?” Tanya leon penasaran.
Alesia mengangguk sambil menyuapkan nasi dan sayur ke dalam mulutnya.
“Tante kesini bawa banyak tentengan tau. Ada susu hamil, baju baju buat anak kita, terus cemilan sehat. Ah iya baby stoler juga.”
Leon mengangkat sebelah alisnya.
“Jam berapa tante datang? Kok nggak nungguin aku?”
Alesia melirik leon yang menatapnya penuh tanda tanya.
“Karna yang memang mau tante temui itu aku kak. Bukan kamu.”
Leon berdecak merasa jengkel. Santi memang sudah jarang menghubunginya. Santi juga tidak pernah datang untuknya.
“Kamu tau nggak kak apa yang tante tanyakan sama aku?” Tanya alesia menaik turunkan alisnya menatap leon.
Leon menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Apa?"
__ADS_1
“Rico.” Jawab alesia tersenyum penuh arti.
“Rico?”
“Ya. Tante datang kesini untuk bertemu sama aku dan bertanya tentang rico.” Senyum alesia.
Leon memutar jengah kedua bola matanya. Leon memang pernah melihat sendiri rico dan santi jalan bersama di mall. Tapi jika keduanya punya hubungan khusus rasanya tidak mungkin. Apa lagi rico jauh lebih muda dari santi. Bahkan mungkin juga lebih muda dari leon.
“Nanya apa emangnya?”
“Tante nanya rico sudah punya pacar apa belum.”
Leon langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Itu artinya hubungan santi dan rico belum sampai ke tahap yang begitu dekat. Tapi menanyakan tentang rico yang sudah memiliki pasangan atau belum itu sangat berlebihan.
Apa tante menyukai pria itu?
“Oh iya aku belum jelasin yah. Jadi gini kak tante sama rico itu lagi bersandiwara. Mereka pura pura menjadi pasangan di depan orang yang sangat tidak di sukai tante. Aku tebak sih mungkin di depan pria yang saat itu tidak sengaja bertemu di rumah sakit.”
Itu bramono. Leon yakin santi memang sengaja menghindari bramono yang terus mengejarnya. Santi sengaja menyuruh rico untuk berpura pura agar bramono berhenti mengejarnya.
Jadi ini yang di maksud bramono saat itu?
Bramono memang pernah datang langsung menemui leon dan menanyakan tentang santi dan rico.
Leon menatap alesia sesaat kemudian kembali menyantap makananya.
“Aku kan tidak tau rico itu orangnya bagaimana. Jadi aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini.”
“Oh iya yah.. Kamu kan nggak ingat tentang rico.”
Alesia menghela napas. Andai suaminya tidak kehilangan separuh dari ingatanya mungkin leon akan marah dan tidak setuju santi dekat dengan rico.
“Sudahlah aku malas bahas sesuatu yang aku tidak tau. Bagaimana kalau kita bahas tentang kita saja?”
Leon sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Leon merasa muak hanya dengan mendengar nama rico. Entah kenapa wajah pria itu saat curi pandang pada alesia selalu terbayang jika mendengar namanya di sebut.
“Tentang kita? Tentang apa?” Tanya alesia bingung.
“Ya kamu bisa ceritain tentang kita dulu.”
Alesia terdiam. Menceritakan tentang mereka yang dulu hanya akan membuat alesia merasa sedih. Apa lagi jika mengingat leon yang memintanya untuk terus mengerti dan bersabar.
“Loh kenapa? Kok diem?” Tanya leon bingung.
Alesia menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
“Nggak papa kak. Setelah ini apa kamu mau balik lagi ke kantor?”
“Ya. Aku ada metting dengan para kolega. Kamu istirahat yah.. Jangan melakukan apapun yang membuat kamu merasa lelah.”
“Ya kak..” Angguk alesia tersenyum tipis.
-----
Sementara itu santi yang sudah berada di depan rumah rico menghela napas. Wanita itu keluar dari mobilnya. Santi menatap sekitar rumah kecil itu. Rumah rico jauh dari para tetangga yang lain.
Dia di rumah nggak ya?
Santi menatap rumah rico yang tampak sepi. Santi sudah datang ke tempat pemotretan tapi rico tidak ada. Saat bertanya pada kru mereka mengatakan rico tidak masuk hari ini.
“Motornya nggak ada. Apa di dalem?”
Pelan pelan santi melangkahkan kakinya. Saat sampai di depan pintu bercat hijau tua itu santi terdiam. Santi ragu saat hendak mengangkat tanganya untuk mengetuk pintu. Terakhir bertemu dengan rico santi pergi dan marah marah pada rico. Santi bahkan meninggalkan rico tanpa memikirkan bagaimana rico pulang karna motor rico berada di depan gedung perusahaanya.
“Tapi.. Bagaimana kalau ternyata dia marah dan sengaja bersembunyi agar tidak bertemu denganku?”
Santi mulai pesimis. Kemarahanya pada rico malam itu karna rico mengingatkanya untuk tidak berteriak pada alesia. Dan setelah santi kembali berpikir apa yang di katakan rico memang benar. Santi tidak seharusnya berteriak pada alesia lewat sambungan telpon saat itu.
“Bu.”
Santi mengeryit. Berlahan santi membalikan badanya dan tersenyum tipis saat ada seorang ibu muda yang berdiri di samping mobilnya.
“Maaf ibu kesini mau mencari rico yah?”
Santi menyipit tidak suka dengan panggilan ibu yang di lontarkan oleh wanita muda di depanya. Santi bukan seorang ibu. Santi seorang tante.
“Kalau ibu mencari rico, riconya sedang tidak di rumah bu.. Rico sedang pulang. Adiknya sakit. Dan dia harus pulang.”
“Apa?!”
Santi terkejut mendengarnya. Rico tidak mengatakan apapun saat bertemu denganya. Rico juga tidak menghubunginya lebih dulu sebelum memutuskan untuk pulang.
“Ya sudah bu, kalau begitu saya permisi.”
Wanita muda itu kemudian melenggang pergi meninggalkan santi yang masih diam di depan pintu rumah sederhana rico.
“Aku harus telpon dia.”
Santi mendudukan dirinya di kursi yang ada di teras depan rumah rico. Santi kemudian merogoh tasnya dan mengambil hp nya untuk menghubungi rico. Sekali bahkan sampai tiga kali santi menelpon rico tapi tetap saja tidak di angkat oleh rico. Hal itu membuat santi semakin kesal.
“Dasar bocah menyebalkan.”
__ADS_1